Malangtimes

Harga Kedelai Naik, Perajin Keripik Tempe Sanan Kota Malang Siasati dengan Cara Ini

Sep 30, 2022 21:12
Stok kedelai impor berasal dari Amerika Serikat yang berada di salah satu distributor di kawasan Kampung Sanan Kota Malang, Jumat (25/2/2022). (Foto: Tubagus Achmad/ JatimTIMES)
Stok kedelai impor berasal dari Amerika Serikat yang berada di salah satu distributor di kawasan Kampung Sanan Kota Malang, Jumat (25/2/2022). (Foto: Tubagus Achmad/ JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kedelai impor mulai menunjukkan kenaikan harga dalam sepekan terakhir. Hal itu membuat para perajin keripik tempe di Kota Malang tepatnya di kawasan Kampung Sanan Kota Malang memutar otak untuk menyiasati produksi keripik tempe.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, harga kedelai impor per 26 September 2022 tembus di harga Rp 14.200 yang jika dibandingkan dengan data harga pada 26 September 2021 lalu sebesar Rp 12.400 di mana terjadi kenaikan sebesar 14,15 persen. Padahal sekitar dua bulan lalu, harga kedelai di pasaran masih sekitar Rp 11.000 dan awal tahun 2022 harga kedelai bisa berada di angka Rp 7 ribu.

Salah satu yang terdampak atas kenaikan harga kedelai ini yakni Jumadi seorang perajin keripik tempe di Kampung Sanan Kota Malang. Jumadi mengaku, dengan adanya kenaikan harga kedelai, membuat dirinya melakukan siasat pada keripik tempe yang dibuatnya.

"Saya sekarang produksi tempe berbumbu. Soalnya kedelai itu naik terus, jadi untuk meningkatkan harga itu kami mencoba dari yang biasa sekarang terbungkus saya kirim harganya lebih tinggi," ujar Jumadi, Jumat (30/9/2022).

Jumadi.

Pasalnya, sebelum melakukan terobosan itu, Jumadi mengaku membuat keripik tempe original tanpa bumbu dihargai Rp 3 ribu. Namun, dengan adanya kenaikan harga kedelai, dirinya menaikkan harga keripik tempe berbumbu produksinya sebesar Rp 5 ribu.

"Dulu kan Rp 3 ribu sekarang kita jual Rp 5 ribu tapi sudah berbumbu. Lah untuk kenaikan itu, saya hanya mengandalkan siasat ini aja. Untuk teman-teman lainnya biasanya ukuran dikurangi," kata Jumadi.

Menurutnya, stok kedelai impor di pengepul hingga saat ini masih aman dan lancar di tengah kenaikan harga kedelai yang naik hingga Rp 14.000 per kilogram. Stoknya pun juga masih aman dan lancar, tidak ada hambatan dalam proses distribusi.

Tapi meskipun stok di pengepul aman, harga kedelai masih tinggi. Hal itu yang membuat produksi keripik tempenya berkurang drastis hingga lebih dari 50 persen.

"Kalau normal kemarin ya produksi saya sekitar 1 kwintal. Tapi kalau sekarang turun sampai 40 kilogram. Turunnya lebih dari 50 persen," ujar Jumadi.

Lebih lanjut, jika produk keripik tempe yang sudah dibuatnya namun tidak habis atau tersisa dan dikembalikan kepada dirinya, maka itu artinya peminat berkurang dan kerugian yang dialami Jumadi semakin banyak.

"Nanti kalau ada barang kembali saya buat steak mendol. Kalau keripik tempe sih dari awal harus tempe segar," terang Jumadi.

Terakhir, dirinya pun berharap agar pemerintah baik pusat maupun daerah dapat memberikan solusi terbaik dalam mengentaskan permasalahan harga kedelai yang naik dan mengakibatkan pada hasil produksi tempe serta penjualan di pasaran.

"Pokoknya masyarakat kecil seperti kami, industri kecil seperti kita ini, harapannya harganya cepat normal. Sudah BBM naik, sekarang diikuti oleh kedelai, masyarakat kecil semakin sulit untuk maju," pungkas Jumadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru