Malangtimes

Kemenkes Stop Sementara Pembelian Obat Sirup, Ini Tips Atasi Demam Tanpa Minum Obat dari Dokter Apin 

Oct 20, 2022 12:28
Dokter Spesialis Anak Tumbuh Kembang dr Arifianto, Sp.A (K) (sumber Instagram dokter Apin)
Dokter Spesialis Anak Tumbuh Kembang dr Arifianto, Sp.A (K) (sumber Instagram dokter Apin)

JATIMTIMES - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan instruksi agar seluruh apotek di Indonesia memberhentikan sementara penjualan obat dalam bentuk sirup kepada masyarakat. 

Bukan hanya sirup pereda demam (antipiretik) atau paracetamol saja namun semua jenis obat dalam bentuk sirup atau cair dilarang sementara untuk dikonsumsi. 

"Setelah didiskusikan dengan seluruh pihak, sesuai surat edaran yang dikeluarkan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, semua obat sirup atau obat cair bukan hanya paracetamol," ungkap Juru Bicara Kemenkes saat konferensi pers pada Rabu (19/10/2022) dikutip dari cnbcindonesia.com.

Atas instruksi dari Kemenkes itulah beberapa dokter anak di Indonesia memberikan tips mengatasi demam tanpa obat cair. Salah satunya dari dr Arifianto, Sp.A (K) atau dikenal di media sosial dengan dokter Apin. 

Menurut dokter Apin dengan mengutip salah satu penelitian menyebutkan bahwa antipiretik tidak terbukti dapat mencegah berulangnya kejang akibat demam. 

"Bagi anak yang pernah / mengalami kejang demam (sederhana), dan khawatir bisa berulang kembali karena usianya masih dibawah 5 tahun, juga khawatir dengan konsumsi antipiretik terkait pemberitaan, singkatnya, bukti ilmiah menyatakan: antipiretik TIDAK terbukti dapat mencegah berulangnya kejang demam," ungkap dokter Apin melalui Instagramnya. 

Nah apakah ketika obat persediaan sirup dilarang, kemudian masyarakat beralih ke puyer (obat serbuk). 

"Murni jawaban pribadi saya selaku praktisi kesehatan, no, no, no bukan itu solusinya," kata dokter spesialis anak tumbuh kembang tersebut. 

Beberapa contoh disebutkan dokter Apin bahwa anak yang demam tidak harus minum antipiretik (pereda demam), selama fungsi pengatur suhu di hipotalamus otak berfungsi baik, maka demam akan turun sendirinya. 

"Kemarin di story, memang masih dalam penyelidikan apa penyebabnya (obat sirup diberhentikan pengederannya). Apakah dari kandungan dalam obat sediaan cair? Atau salah satu kemungkinan, yang sebenarnya masih dalam penyelidikan. Untuk kewaspadaan dini, sehingga ada kehati-hatian menggunakannya? Itu hal yang bisa dilakukan, apalagi kalau sudah ada anjuran dari pihak berwenang," terangnya. 

Jika masih khawatir terkait demam yang terjadi pada anak tanpa minum obat antipiretik, maka yang haru dilakukan adalah kembali ke prinsip penanganan demam. 

"Kenapa seseorang bisa demam? Apa yang dikhawatirkan dari demam? Langkah pertama bukanlah menurunkan suhu, tapi mengobservasi apa penyebabnya, dan mencegah dehidrasi dengan kasih cairan alias minum yang cukup," tegas dokter Apin. 

Jadi ditegaskan dokter spesialis anak cukup vokal di media sosial itu masalahnya bukan mengganti obat sirup menjadi puyer, tetapi perlukah sebenarnya antipiretik untuk demam. 

"Khawatir kejang demam? Kan sudah berkali-kali dijelaskan dan dibuktikan dalam berbagai literatur ilmiah sahih: antipiretik terbukti tidak dapat mencegah berulangnya kejang demam! Ini ilmu berbasis bukti (evidence based),"ucapnya. 

Terkait fakta puyer, dokter Apin menjelaskan, 8 dari 10 ahli menyebutkan bahwa dalam konsep penggunaan obat rasional (RUM) diberikan dalam sediaan tunggal (bukan polifarmasi atau terdapat lebih dari satu obat dalam satu puyer/racikan/campuran/cocktail).

"Untuk obat-obatan yang memang tidak ada sediaan cairnya. Untuk apa menggerus obat, kalau memang ada sediaan cairnya? Kalau memang tidak ada sediaan cair, misalnya obat levotiroksin untuk anak hipotiroid kongenital yang harus diminum bertahun-tahun, atau pasien-pasien saya dengan epilepsi yang butuh topiramat," tandasnya. 

Oleh karenanya, dokter Apin menegaskan bahwa masyarakat harus memahami konsep demam dan penyakit langganan anak. 

"Dan tahu kegawatdaruratan dan kapan harus ke dokter serta bijak dalam menggunakan obat," tutur dokter yang tempat praktiknya di Jakarta Timur tersebut. 

Bahkan dokter Apin juga menjelaskan betapa sulitnya apoteker harus meracik puyer. 

"Teman-teman apoteker dan asisten apoteker pasti bisa cerita bagaimana cara pembuatan puyer. Hehehe. Betapa susahnya, membagi dosis ke beberapa kertas puyer mengandalkan mata dan pastinya distribusi dosis tidak merata, belum lagi risiko higiene dalam penyiapan obat di kertas puyer tadi, termasuk stabilitas obat. Kawan-kawan farmasi jauh lebih paham," ungkapnya. 

Sekali lagi dokter Apin menegaskan yang harus dilakukan masyarakat saat ini adalah pelajari dasar-dasar ilmu kesehatan yang bisa diakses di platform digital. 

"Semua kasus ini masih under investigation, jadi pelajari dasar-dasar ilmu kesehatan anak yang bisa diakses ilmunya di berbagai platform. Kemudian pahami tanda kegawatdaruratan pada anak, dan tahu kapan harus ke dokter. Serta praktikkan Rational Use of Medicine (RUM), atau istilah penggunaan obat yang rasional," tutup dokter Apin. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru