Malangtimes

Tingkat Natalitas Akan Jadi Satu Pertimbangan Merger Sekolah di Kabupaten Malang

Aug 30, 2022 08:39
Kabid SD Dispendik Kabupaten Malang, Ahmad Wahid Arif. (Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Kabid SD Dispendik Kabupaten Malang, Ahmad Wahid Arif. (Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Rencana merger sekolah di Kabupaten Malang hingga saat ini terus digodog. Dalam rencana tersebut, Dinas Pendidikan (Dispendik) juga diminta untuk melakukan pertimbangan secara matang dan tidak tergesa-gesa.

Kepala Bidang Sekolah Dasar (Kabid SD) Dispendik Kabupaten Malang, Ahmad Wahid Arif mengatakan, dirinya juga telah diminta untuk tidak tergesa-gesa oleh Wakil Bupati (Wabup) Malang. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya natalitas atau tingkat kelahiran di suatu wilayah di sekitar sekolah.

"Terus ini nanti akan dilihat angka natalitas kelahiran, dilihat dari jumlah penduduk. Itu yang terpencil. Artinya masih akan dilihat angka kelahiran di wilayah tersebut," ujar Wahid.

Sementara itu dari pantauannya, luasnya wilayah Kabupaten Malang juga membuat kondisi di beberapa sekolah harus benar-benar diperhatikan sebelum dimerger. Sebab, dengan kondisi tersebut ia membedakan ada dua jenis sekolah. Yakni sekolah kecil dan sekolah terpencil.

Untuk angka natalitas, akan diperhatikan bagi sekolah yang terbilang terpencil. Sedangkan bagi sekolah yang terbilang kecil, masih akan dievaluasi terkait perkembangan sekolahnya dari tahun ke tahun.

"SD kecil ini dilihat dari kapasitas jumlah murid. Sedangkan SD terpencil, dilihat dari letak geografis lembaga itu. Jadi kadang ada terpencil tapi muridnya banyak ya bisa saja. Mungkin di sana satu pulau ada satu sekolah. Bisa jadi dua-duanya (terpencil dan kecil)," terang Wahid.

Secara umum, pihaknya juga tidak punya alasan untuk tidak mendukung rencana merger sekolah. Apalagi, di dalam praktiknya, Wahid menyebut bahwa keputusan untuk melakukan merger sekolah ada pada Pemerintah Daerah (Pemda) dan bukan pada lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Selain itu, yang menjadi pertimbangan adalah yakni untuk tujuan merampingkan struktur untuk memperkaya fungsi. Artinya, penyebaran kepala sekolah dan guru, bisa dijadikan satu pada sekolah yang dimerger.

"Sehingga tidak kekurangan tenaga. Daripada lembaganya banyak, PNS nya hanya satu, kepala sekolah, dan lainnya guru-guru honorer. Jadi BOS (Bantuan Operasional Sekolah) nya habis untuk itu," jelas Wahid.

Sedangkan berdasarkan Permendikbudristek nomor 2 tahun 2022, jumlah murid dalam satu sekolah juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan untuk penyaluran BOS. Menurut Wahid, dalam peraturan tersebut dikatakan bahwa sekolah yang siswanya kurang dari 60, maka tidak dapat menerima BOS.

Sementara itu, hal tersebut sebelumnya juga pernah disampaikan oleh Bupati Malang, HM. Sanusi. Yakni rencana merger sekolah, kemungkinan akan dilakukan pada sekolah yang jumlah siswanya kurang dari 60. Sebab menurutnya, dengan jumlah tersebut, maka jika di ratarata, dalam satu kelas, hanya terdapat 10 siswa.

Dengan jumlah tersebut, Sanusi berpendapat bahwa kegiatan belajar mengajar dinilai kurang ideal dan outputnya juga kurang efektif. Hematnya, akan lebih ideal jika dalam satu kelas, kegiatan belajar mengajar diisi setidaknya sebanyak 28 hingga 32 siswa.

Sedangkan berdasarkan data Dispendik Kabupaten Malang, saat ini tercatat ada sebanyak 1.145 lembaga sekolah dasar (SD). Rinciannya, 1.065 SD negeri dan sisanya sebanyak 80 SD swasta. Dengan kapasistas murid sebanyak 176.000. Dari pantauannya hingga saat ini, ada sekitar 25 sekolah yang siswanya di bawah 60.

"Jumlah secara detil, ndak hafal. Kira-kira gak banyak antara sekitar 25 sekolah kemungkinan Itu yang di bawah 60. Tapi targetnya merger itu sekolah yang satu halaman. Karena kalau begitu persaingannya kurang sehat," pungkas Wahid.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru