Malangtimes

Sederet Diagnosa Alm Farzah Korban Tragedi Kanjuruhan: Pembengkakan Otak hingga Covid-19

Oct 24, 2022 15:58
Proses pemakaman jenazah korban meninggal ke-135 Tragedi Kanjuruhan, Farzah Dwi Kurniawan.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Proses pemakaman jenazah korban meninggal ke-135 Tragedi Kanjuruhan, Farzah Dwi Kurniawan.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Warga Jl. Sudimoro Utara Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Farzah Dwi Kurniawan Jhovando menjadi korban ke 135 dalam Tragedi Kanjuruhan.

Farzah menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (23/10/2023) malam. Setelah selama 22 hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. 

Selama menjalani perawatan tersebut, pihak RSSA Malang mencatat ada sederet diagnosa yang dialami oleh Farzah. Setidaknya ada 9 diagnosa yang dinilai saling berkaitan hingga membuat Farzah meninggal dunia. 

Diantaranya trauma otak, infeksi paru (pneumonia), syok sepsis, observasi kejang, patah tulang sphenoidalis, pembengkakan otak hingga gagal nafas. 

"Namun, diagnosa akhirnya adalah gagal nafas, Covid-19, dan pembengkakan otak," ujar Kepal Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang drg. Wiyanto Wijoyo, Senin (24/10/2022) siang. 

Menurut Wiyanto, konfirmasi positif Covid-19 yang ada di Farzah itu memang dikarenakan hasil test PCR nya mengatakan hasil positif Covid-19. Menurutnya, hal itu dinilai menjadi salah satu sebab yang memperparah kondisi Farzah. 

"Sehingga turut memperparah dalam proses perawatan medis korban. Karena, Covid-19 pastinya menghambat masuknya oksigen terhadap tubuh korban," terang Wiyanto.

Ia lantas menjelaskan kronologis Farzah selama dirawat di RSSA Malang. Di mana dari catatan yang ia terima, Farzah mulai dirawat di RSSA Malang sejak Selasa (2/10/2022) dini hari. 

"Saat itu pasien (Farzah) dirujuk dan masuk e HCU (High Care Unit) RSSA. Karena dikategorikan mengalami luka berat," imbuh Wiyanto. 

Setelah itu pada 4 Oktober 2022, Farzah dilakukan CT Scan. Dan dari sana, didapati sejumlah diagnosa lanjutan. Yakni pembengkakan otak, patah tulang dan infeksi pada paru-paru. 

"Saat itu, Farzah dipindah ke ruang ICU (Intensive Care Unit), karena kondisinya menurun," kata Wiyanto. 

Kemudian 6 Oktober 2022, hasil swab PCR Farzah keluar. Dan hasilnya, Farzah dinyatakan positif Covid-19. Dengan kondisi tersebut, Farzah dipindah ke ruang ICU Infeksi. 

"Saat itu dipasang ventilator. Pada tanggal 10 Oktober dia dipindah ke ruang HCU. Dan tanggal 21 Oktober, ventilator yang terpasang di tubuhnya dilepas," jelas Wiyanto. 

Namun ternyata, kenyataan berkata lain. Pada tanggal 23 Oktober, kondisi Farzah menurun hingga terpaksa kembali dipindah ke ruang ICU. Sekaligus, juga kembali dipasang ventilator. 

Namun, kondisi Farzah yang semakin menurun, membuat ia harus berpulang tepat pada pukul 22.50 WIB. Dengan diagnosa trauma kepala, pembengkakan otak, infeksi paru, luka di otak infeksi yang meluas, observasi kejang dan patah tulang spenoigalis kiri.

"Jadi perawatan pasien (Farzah) totalnya selama 22 hari," tegas Wiyanto. 

Menurut Wiyanto, kondisi tersebut dinilai cukup kompleks. Sehingga saling berkaitan menyebabkan menurunnya kondisi korban hingga akhirnya meninggal dunia. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru