Malangtimes

Ekosistem Karbon Biru, Inovasi Mahasiswa untuk Atasi Problem Polusi Udara di Perkotaan

Sep 04, 2022 17:00
Desain ekosistem karbon biru. (Ist)
Desain ekosistem karbon biru. (Ist)

JATIMTIMES - Cemaran emisi karbon dan polusi udara menjadi salah satu problem serius kota-kota besar. Terlebih lagi, dari data yang dihimpun, karbondioksida meningkat 2,9 persen setiap tahun. Belum lagi, saat ini jumlah kendaraan bermotor terus bertambah. 

Melihat hal itu, lima mahasiswa  Universitas Brawijaya, dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Fakultas Teknik- berkolaborasi membuat sebuah inovasi dalam upaya mengurangi pencemaran atau polusi udara.

Gagasan tersebut gagasan berjudul "Carbon Middle Tube: Strategi Karbon Biru untuk Peningkatan Udara Bersih di Perkotaan dalam Mendukung Climate Action". 

Ekosistem karbon biru merupakan istilah  untuk cadangan emisi karbon yang diserap dan disimpan dan kemudian dilepaskan oleh ekosistem pesisir. Ekosistem karbon biru berperan dalam carbon sinks yang mampu menyerap karbon dalam jumlah yang besar. 

Bahkan, jumlah penyerapan lebih besar dibanding daratan, dengan kemampuan menyerap 55 persen kabron dunia. Hal ini memanfaatkan padang lamun (seagrass bed). Padang lamun sendiri merupakan ekosistem khas laut dangkal. Biasanya ini berada pada wilayah perairan hangat dengan dasar pasir, didominasi oleh tumbuhan lamun. 

Dengan mekanisme sekuestrasi, yakni penyerapan karbon dari atmosfer, kemudian menyimpan karbon dalam bentuk biomassa pada daun, akar, batang maupun kayu dan rhanik tanah melalui proses fotosintesis. 

1

Padang lamun memiliki kemampuan menyimpan karbondioksida mencapai 83.000 metrik ton dalam setiap kilometer persegi. "Ini lebih tinggi jika dibandingkan kemampuan hutan hujan tropis yang menyerap karbon hanya sekitar 30.000 metrik ton/km2," ujar Fikri Ardam, salah satu anggota tim.

Untuk itu, melihat fungsional yang begitu besar, maka ekosistem karbon biru dapat ditempatkan pada jalan besar yang memiliki median jalan atau trotoar. Kolam pada median jalan menjadi bagian dari ekosistem karbon biru. Kemudian akan terhubung pada kolam bawah tanah yang dilengkapi dengan terowongan untuk pejalan kaki.

Biota laut lainnya juga dapat ditempatkan pada kolam. Hal ini tentunya akan semakin memaksimalkan penyerapan karbon. Contohnya terumbu karang, mikoalga, rumput laut dan yang lainnya. 

"Dengan begitu, kami harapkan ada peningkatan kualitas udara yang bersih. Oksigen kembali meningkat, sehingga ini juga menurunkan kasus penyakit akibat polusi udara. Termasuk juga mendukung pemerintah dalam mengatasi permasalahan iklim yang menyebabkan global warming," pungkasnya.

Untuk diketahui, lima mahasiswa yang terlibat dalam tim ini yakni Fikri  Ardam, Rara Amerea Sadiidah Hafidoh, Anggita Juy (FPIK) dan Yudhistira dari Fakultas Teknik. Tim ini dibimbing oleh dosen Bayu Kusuma SPi MSc.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru