Malangtimes

Soal Gas Air Mata, Komnas HAM Minta Transparansi Dokumen Perencanaan Keamanan

Oct 06, 2022 09:17
Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam saat meninjau Gate 13.(Foto: Istimewa).
Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam saat meninjau Gate 13.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turut menelusuri Tragedi Kanjuruhan yang mengakibatkan 131 orang meninggal dunia pada Sabtu (1/10/2022) malam. Komnas HAM menelusuri adanya dugaan pelanggaran HAM dalam insiden memilukan tersebut. 

Terlebih soal isu terkuncinya pintu di Gate 13 dan penembakan gas air mata. Yang diduga menjadi salah satu pemicu kepanikan supporter Arema FC hingga terjadi kerusuhan. Dalam hal ini, Komnas HAM telah menemui berbagai elemen. Yakni supporter, keluarga korban hingga pemain Arema FC. 

"Eskalasi kekerasan ini kapan dimulainya. Kalau ada yang bilang bahwa eskalasi itu timbul saat supporter merangsek semua, eskalasi membesar, habis itu dimulai dengan yang di luar dan sebagainya, sampai sore ini kami mendapatkan informasi tidak begitu kejadiannya," ujar Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, Rabu (5/10/2022). 

Dari pertemuan yang ia gelar bersama beberapa supporter, korban luka, keluarga korban dan pemain Arema FC, ia mendapat keterangan bahwa ada tenggat waktu sekitar 20 menit setelah peluit panjang pertandingan Arema FC vs Persebaya berbunyi. Dimana pada rentang waktu itu suasana begitu kondusif. 

"Kalau ada yang bilang bahwa supporter itu mau nyerang pemain, kami bertemu dengan pemainnya, supporter, pemain bilang tidak ada kekerasan kepada pemain. Kami ketemu pemain yang terakhir meninggalkan lapangan hijau. Kami ketemu supporter yang masuk lapangan, juga enggak ada. Jadi ada waktu 15 sampai 20 menit, itu suasananya terkendali," jelas Anam. 

Yang menurutnya menjadi sebuah tanda tanya besar yakni, apakah di rentang waktu itu diperlukan gas air mata. Sebab berdasarkan keterangan yang ia terima, suasana saat itu kondusif. Apalagi, terkait isu yang beredar bahwa ada pemain yang mendapat cacian dan ancaman dari supporter tidaklah benar  

"Seharusnya ketika tata kelola keamanan ini baik, enggak akan ada peristiwa yang memilukan kita semua ini. Pemain ngomong ke kami (Komnas HAM), enggak ada luka, cacian atau ancaman. Cuma bilang semangat dan jangan menyerah," terang Anam. 

Untuk itu, dirinya meminta agar pihak terkait bisa membuka dokumen perencanaan keamanan. Tujuannya, untuk mengetahui kebutuhan keamanan yang direncanakan dalam laga Arema FC vs Persebaya. Termasuk kebutuhan personel, dan perlengkapan yang dibutuhkan.

"Kami minta dokumen perencanaan keamanan dibuka, statusnya apa. Kalau pembawa gas air mata itu brimob, kita lihat itu brimob biasa apa PHH (pasukan huru hara). Kalau memang PHH siapa yang minta, kami tahu dokumennya kami tahu tanggal pembuatannya, buka. Jadi tidak saling melempar siapa yang salah. Dengan buka dokumen, tidak hanya komnas, masyarakat juga akan tahu akar masalahnya dimana," pungkas Anam. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru