Malangtimes

Guru Besar Pertama Ilmu Geofisika UB Beberkan Potensi Geotourism di Malang Selatan

Oct 14, 2022 14:23
Guru besar pertama dalam bidang Ilmu Geofisika UB Prof Drs Adi Susilo MSi PhD saat memberikan pemaparan terkait potensi Geotourism Malang Selatan di Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) KE-47, Kamis (13/10/2022). (Foto: Dok. Istimewa)
Guru besar pertama dalam bidang Ilmu Geofisika UB Prof Drs Adi Susilo MSi PhD saat memberikan pemaparan terkait potensi Geotourism Malang Selatan di Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) KE-47, Kamis (13/10/2022). (Foto: Dok. Istimewa)

JATIMTIMES - Guru besar pertama dalam Bidang Ilmu Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya (UB) Prof Drs Adi Susilo MSi PhD membeberkan potensi geotourism di wilayah Kabupaten Malang, tepatnya di kawasan Malang Selatan. 

Adi menjelaskan, di kawasan Malang Selatan memiliki potensi geotourism yang tinggi. Di mana kawasan Malang Selatan memiliki dua jenis batuan yang tercipta dari gugusan gunung berapi dan lautan dari belasan hingga puluhan juta lalu. 

"Jadi selatan itu dulunya laut tetapi di situ juga ada gugusan gunung api," ujar Adi kepada JatimTIMES.com, Jumat (14/10/2022). 

Menurutnya, terdapat beberapa cara untuk mengetahui sebuah kawasan tersebut berasal dari gugusan gunung api maupun lautan. Salah satunya dengan melihat jenis, warna dan bentuk batuan yang berada di wilayah tersebut. 

"Kalau batuan di situ batu hitam, itu berarti gunung api. Kalau di daerah tersebut batunya batu putih atau batu kapur itu berarti dulunya adalah laut," terang Adi. 

Adi pun bercerita, ketika dirinya melakukan penelitian ke kawasan Malang Selatan, tepatnya di Gunung Perkul, di selatan Kecamatan Gedangan, ternyata kawasan tersebut merupakan gugusan gunung api. Karena di puncak gunung terdapat batuan beku atau batuan hitam. 

"Sekitar 19 sampai 20 juta tahun yang lalu terjadi itu. Kalau gunung api yang di utara, ini kan mudah, mungkin 4 sampai 5 juta tahun yang lalu (terjadi)," tutur Adi. 

Foto bersama.

Selain itu, beberapa Pantai di Malang Selatan juga dulunya merupakan gugusan gunung api. Salah satunya Pantai Banyu Anjlok. Di mana di pantai tersebut terdapat batuan beku atau batuan hitam besar yang menandakan di lokasi tersebut merupakan gugusan gunung api. 

Adi menjelaskan, air yang berasal dari kawasan bekas gugusan gunung api, maka air tersebut cenderung segar. Sedangkan air yang berasal dari kawasan batuan kapur jika direbus di panci akan meninggalkan kerak pada panci. 

Lebih lanjut, Adi pun memberikan patokan kawasan yang masuk dalam kawasan batuan hitam dan batuan kapur, yakni di Kali Lesti. Terlebih lagi, Adi yang dilahirkan di Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan yang dulunya Kecamatan Bantur pun menceritakan terkait kualitas air di utara maupun selatan Kali Lesti. 

"Mulai dari selatannya Kali Lesti itu kan semuanya kapur, dulu saya waktu kecil kalau orang tua saya memasak air kok berkerak ya, sedangkan kalau saya di utaranya Kali Lesti di Desa Clumprit, Gondanglegi kalau masak air di sana kok bersih ya, ternyata memang beda," terang Adi. 

"Kalau di selatan Kali Lesti itu adalah daerah kapur makanya kalau di masak itu tempatnya berkerak dan itu ciri khas air laut, kalau di utara (Kali Lesti) itu daerah vulkanik dari lahar gunung api makanya airnya bersih," imbuh Adi. 

Pihaknya pun menegaskan, bahwa geotourism di Malang Selatan lebih diutamakan untuk para turis petualang. Karena menurutnya, jika bukan turis petualang, akan terasa berat dengan jalur menuju kawasan geotourism di Malang Selatan. 

Lebih lanjut, Adi pun memberikan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang agar dapat mengelola potensi goetourism di Malang Selatan secara profesional dan tetap melakukan konservasi geologi. 

Pertama, Pemkab Malang selaku pemangku wilayah dapat menggandeng akademisi dan tenaga profesional dalam memberikan pengetahuan untuk mendidik masyarakat mengenai geotourism agar tidak rusak.

"Kedua, janganlah alam itu untuk kepentingan ekonomi, misalnya ditambang. Padahal potensi devisa untuk turis ketika itu memahami itu lebih tinggi dari pada sekadar menambang," ungkap Adi. 

"Ketiga, sangat potensi sekali karena di selatan dulunya ada gunung api itu yang mempunyai jenis batuan berbeda-beda, jenis mineral yang berbeda-beda," tandas Adi. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru