Densus 88 Ingatkan Jaringan Teroris Menyasar ASN dan Aparat Penegak Hukum

Jul 03, 2022 19:17
Direktur Pencegahan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Kombes Pol Tubagus Ami Prindani saat berada di FISIP Universitas Brawijaya, Kamis (30/6/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Direktur Pencegahan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Kombes Pol Tubagus Ami Prindani saat berada di FISIP Universitas Brawijaya, Kamis (30/6/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antireror terus berupaya melakukan pencegahan terkait keterpaparan radikalisme hingga terorisme di segala lini kelompok masyarakat hingga mahasiswa. 

Hal itu juga dilakukan kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota TNI-Polri, hingga  Aparat Penegak Hukum (APH) lainnya yang memiliki kuasa lebih dalam mengambil suatu kebijakan. 

Direktur Pencegahan Densus 88 Antiteror Kombes Pol Tubagus Ami Prindani menyampaikan, jika para ASN maupun Aparat yang dipersenjatai oleh negara terpapar radikalisme dan terorisme akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Perwira polisi yang akrab disapa Ami ini menuturkan, bahwa radikalisme hingga terorisme bukan hanya menyasar kelompok masyarakat tertentu, melainkan sudah menyasar orang-orang yang berada di instansi pemerintahan maupun beberapa orang di lembaga negara. 

"Termasuk di polisi ada juga yang terpapar, terorisme bahkan bukan hanya radikalisme. Di TNI juga ada, itu terbukti bahwa tersangka ada. Kemudian di IPDN juga ada indikasi-indikasi karena penyebaran paham, kalau dibiarkan ini kan berbahaya," tegas Ami usai menjadi narasumber diskusi dalam menolak intoleran, radikalisme dan terorisme di Universitas Brawijaya. 

Ami yang merupakan perwira polisi dengan tiga melati dipundaknya ini menuturkan, ketika para ASN hingga aparat yang membawa nama pemerintah dan negara, kemudian secara masif menyebarkan radikalisme hingga terorisme akan sangat berbahaya. Pasalnya, masyarakat dikhawatirkan akan mudah percaya. 

"Yang lebih berbahaya lagi kalau ASN tersebut mempunyai kewenangan, mempunyai sarana prasarana atau mungkin mempunyai senjata dan terpapar, senjata itu bisa digunakan untuk melakukan aksi. Itu yang paling bahaya," terang Ami. 

Maka dari itu, untuk tahapan pencegahan radikalisme hingga terorisme, pihak Densus 88 Antiteror juga secara terus-menerus melakukan koordinasi dengan instansi terkait yang diduga terdapat indikasi-indikasi penyebaran radikalisme hingga aksi terorisme.

"Kita memberikan warning kepada pimpinannya, kemudian kita sendiri kadang-kadang memberikan pembinaan juga kepada instansi-instansi terkait tersebut. Ada FGD, Seminar bahkan kita tadi yang lebih interaktif lagi dengan berdiskusi," jelas Ami. 

Terbaru, Densus 88 Antiteror telah melakukan kerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) pada Kamis, 30 Juni 2022 lalu, sebagai upaya pencegahan penyebaran radikalisme dan aksi terorisme. 

"Kita akan meningkatkan peran serta masyarakat baik untuk membentengi mahasiswa dan membantu kita menyebarkan pesan-pesan anti radikalisme. Ini yang harus kita bimbing dan latih dulu. Karena kalau tidak, takut salah menyampaikan. Maka ada pembinaan-pembinaan lanjutan kepada mahasiswa ini," pungkas Ami. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru