Jelang Sidang Putusan, Korban Berharap Bos SPI Kota Batu Diputus Bersalah

Sep 06, 2022 19:49
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan bos Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, JE akan memasuki babak akhir. Masa putusan akan dilakukan di Pengadilan Negeri (PN) Malang, Rabu (7/9/2022) besok.

Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait dalam kasus ini berharap majelis hakim mampu memberikan keputusan yang tepat. Dalam hal ini, memberikan keputusan bahwa JE bersalah pada kasus dugaan kekerasan seksual.

“Harapan kami dia diputus bersalah. Saya tidak menaruh rasa dendam, saya hanya ingin hukum adil bahwa predator seksual harus dihukum setimpal dan diberantas,” ujar Arist kepada awak media, Selasa (6/9/2022).

Sebelumnya, Jaksa Penuntup Umum (JPU) dari Kejari Kota Batu telah menuntut JE dengan hukuman maksimal 15 tahun dan denda sekitar Rp 300 juta. Hal itu dinyatakan setelah menjalani masa persidangan berjilid dan dalam selang waktu sekitar satu tahun lamanya.

Arist mencatat dalam persidangan yang berjalan selama 24 kali ini sebenarnya tidak layak. Sebab, kasus predator seksual seharusnya bisa segera diberi hukuman yang setimpal.

“Ini sejak 29 Mei 2021 sampai besok putusan. Ini memakan waktu panjang. Sesungguhnya kasus kejahatan seksual ini harus cepat dan berkeadilan. Tapi nyatanya memakan waktu panjang dan ini tidak layak,” ungkap Arist.

Tapi, Arist tak mempermasalahkan hukuman yang akan diterima JE nantinya saat sidang putusan yang dilakukan oleh majelis hakim. Namun, Arist hanya meminta keadilan agar ditegakkan.

“Soal hukuman 15 tanun atau tidak itu bukan urusan kita. Tetapi majelis hakim harus membaca persoalan ini untuk menghentikan kasus kejahatan seksual. Berlakulah adil, sehingga JE bisa ditetapkan bersalah. Itu harapan saya,” beber Arist.

Arist pun menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh konstruksi yang sempat digaungkan kuasa hukum JE sebelumnya bisa dibantahkan. Seperti, konstruksi tuduhan bahwa kasus ini dibiayai dan didukung.

Lalu, korban yang juga dituduh keluar masuk hotel sampai memeriksa penginapan. Hal tersebut yang dianggap Arist bisa terbantahkan. “Mereka mengkonstruksi hal-hal itu atas kebingungan dan kepanikannya saja,” tegas Arist.

Saat ini, Arist bersama korban terus berdoa dan berharap agar hasil yang diputuskan oleh majelis hakim sesuai dengan apa yang dituntutkan. Mengingat perkara kejahatan seksual menurutnya harus diadili secara setimpal.

“Saya terus berdoa dengan korban agar majelis hakim diberikan hikmat oleh tuhan agar memutus perkara sesuai tuntutan yang disampaikan JPU,” tutup Arist.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru