Malangtimes

Peradaban yang Hancur di Masa Nabi Ibrahim: Bencana Kekeringan dan 300 Tahun Tanpa Aktivitas Manusia

Sep 07, 2022 07:58
Ilustrasi kekeringan dan kehancuran peradaban (pixabay)
Ilustrasi kekeringan dan kehancuran peradaban (pixabay)

JATIMTIMES - Masa hidup Nabi Ibrahim AS menurut para cendekiawan sekitar 2200 Sebelum Masehi atau sekitar 4200 tahun lalu. Hal ini disampaikan Dr Jerald F Dirks seorang ahli perbandingan agama di Amerika. Prediksi dari pria yang dahulunya merupakan seorang pendeta yang kemudian masuk Islam ini, Nabi Ibrahim AS lahir pada 2166 SM [Mu'arif: Monotheisme Samawi autentik, 2018:72].

Diolah dari Ensiklopedia Al Fatih, tahun yang diprediksikan menjadi kehidupan Nabi Ibrahim ini bersamaan atau berada pada zaman saat terjadinya serangkaian bencana besar yang melanda hampir di seluruh wilayah muka bumi. Bencana ini pun kemudian berdampak  hingga 200 tahun lamanya.

Para ilmuwan dunia, memberikan pernyataan terkait bencana besar itu. Seperti Barry Setterfield seorang ahli fisika, geologi dan astronomi Amerika. Ia menyampaikan dalam sebuah situs, ada beberapa bukti bahwa peristiwa di seluruh dunia dalam interval antara 2500 SM dan 2200 SM yang mungkin bertanggung jawab atas penghancuran sejumlah peradaban dan budaya yang signifikan.

Kemudian, tertulis dalam artikel John Noble Wildford," Collapse of Earliest Known Empire Is Linked to Long, Harsh Drought (The Times, 24 Agustus 1993), bahwa tim arkeolog, geolog maupun para ilmuwan tanah telah menemukan bukti yang tampaknya memecahkan misteri penyebab keruntuhan tiba-tiba kekaisaran Akkadian sekitar 4.200 tahun lalu.

Kekaisaran Akkadian, menurut mereka dilanda kekeringan 300 tahun dan benar-benar mengering. Penelitian pun berlangsung dan melibatkan peneliti. Dari sebuah analisis mikroskopis, kelembaban tanah di reruntuhan kota-kota Akkadian di tanah pertanian Utara menghasilkan sebuah hal yang mengejutkan. Hasilnya, serangan kekeringan berlangsung cepat dan konsekuensi atau dampaknya begitu parah mulai berlangsung sekitar 2200 SM.

"Ini adalah pertama kalinya perubahan iklim tiba-tiba secara langsung dikaitkan dengan reruntuhan peradaban yang berkembang," kata Dr Harvey Weiss Arkeolog Universitas Yale dan pemimpin tim peneliti Amerika-Prancis.

Lebih lanjut dijelaskan Dr Weiss, kesimpulan tersebut tentunya berdasarkan dengan hasil penelitian. Pengujian tanah dilakukan terutama di lokasi 3 Kota Akkadian dalam radius 30 mil. 

Lokasi-lokasi yang sekarang dikenal sebagai tell Leilan, tell Mozan dan tell Brak di Suriah ini menjadi bukti perubahan iklim serupa ditemukan di daerah yang berdekatan. Selain itu, pengamatan pada benda-benda kuno juga dilakukan. 

Pengamatan keramik dan artefak lainnya, sebagai pelacakan bukti keberadaan orang Akkadian di Tell Leillan dan kota-kota utara lainnya, menunjukkan fakta terdapat kesenjangan 300 tahun dalam pendudukan manusia di Tell Leilan dan kota-kota tetangga. Interval tanpa tanda-tanda aktivitas manusia tersebut dimulai sekitar 2200 SM.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru