Malangtimes

Waspada Cacar Monyet, Dinkes Kota Malang Minta Nakes di Fasyankes Lakukan Deteksi Awal

Aug 22, 2022 14:50
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif saat ditemui di Regents Park Hotel Malang, Senin (22/8/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES) 
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif saat ditemui di Regents Park Hotel Malang, Senin (22/8/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES) 

JATIMTIMES - Kota Malang mewaspadai merebaknya penyakit cacar monyet atau monkeypox. Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif meminta kepada seluruh tenaga kesehatan (nakes) di masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) Kota Malang dapat melakukan deteksi awal terkait cacar monyet. 

Hal itu menyusul telah ditemukannya satu kasus positif pertama penyakit cacar monyet di Indonesia, tepatnya di DKI Jakarta, pada Jumat (19/8/2022) lalu yang menyerang seorang laki-laki berusia 27 tahun. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, yang bersangkutan baru melakukan perjalanan ke luar negeri. 

Husnul menjelaskan, imbauan kepada para nakes agar dapat melakukan deteksi awal penyakit cacar monyet di masing-masing fasyankes juga sesuai dengan Surat Edaran (SE) Kementerian Kesehatan RI Nomor: HK.02.02/C/2752/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Cacar Monyet atau Monkeypox di Negara Non-Endemis. Surat itu  diteken  Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Maxi Rein Rondonuwu pada 26 Mei 2022 lalu. 

Dalam SE tersebut, Kemenkes RI meminta pemerintah daerah, fasyankes, Kantor Kesehatan Pelabuhan, sumber faya manusia (SDM) kesehatan, serta para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan dini penemuan kasus monkeypox di beberapa negara non-endemis, termasuk Indonesia. 

"Prinsipnya satu tenaga kesehatan itu harus tahu apa itu cacar monyet. Kemudian harus bisa mendeteksi gejala-gejala cacar monyet," ungkap Husnul kepada JatimTIMES.com, Senin (22/8/2022). 

Sehingga, ke depan masing-masing fasyankes sudah bisa memantau penemuan kasus sesuai definisi operasional penyakit cacar monyet berdasarkan kasifikasi dari World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, yakni suspek, probabel, konfirmasi, discarded dan kontak erat. 

"Paling tidak fasyankes di kabupaten/kota itu bisa menentukan ini suspek atau tidak berdasarkan satu gejala. Kedua ada riwayat perjalanan," ucap Husnul. 

Selain itu, Dinkes melakukan upaya antisipasi persebaran penyakit cacar monyet dengan memberikan edukasi kepada masyarakat luas, baik melalui media poster atau media informasi maupun edukasi secara langsung. 

Dinkes mengimbau agar masyarakat tidak panik dengan adanya penyakit cacar monyet yang sudah masuk ke Indonesia. Pasalnya, cacar monyet sebenarnya memiliki gejala yang hampir sama dengan cacar air biasa. Namun, terdapat beberapa perbedaan di gejala penyakitnya. 

"Sehingga kalau masyarakat mengalami demam, badannya sakit semua, kemudian ada ruam, bintik-bintik merah atau sampai ada gelembungnya, itu harus cepat-cepat ke faskes. Insya Allah teman-teman di faskes bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut," ujar Husnul. 

Nantinya untuk penanganan, pasien yang terserang penyakit cacar monyet  dapat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Sebab, penyakit cacar monyet sifatnya self limiting desease atau penyakit tersebut daoat sembuh dengan sendirinya. 

"Artinya penyakit yang bisa sembuh sendiri. Asalkan nggak ada komorbid dan nggak ada infeksi yang lain. Sesuai dengan masa inkubasinya 21 sampai 28 hari," kata Husnul. 

Disinggung mengenai perkembangan penyakit cacar monyet apakah sudah masuk ke Kota Malang, secara tegas Husnul menjawab bahwa belum ditemukan kasus terkonfirmasi cacar monyet di Kota Malang. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru