Pemerintah vs Muhammadiyah Beda Tanggal Idul Adha 2022, Ini Kata MUI

Jun 30, 2022 08:41
Idul Adha (Foto: iqra.id)
Idul Adha (Foto: iqra.id)

JATIMTIMES - Kementerian Agama (Kemenag) telah menggelar sidang isbat untuk menentukan Hari Raya Idul Adha pada Rabu (29/6/2022) sore. Dari hasil sidang isbat tersebut, pemerintah melalui Kemenag menetapkan 1 Zulhijah jatuh pada 1 Juli 2022, sehingga Idul Adha jatuh pada 10 Juli 2022. 

Penetapan itu diketahui berbeda dengan penetapan yang dibuat PP Muhammadiyah. Diketahui, PP Muhammadiya menetapkan bahwa Hari Raya Idul Adha jatub pada 9 Juli 2022. 

Lantas bagaimana penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait perbedaan tanggal Idu Adha pemerintah vs Muhammadiyah?

"1 Zulhijah jatuh pada 1 Juli 2022, dan berarti Hari Raya Idul Adha akan jatuh pada tanggal 10 Zulhijah, berkenaan dengan tanggal 10 Zulhijah dan bertepatan juga pada tanggal 10 Juli 2022. Oleh sebab itu, kita sama-sama mengetahui bahwa yang ada dalam kenyataan ada perbedaan dalam kita menyikapi Hari Raya Idul Adha, sementara saudara-saudara kita dari Muhammadiyah telah mengumumkan terlebih dahulu tentang jatuhnya Hari Raya Idul Adha yaitu pada tanggal 9 Juli," ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi KH Abdullah Jaidi dalam konferensi pers, Rabu (29/6/2022).

Jaidi menyebut perbedaan waktu seperti ini merupakan hal biasa. Namun demikian, Jaidi mengimbau agar perbedaan ini tidak membuat masyarakat pecah.

"Tentunya hal seperti ini adalah sesuatu yang biasa terjadi, di tengah-tengah kita adanya perbedaan. Tapi janganlah perbedaan itu sampai jadikan kita perpecahan, tidak saling menghormati. Tandanya kita saling menghormati adanya perbedaan itu, karena tentunya perbedaan itu pada setiap permasalahan adanya wujudulhilal, dan ada rukyatulhilal yang kedua-duanya menggunakan hisab hanya tergantung pada ketinggian pada hisab itu masing-masing," kata Jaidi.

Lebih lanjut, Jaidi juga menjelaskan tentang aturan puasa Arafah. Ia mengatakan masyarakat tidak perlu bingung jika akan melakukan puasa Arafah.

"Kemudian kita ini kalau mau puasa Arafah pada tanggal berapa, kita ini dianjurkan puasa tanggal 1 Zulhijah sampai tanggal 9 Zulhijah, berarti kita kalau mau puasa pada hari Jumat atau puasa Sabtunya masih dibolehkan, karena belum ditetapkan sebagai Hari Raya Idul Adha, dan terjadinya selisih itu fatwa ulama kalau terjadi perbedaan ahli hisab maka putusan hakim dalam hal ini Menteri Agama yang harus ditaati," jelas Jaidi. 

Namun, Jaidi mengatakan pihaknya tidak melarang masyarakat yang akan berhari raya tanggal 9 Juli.

"Marilah kita saling menghormati saling menghargai di antara kita atas perbedaan ini, sehingga tidak menjadikan perpecahan di tengah-tengah kita," imbuh Jaidi.

Terkait perbedaan penetapan awal Zulhijah, Jaidi mengimbau masyarakat agar bersama-sama saling membantu fakir miskin dan duafa. Ia juga mengatakan agar masyarakat mengambil inti dari Idul Adha dan tidak berfokus pada perbedaan waktu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru