Wabup Malang Berharap Vaksin PMK dari Pemerintah Pusat Bisa Dikonsentrasikan di Kabupaten Malang

Jun 13, 2022 19:07
Wabup Malang Didik Gatot Subroto (kanan) didampingi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang Sodiqul Amin (kiri) saat meninjau ternak di Pujon. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).
Wabup Malang Didik Gatot Subroto (kanan) didampingi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang Sodiqul Amin (kiri) saat meninjau ternak di Pujon. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).

JATIMTIMES - Wakil Bupati (Wabup) Malang, Didik Gatot Subroto berharap nantinya jika vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) dari Pemerintah Pusat sudah keluar, dapat dikonsentrasikan di Kabupaten Malang. Hal tersebut lantaran dirinya menilai bahwa kondisi penyebaran PMK di Kabupaten Malang perlu perhatian serius. 

Berdasarkan data terakhir yang didapat dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang, jumlah sapi yang tertular PMK mencapai 5.623 ekor. Di mana terbanyak ada di wilayah Malang Barat yang meliputi 3 kecamatan. Yakni Pujon, Ngantang dan Kasembon. 

Namun jumlah tersebut kemungkinan masih bisa bertambah. Sebab, menurut Didik, dari laporan yang ia terima, masih ada ribuan sapi lagi yang sudah terindikasi penyakit mulut dan kuku. Hal tersebut didapat dari laporan beberapa jajarannya di tiga wilayah tersebut. Bahkan jika ditotal, kurang lebih ada sekitar 11 ribu sapi yang terindikasi PMK. 

"Makanya ini menjadi perhatian. Setidaknya, jika nanti vaksin dari Pemerintah Pusat sudah keluar, salah satunya bisa dikonsentrasikan ke Kabupaten Malang," ujar Didik. 

Apalagi, dari total 33 kecamatan di Kabupaten Malang, 3 kecamatan yang berada di wilayah Malang Barat tersebut hampir 75 persen masyarakatnya, bergantung pada peternakan sapi perah yang mengandalkan hasil perahan susunya. Hal itu lah yang menurutnya menjadi salah satu alasan, bahwa penyebaran PMK di Kabupaten Malang khususnya di Malang Barat, perlu mendapat perhatian serius. 

"Karena secara keseluruhan, Pujon ini sekitar 75 persen bergantung pada peternakan, Ngantang hampir 50 persen dan Kasembon sekitar 40 persen warganya bergantung pada peternakan. Maka ini menjadi atensi bagaimana pemerintah hadir, agar dalam waktu cepat bantuan tersebut bisa segera tersampaikan," terang Didik. 

Terlebih imbas dari wabah ini, produktifitas susu sapi di tiga kecamatan ini juga dilaporkan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapasitas produksi susu sapi di Koperasi SAE Pujon mencapai 117 ton per hari sebelum wabah PMK ini ada. Namun setelah wabah ini muncul, produktifitas susu hanya menjadi 70 ton per harinya. 

Berdasarkan hal tersebut, terpisah, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sodiqul Amin berasumsi bahwa jika laktasi dari 1 ekor sapi bisa menghasilkan perahan susu sebanyak 10 liter, maka jika dibandingkan dengan penurunan produktifitas susu yang menurun mencapai sekitar 40 ton, diperkirakan ada sekitar 4.500 sapi yang belum bisa menghasilkan susu akibat  tertular PMK. 

"Itu kalau sesuai dengan nilai produktifitas. Lalu itu tadi di Ngantang, oleh KUD Sumber Makmur sudah disampaikan bahwa saat ini sudah di atas 5.000 (ekor), di Kasembon sekitar 1.500. Sehingga estimasi kita yang dipastikan terjangkit ditambah ternak yang sudah menunjukkan gejala klinis, sudah di angka sepuluh ribu," ujar Sodiqul. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Leny Suryanirazia satpol pp kota batupenolakan ustaz abdul somad

Berita Lainnya

Berita

Terbaru