Inovasi Pemuda Asal Bantur Masuk 15 Besar di Inotek Awards 2022

Jun 23, 2022 19:32
Proses pemaparan produk dari Utbex Indonesia dalam ajang Inotek Award.(Foto: Istimewa).
Proses pemaparan produk dari Utbex Indonesia dalam ajang Inotek Award.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Salah satu inovasi yang diciptakan oleh putra asal Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, turut berkompetisi dalam ajang Inotek Awards 2022 yang digelar oleh Balitbangda Provinsi Jawa Timur. Inovasi tersebut yakni kaus lukis tanpa tinta, yang merupakan inovasi dari Utbex Indonesia. 

Di ajang tersebut, Utbex Indonesia yang bermarkas di Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, ini mengirimkan inovasinya tersebut untuk bersaing dengan ratusan inovasi lain dari seluruh Jawa Timur. Tercatat ada 342 proposal yang berisi beragam kreasi dan inovasi yang berasal dari seluruh daerah di Jatim.

"Kebetulan untuk kategori empat yang kami ikuti, itu ada sebanyak 66 proposal," ujar wner Utbex Indonesia Arik Dwi Asmara kepada JatimTIMES. 

Arik menceritakan  inovasi kaus lukis tanpa tinta yang ia kirim untuk dikompetisikan. Metode lukis tanpa menggunakan tinta  yang ia ciptakan tersebut diklaim punya pembeda dari produk-produk kaus yang umum ada di pasaran. 

Untuk membuat satu kaus dengan gambar tertentu, Arik  harus melukisnya secara manual dengan menggunakan kuas. Medianya berbahan katun bambu berkelas premium, dan menggunakan cairan pengganti tinta yang merupakan racikan asli Utbex Indonesia. 

"Salah satu (kelebihan)-nya ketika kita menggoreskan kuasnya,  kita punya cairan yang sudah kami olah. Kelebihan tidak bisa luntur, gambar tidak bisa hilang. Gambar tidak bisa hilang meskipun dicuci sampai robek. Karena sifatnya kaki  tidak memberikan warna, tapi kita malah menghilangkan warnanya. Jadi, kami ukir kainnya," ujar Arik. 

Sedangkan untuk alasan media lukis atau kaus yang berbahan katun bambu premium, itu karena dikenal sebagai ratu tekstile tradisional. Yang artinya memang disebut berkualitas premium di kelasnya. 

Namun dengan metodenya tersebut, kelemahan ada pada varian warna. Hanya ada satu warna yang dapat dihasilkan. Hal tersebut mengingat sifat metode tersebut adalah menghilangkan warna hitam atau gelap pada media lukisnya. 

Proses produksi kaos lukis tanpa tinta oleh Arik, owner Utbex Indonesia.(Foto: Istimewa).

"Karena kita lebih kepada mengambil warna di balik warna gelapnya. Yang menjadi background si kausnya. Kalau warna putih malah kita menyusun warna di medianya," terang Arik. 

Walau begitu, dirinya berkeyakinan bahwa produknya tersebut bisa menjadi sebuah terobosan baru di tengah peluang yang saat ini banyak bermunculan dan terbuka lebar. Salah satunya jika melihat potensi pariwisata yang terus tumbuh dan berkembang. 

"Kemudian ini bisa menjadi nilai ekonomi yang lebih karena ada keunikan dan bisa bersaing. Karena punya nilai seni," katanya. 

Sementara itu, dalam kompetisi tersebut, inovasinya itu ternyata terbukti cukup mampu bersaing dengan puluhan inovasi lain yang menjadi kompetitor dalam kategorinya. Hal tersebut ditunjukan dengan hasil bahwa produknya mendapat peringkat 15 dari  66 proposal yang ada di kategorinya. 

"Ada 5 kategori. Kami ada di kategori 4. Informasinya ada 66 proposal. Dan kami dapet 15 besar. Dan memang setiap kategori diambil 15 besar terbaik," jelasnya. 

Di sisi lain, Arim tidak memungkiri bahwa masih ada satu hal yang dinilai menjadi kelemahan inovasi produknya tersebut. Yakni jika harus memproduksi dalam kapasitas atau jumlah yang besar. Sebab, metodenya dilakukan dengan menggunakan cara manual. 

Namun, hal itulah yang malah menjadi salah satu keunggulan produknya. Sebab, Arik  menilai, untuk mengatasi hal tersebut, berarti membutuhkan banyak orang untuk memproduksi dalam jumlah yang besar. Artinya, ada nilai pemberdayaan masyarakat di dalamnya. 

Untuk itu, dirinya berharap agar dalam proses selanjutnya di Inotek Award ini, produknya tersebut dapat terus berlanjut dan bisa masuk ke lima besar. Namun sebelumnya akan ada tim dari Inotek Award yang berkunjung ke galei  atau workshop masing-masing inovator. 

Sementara itu,  biasanya, satu kaolus hasil produksi dengan metode lukis tanpa tinta tersebut dijual dengan banderol Rp 189 ribu untuk ukuran M hingga XL. Big size atau di atas XL, dibanderol dengan harga Rp 225 ribu. 

Dirinya juga yakin bahwa harga yang ia tawarkan tersebut juga sangat kompetitif. Apalagi jika melihat bahan yang ia gunakan dalam produknya tersebut juga berkualitas premium. 

"Ya tentunya kami berharap bisa meraih lima besar nantinya. Kan sebelumnya ada tim Inotec Awards yang datang dulu untuk meninjau langsung prosesnya," pungkas Arik. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
muhammad sarmijiInotex AwardPemuda Bantur Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru