Malangtimes

Miliki Puluhan Cagar Budaya, Kota Malang Diganjar Penghargaan Pelestarian Cagar Budaya oleh Pemprov Jatim

Oct 01, 2022 20:03
Wali Kota Malang Sutiaji bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana saat membawa penghargaan pelestarian cagar budaya dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Balaikota Malang, Sabtu (1/10/2022). (Foto: Dok. Istimewa)
Wali Kota Malang Sutiaji bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana saat membawa penghargaan pelestarian cagar budaya dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Balaikota Malang, Sabtu (1/10/2022). (Foto: Dok. Istimewa)

JATIMTIMES - Kota Malang telah mendapatkan penghargaan pelestarian cagar budaya dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Terlebih lagi, Kota Malang memang terkenal memiliki banyak bangunan heritage yang masih menunjukkan keaslian bangunan hingga ditetapkan sebagai cagar budaya. 

Beberapa kawasan di Kota Malang yang saat ini masih terdapat bangunan heritage yakni di kawasan Kayutangan Heritage di Jalan Jenderal Basuki Rahmat hingga di kawasan Jalan Ijen. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana mengatakan, setidaknya pada 2021 lalu tercatat sebanyak 42 bangunan di Kota Malang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang. 

"Di tahun 2021 ada 42 cagar budaya yang kita tetapkan sebagai peninggalan sejarah dan itu kalau mereka mau mengubah bangunan harus izin ke teman-teman TACB," ungkap Suwarjana kepada JatimTIMES.com, Sabtu (1/10/2022). 

Pihaknya menyebutkan, sebanyak 42 bangunan cagar budaya yang telah ditetapkan oleh TACB Kota Malang tersebut dari berbagai macam jenis. Beberapa di antaranya bangunan sekolah menengah atas (sma) hingga Balaikota Malang.

Sebagai komitmen dalam pelestarian cagar budaya, pihaknya bersama TACB juga berencana untuk menambah jumlah cagar budaya di Kota Malang. "Tahun ini (2022) kami ajukan 47 cagar budaya, bertambah lima," terang Suwarjana. 

Suwarjana menuturkan, bahwa TACB Kota Malang terus bekerja dan mengkaji berbagai bangunan di sejumlah kawasan yang dapat dijadikan cagar budaya. Salah satu indikator sebuah kawasan bisa disebut cagar budaya, di dalam kawasan tersebut harus ada benda ataupun bangunan yang memiliki nilai sejarah.

"Misalnya di Kayutangan, kalau dipelajari itu banyak sekali cagar budaya. Teman-teman baru mengkaji itu, jadi judulnya adalah kawasan cagar budaya bukan bangunan," ujar Suwarjana. 

Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan, bahwa kompensasi pemeliharaan cagar budaya masih dalam proses pembuatan payung hukum yang jelas. Hal ini sangat penting dilakukan, agar terdapat dasar yang digunakan sebagai acuan dalam memberikan kompensasi. 

"Saat ini masih digodok oleh teman-teman Pemerintah Daerah, mau dibuat payung hukumnya. Nanti kita menentukan juga harus ada timbal balik pelestarian, minimal pengecatan pemeliharan. Insya Allah tahun depan (2023)," terang Suwarjana. 

Sementara itu, dengan segala upaya yang telah dilakukan oleh Disdikbud Kota Malang melalui TACB untuk melestarikan cagar budaya, pihaknya berharap ke depan akan lebih banyak lagi penghargaan yang didapat oleh Kota Malang. 

"Mudah-mudahan di tahun berikutnya juga dapat (penghargaan). Selama kita eksis, insya Allah dapat penghargaan," pungkas Suwarjana. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru