Tingkatkan Kemampuan Dosen Menulis Karya Ilmiah, UIN Malang Hadirkan Guru Besar UGM

Jun 07, 2022 11:38
Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Irwan Abdullah (Ist)
Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Irwan Abdullah (Ist)

JATIMTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang terus berupaya meningkatkan atau upgrade kemampuan dan kualitas para dosen terkait penulisan karya ilmiah. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), UIN Maliki Malang menggelar workshop Metodologi Penelitian dan Academic Writing. 

Dalam workshop yang  berlangsung di ruang rapat senat lantai 4 rektorat, Selasa 7 Juni 2022… tersebut, guru besar Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Irwan Abdullah  hadir sebagai pemateri. Dalam paparannya, Prof Irwan menyampaikan materi berjudul  Desain Riset dan Publikasi. 

Irwan mengatakan, kualitas tulisan dapat dilihat dari pernyataan hipotesis awal. Selain itu, kualitas tulisan dilihat dari bagaimana seorang penulis dalam mendiskusikan objek penelitian. Sehingga, apakah seseorang tersebut masih dalam tahapan pemula atau telah ahli pada bidang tertentu juga tercermin dari sebuah karya ilmiah. 

Sebagai seorang praktisi akademik,  disen diharapkan berbeda dengan ketika membuat karya ilmiah seperti halnya jenjang sarjana S1. Sebagai praktisi akademik, dosen harus lebih menggali dan mengenali kaitan dengan bidang keilmuan yang diampu. Seseorang harus meningkatkan kualitas tulisannya guna menunjukkan ada peningkatan secara keilmuan bagi seorang pengajar.

3

"Dosen itu setidaknya harus membuat tulisan sekelas tesis S2," ujar guru besar Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM itu. 

Penelitian tentunya harus jelas arah, baik itu dalam posisi akademis maupun empiris. Dicontohkan, dalam penelitian untuk resolusi, maka dari awal haruslah diperjelas. "Jangan penelitian yang akademis, tapi bahasa kita untuk kebijakan. Jadi, nggak nyambung. Tapi memang ada penelitian yang akademis untuk menghasilkan suatu resolusi," jelas Irwan.

Posisi penelitian harus terarah dan jangan sampai tidak membawa sebuah hal positif, baik itu pemahaman baru atau keilmuan baru, atau bahkan penemuan baru. Banyak studi yang berjalan hanya sampai ke pemahaman. Padahal,  penelitian sebaiknya berujung pada problem solving (pemecahan masalah).

Menurut Irwan, pada taraf penelitian di kementerian, penelitian bersifat akademis kurang terapresiasi. Jadi, sebaliknya  penelitiannya mengarah ke resolusi atau kebijakan. 

Selain itu, Irwan  menyampaikan mengapa sebuah masalah menarik untuk diteliti. Alasan empirisnya yakni terdapat ancaman, problem solving, fakta historis, Aktual, ekstrem dan penyimpangan.

2

Sementara untuk alasan teoritis, ada continue debate (debat berkelanjutan), theoritical needs (kebutihan teori), controversy (kontroversial), theory testing (uji teori), penolakan, neglegted issue. Kemudian, syarat penelitian dapat memeprtanyakan/menjawab satu masalah, menguji suatu teori atau hipotesis asumsi, prosedur yang benar dan menghasilkan data yang tepat, bukan pendapat atau kesan peneliti.

1

Dalam penyusunan proposal, penulis juga harus memperhatikan metodologi penelitian. “Dari situ, para penilai proposal penelitian akan memiliki kesan apakah calon peneliti ini memahami apa yang ingin diteliti atau tidak," pungkas Irwan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
UIN Maliki MalangWorkshop penulisan karya ilmiah dosenPeningkatan kualitas karya ilmiah

Berita Lainnya

Berita

Terbaru