Manfaatkan Bioteknologi, Profesor UB Kembangkan Fermentasi Tradisional pada Terasi

Aug 15, 2022 16:06
Prof Dr Sc Arep Awaludin Prihanto mengembangkan Model perbaikan produk fermentasi perikanan tradisional dilakukan dengan Comprehemsive Product Improvement memanfaatkan Bioteknologi (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Prof Dr Sc Arep Awaludin Prihanto mengembangkan Model perbaikan produk fermentasi perikanan tradisional dilakukan dengan Comprehemsive Product Improvement memanfaatkan Bioteknologi (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Terobosan dalam baru dalam memberikan  peningkatan kualitas hasil olahan tradisional perikanan, khususnya untuk produk fermentasi dibuat oleh seorang Profesor Bidang Bioteknologi Produk Perikanan dan Kelautan UB.  

Model perbaikan produk fermentasi perikanan tradisional dilakukan dengan Comprehemsive Product Improvement memanfaatkan Bioteknologi. Model ini memiliki keunggulan yakni pengintegrasian empat faktor penting, yaitu perbaikan proses, perbaikan nutrisi, perbaikan mutu dan perbaikan nilai fungsional kesehatan produk dengan menggunakan pendekatan bioteknologi.

Dijelaskan Prof Dr Sc Arep Awaludin Prihanto menyampaikan, produk perikanan yang diolah secara tradisional memang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Untuk mempertahankan kualitas produk tersebut, banyak dikembangkan cara pengawetan salah satunya dengan fermentasi. 

Produk fermentasi perikanan tradisional yang banyak dikonsumsi diantaranya adalah terasi, kecap ikan, tukai, budu, picungan, jambal roti, cincaluk, dan yang lainnya.

Tetapi, dari hasil pengolahan secara tradisional seperti fermentasi tersebut menimbulkan beberapa permasalahan. Pengolahan dengan cara fermentasi tersebut, masih memiliki kelemahan yakni tidak standar dengan pengolahan baku, sanitasi dan higienis pengolahan yang rendah, keamanan produk yang tidak terjamin dan nilai manfaat bagi kesehatan yang belum optimal.

"Termasuk juga kualitas berubah-ubah dan tidak stabil, seperti rasa kadang enak, kadang tidak," jelasnya saat ditemui di UB beberapa waktu lalu.

Meskipun selama ini terdapat pendekatan perbaikan produk fermentasi perikanan, namun masih dilakukan secara parsial dan tidak melibatkan pendekatan bioteknologi. Pendekatan yang dilakukan hanya sebatas perbaikan proses perbaikan gizi produk fermentasi perikanan dan perbaikan potensi fungsional.

"Tapi semua masih belum menyelesaikan masalah produk fermentasi secara parsial dan tidak terintegrasi menangani kelemahan-kelemahan produk," paparnya.

Olahan tradisional dipilih, lantaran olahan tradisional belum banyak dalam prosesnya yang memanfaatkan teknologi. 
Untuk itulah, saat ini melalui Comprehemsive Product Improvement memanfaatkan Bioteknologi, pihaknya telah melakukan ujia coba terhadap olahan perikanan, yakni trasi dan hasilnya mengembirakan.  

Model Comprehemsive Product Improvement memanfaatkan Bioteknologi melalui teknik rekayasa genetika, next generation sequenching dan aplikasi starter konsorsium bacteria, terbukti mampu meningkatkan kualitas fermentasi perikanan tradisional

Dalam prosesnya, diambil enzym dari mutan mikroorganisme. Nantinya mutan tersebut akan berperan untuk membunuh mikroorganisme patogen yang yang merugikan tubuh manusia seperti bakteri escherichia coli. 

"Sementara kami uji coba pada produk terasi. Integrasi mikroorganisne tersebut mampu meningkatkan gizi serta kemanfaatan dari produk. Salah satunya adalah kemampuan untuk mengatasi masalah kardiovaskular dalam pembuluh darah," jelasnya. 

Lebih lanjut Prof Asep menjelaskan, kedepan tentunya uji coba akan dilakukan pada jenis olahan lainnya. Sehingga, diharapkan model yang ia buat tidak hanya dapat digunakan pada produk pengawetan olahan perikanan tradisional saja, tetapi juga bisa untuk dimanfaatkan pada olahan lainnya. 

"Harapannya tentu bisa memberikan nilai tambah,"tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru