Malangtimes

Kompolnas Temukan Struktur Keamanan Bangunan Kanjuruhan yang Diduga Tak Standar

Oct 04, 2022 19:33
Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto.(Foto: Istimewa).
Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menemukan struktur keamanan bangunan Stadion Kanjuruhan yang diduga tidak standar. Hal tersebut ditemukan saat Komisioner Kompolnas melakukan investigasi di beberapa bagian Stadion Kanjuruhan.

Investigasi tersebut dilakukan untuk bisa mengusut tragedi Stadion Kanjuruhan yang terjadi saat pertandingan BRI Liga 1 antara Arema FC vs Persebaya pada Sabtu (1/10/2022) malam. Dalam tragedi tersebut setidaknya ada sebanyak 125 supporter Arema FC meninggal dunia. 

Pria yang akrab disapa Wahyu ini berkeliling melihat lokasi yang diperkirakan banyak supporter Arema FC yang bergelimpangan saat kejadian. Investigasi itu dilakukan di sekitar sektor tribun selatan. Atau diantara gate 10 sampai 14. 

Pintu gate 13 menjadi saksi ratusan suporter yang tergencet tak bisa keluar karena pintu gerbang yang tertutup dan terkunci. Dari video yang beredar, ratusan suporter tampak berdesak-desakan tak bisa keluar di antara kepulan asap gas air mata di tribun.

''Setelah kami lihat, dari sisi kemananan sangat lemah. Tidak ada tempat atau jalur evakuasi. Kalau diperhatikan saja, jika dalam keadaan normal saja sudah berbahaya, apalagi pas darurat,'' ujar Wahyu, Selasa (4/10/2022). 

Terlebih saat itu, berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, banyak supporter Arema FC yang berlarian untuk menghindar dari tindakan eksesif aparat keamanan. Yakni dengan menembakkan gas air mata langsung ke arah tribun. 

Nahasnya, dalam kondisi tersebut para supporter Arema FC ini harus tertahan pintu gate yang tertutup. Tidak sedikit pula yang mengaku kesulitan bernafas karena harus berdesakan di dalam ruang yang relatif sempit untuk jumlah orang sebanyak itu. 

''Normalnya saja keluar lewat sini itu udah berdesak-desakan, apalagi waktu kondisi darurat. Jadi bukan hanya soal keamanan, tapi juga fasilitas pertandingan juga harus disiapkan dengan baik,'' jelasnya.

Wahyu menambahkan jika dalam laga itu sudah dikerahkan sebanyak 2.000 petugas keamanan. 600 diantaranya merupakan anggota Polres Malang. Dan lainnya merupakan tenaga perbantuan dari Polres daerah lain, Polda, Brimob dan TNI.

Disitu, jika mengacu pada aturan FIFA, panpel seharusnya mengatur bahwa petugas kepolisian tidak bertugas dengan menggunakan seragam saat di dalam stadion. ''Itu akan kurangi risiko karena polisi sudah terbiasa menangani kejadian darurat. Termasuk di sepak bola,'' imbuh Wahyu.

Meski kemudian berujung menjadi insiden berdarah menurut Wahyu, peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi institusi Polri ke depannya. Namun ia juga berharap permasalahan ini bisa dilihat secara komprehensif.

''Termasuk bagaimana sudah disampaikan bahwa polres sebenarnya juga sudah mengajukan jadwal pertandingan karena ada potensi berbahaya dari laga penuh rivalitas ini,'' ungkapnya.

Selain itu juga Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat yang sudah dimutasi ini telah menginstruksikan pasukan untuk tidak membawa senjata api ke dalam stadion. Termasuk tidak melakukan tindakan eksesif apapun kondisinya.

''Sekarang Kapolri sudah bertindak tegas. Nanti akan ketemu siapa pemberi instruksi gas air mata itu sebenarnya. Karena waktu kejadian, posisi kapolres juga ada di luar stadion dan tidak ada perintah. Ini yang harus jadi catatan juga oleh publik,'' pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru