Malangtimes

Batik Sandhya Nusantara, Produk Asal Kota Malang yang Tonjolkan Filosofi Pohon Sukun

Oct 16, 2022 19:57
Pemilik Batik Sandhya Nusantara Nur Zanah saat memberikan pelatihan membatik. (Foto: Dok. Sandhya Nusantara for JatimTIMES)
Pemilik Batik Sandhya Nusantara Nur Zanah saat memberikan pelatihan membatik. (Foto: Dok. Sandhya Nusantara for JatimTIMES)

JATIMTIMES- Batik Sandhya Nusantara merupakan produk batik asli dari wilayah Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Batik Sandhya Nusantara telah berkiprah sejak tahun 2014 dimotori oleh sang pemilik Nur Zanah atau yang biasa disapa Nena Bachtiar

Nena pun kemudian menceritakan awal mula terbentuknya Sandhya Nusantara. Bermula dari kecintaannya dengan batik sejak tahun 2013 ketika masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kota Malang, Nena kemudian secara mandiri mencari tempat-tempat pelatihan membatik. 

Akhirnya dari tempat pelatihan satu ke tempat pelatihan membatik lainnya dirinya bisa membatik dan mulai memberdayakan para perempuan di wilayah Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang dengan membatik. 

"Akhirnya kita kembangkan sendiri karena kita ingin menjadi UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang mandiri tidak bergantung ke siapapun," ujar Nena kepada JatimTIMES.com, Minggu (16/10/2022). 

Latihan membatik.

Kemudian, dari keahlian membatik itu, dirinya membuat merek batik yang memiliki makna mendalam, yakni Sandhya Nusantara. Menurutnya, jika diartikan dalam Bahasa Sansekerta, Sandhya bermakna cahaya. Ia ingin, nantinya Batik Sandhya Nusantara menjadi cahaya dan motivasi masyarakat di seluruh Indonesia. 

"Tapi kalau dari Bahasa Jawa klasik itu Sandhya artinya Sandi, jadi apa rahasia di Nusantara ini harus kita gali dan kita kembangkan juga kita berdayakan," terang Nena. 

Pihaknya mengatakan, dalam setiap produk Batik Sandhya Nusantara, pasti selalu menonjolkan bagian dari Pohon Sukun. Hal itu sesuai tempat berasalnya Batik Sandhya Nusantara yakni dari wilayah RW 03, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang. 

Selain itu, di wilayah Kecamatan Sukun juga banyak tumbuh Pohon Sukun. Di mana Pohon Sukun sendiri menurutnya memiliki makna pohon kehidupan. "Di mana mulai dari akar, batang, daun dan lain sebagainya itu bisa dimanfaatkan. Di motif kami selalu ada yang dari Pohon Sukun, entah itu daunnya, batangnya atau pohonnya," jelas Nena. 

Jenis Batik Sandhya Nusantara.

Nena pun juga mengulas sekilas ketika Presiden RI pertama Ir Soekarno diasingkan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di mana terdapat Pohon Sukun yang juga turut dalam perumusan lima sila dalam Pancasila yang dicetuskan oleh Bung Karno. 

"Sila-sila Pancasila itu terinsipirasi dari Bung Karno waktu diasingkan di Pulau Ende merenung di bawah Pohon Sukun. Nah di Pohon Sukun ada lima cabang, itulah asal muasalnya lima sila di Pancasila," ujar Nena. 

Oleh karena itu, dengan dalamnya makna filosofis dari Pohon Sukun, dirinya pun terus mempertahankan motif batik dari Sandhya Nusantara dengan corak dari bagian Pohon Sukun. 

Namun, untuk lebih memberikan variasi terhadap motif-motif batik yang dihasilkan, dirinya bersama 10 hingga 25 orang pembatik aktif yang dilatih olehnya, juga diberikan motif kombinasi sesuai ciri khas dari wilayah ya masing-masing. 

Misalnya di wilayah RW 03, Kelurahan Sukun yang terkenal dengan Kampung Terapi Hijau maka kerap kali dikombinasikan dengan motif tentang kesehatan dari bahan-bahan alami. Seperti daun sirih hingga batuan untuk terapi. 

Motif Batik Sandhya Nusantara.

Untuk jenis Batik dari Sandhya Nusantara sendiri terdapat tiga jenis. Yakni batik tulis, batik cap dan kombinasi antara batik tulis dengan batik cap. Nena menegaskan, bahwa yang dapat dikatakan batik, merupakan proses pembatikan yang dilakukan dengan malam panas. 

"Kita ada batik tulis, batik cap dan kombinasi batik tulis dan cap. Itu yang bisa dinamakan batik. Kalau prosesnya yang tidak menggunakan malam panas itu tidak bisa dinamakan batik," tegas Nena. 

Untun harga dari setiap produk batik Sandhya Nusantara beragam, menyesuaikan dengan model dan jenis batik. Untuk Batik tulis dibanderol dengan harga Rp 500 ribu ke atas. Sedangkan untuk batik cap sekitar Rp 250 ribu. Dirinya pun juga melayani motif batik sesuai permintaan konsumen dengan menyesuaikan biaya yang telah disiapkan. 

"Paling mahal itu batik motif kustom ya, kisaran Rp 2 juta ke atas sampai Rp 3 juta. Itu motif batik tulis klasik dan motif custom Pohon Sukun. Itu yang pesan dari Semarang. Mereka kalau udah custom tidak mau di duplikasi. Jadi one product," tutur Nena. 

Batik Sandhya Nusantara sendiri saat ini telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia bahkan tembus ke luar negeri. Untuk di Indonesia, produknya telah dipakai di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Kalimantan, Semarang hingga Surabaya. 

Sedangkan untuk di wilayah luar negeri, produk Batik Sandhya Nusantara telah beredar di Malaysia hingga ke Inggris. Untuk di Malaysia biasanya pesan dalam bentuk syal atau kemeja. "Insya Allah ke depan rencana tahun depan ada promo ke Taiwan, mohon doanya," kata Nena. 

Batik Sandhya Nusantara di Inggris.

Sementara itu, untuk masyarakat dari dalam maupun luar Kota Malang yang ingin melihat ataupun membeli produk Batik Sandhya Nusantara dapat berkunjung ke Omah Batik yang terletak di Jalan S Supriadi 2C Nomor 14, RT 03/RW 03, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Selain itu masyarakat juga dapat melihat katalog dari Batik Sandhya Nusantara melalui akun instagram @sandhyanusantara_. 

"Proses penjualan kita online juga ada. Kita juga kewat KIM Nukus untuk mempromosikan. Ke depan kita juga kepingin ada galeri di kelurahan untuk menampilkan produk kami," pungkas Nena. (Kom)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru