Malangtimes

Enggan Pindah sejak 2003, Warga Sitiarjo Pilih Pantau Sistem Peringatan Dini guna Antisipasi Banjir

Oct 26, 2022 09:34
Salah satu warga Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumawe, Kabupaten Malang, saat membersihkan rumahnya dari material banjir. (Foto : Ashaq Lupito / Jatim TIMES)
Salah satu warga Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumawe, Kabupaten Malang, saat membersihkan rumahnya dari material banjir. (Foto : Ashaq Lupito / Jatim TIMES)

JATIMTIMES - Meski wilayahnya menjadi lokasi paling rawan mengalami bencana kebanjiran, warga Desa Sitiarjo -khususnya yang tinggal di Dusun Rowotrate, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang- tetap enggan untuk pindah tempat tinggal.

Sebaliknya, para warga justru memilih bertahan meski ada tawaran dari pemerintah untuk pindah sejak tahun 2003 lalu. "Soalnya warganya memang tidak mau di pindah. Dulu pernah tahun 2003 mau dibedol desa (dipindahkan), tidak mau. Bagaimanapun, apa pun yang terjadi, tetap mau di sini. Jadi, warga itu tidak mau dipindah atau dipindahkan," kata Kepala Desa (Kades) Sitiarjo Mamiek Misniati saat ditemui di posko tanggap farurat banjir Sitiarjo.

Menanggapi penolakan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui pemerintah desa (pemdes) memilih untuk terus mengimbau kepada warga agar lebih waspada. Salah satunya dengan rutin memantau EWS (early warning system).

"Jadi, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan saat bencana banjir datang, kami lebih memberikan imbauan kepada warga. Saat ini kan juga sudah ada EWS. Jadi, warga bisa lebih antisipasi," ucapnya.

Sekadar informasi, EWS merupakan sistem peringatan dini yang diaplikasikan melalui remote station. Adanya sensor level air yang diletakkan di daerah aliran sungai dengan ketinggian tertentu bisa menjadi sebuah indikator luapan air sungai. Nantinya sensor tersebut akan mengirimkan data ke master station.

Selain memantau perkembangan debit air melalui EWS, mayoritas warga Desa Sitiarjo sudah membangun fondasi rumah yang lebih tinggi daripada rumah umumnya. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi banyaknya debit air yang masuk ke rumah saat bencana banjir.

"Di sana kan warga juga bangunannya ada yang lebih tinggi. Tapi kan namamya banjir, kita juga tidak tahu ya sampai di mana dampaknya. Kan Dusun Rowotrate itu (letak geografisnya) lebih rendah," imbuhnya.

Sejauh ini, lanjut Mamiek, meski menjadi daerah paling rawan kebanjiran,  tidak ada korban jiwa maupun luka-luka yang terjadi pasca-adanya bencana banjir sejak Sabtu (15/10/2022) lalu. Hal itu dikarenakan warga sudah sangat siap jika sewaktu-waktu terjadi banjir.

"Desa Sitiarjo kan rawan banjir. Jadi, kalau untuk mengantisipasi, ya dari warganya masing-masing itu kalau terjadi banjir sudah siap mengantisipasi. Biasanya sebelum banjir, barang milik warga sudah diamankan dan diletakkan di tempat yang lebih tinggi. Mereka punya tempat penyimpanan khusus banjir di setiap rumah warga," pungkasnya.

Sebagaimana yang telah diberitakan, dalam sebulan, yakni pada Oktober 2022, bencana banjir di Desa Sitiarjo sedikitnya sudah terjadi sebanyak dua kali. Pertama pada Sabtu (15/10/2022).

Meski sempat surut, banjir susulan kembali terjadi pada Senin (17/10/2022). Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menyebut, sampai saat ini sedikitnya ada 1.420 kepala keluarga (KK) di Desa Sitiarjo yang terdampak bencana banjir.

Terpantau, hingga Rabu (26/10/2022) mayoritas material banjir yang sempat menggenangi rumah warga serta beberapa titik lokasi yang terdampak banjir di Desa Sitiarjo sudah tertangani.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru