Berkah Ramadan, WBP Lapas Perempuan Malang Terima Banyak Pesanan Kue dan Hampers Lebaran

Apr 30, 2022 18:15
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Malang Tri Anna bersama WBP di dapur pembuatan kue kering di dalam LPP Kelas IIA Malang. (Foto: Dok. JatimTIMES)
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Malang Tri Anna bersama WBP di dapur pembuatan kue kering di dalam LPP Kelas IIA Malang. (Foto: Dok. JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada momentum Bulan Suci Ramadan 1443 Hijriah, para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang mendapatkan berkah ramadan. Pasalnya, para WBP Lapas Perempuan Kelas IIA Malang telah menerima banyak pesanan kue kering dan hampers untuk lebaran.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Tri Anna Aryati mengatakan, pesanan kue kering ataupun hampers lebaran datang dari keluarga, keluarga sesama WBP, para petugas Lapas Perempuan Kelas IIA Malang maupun masyarakat umum.

"Alhamdulillah kita banyak pesanan baik dari lingkungan luar maupun petugas lapas, biasanya saat Ramadan, pesanan kebanyakan kue kering untuk lebaran," ungkap Tri Anna kepada JatimTIMES.com.

Kue kering yang menjadi langganan dibuat oleh para WBP di momentun menjelang Hari Raya Idul Fitri yakni kue kacang, kue nastar, palem, hingga kastengel. Untuk memberikan kesan berbeda dan kekinian, para WBP juga menjual kue kering tersebut dalam bentuk hampers lebaran.

Di mana untuk satu paket hampers lebaran berisi tiga macam kue kering. Yakni nastar, palem dan permen yupi. Untuk satu paket hampers dihargai Rp 160 ribu. Hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, pihak WBP Lapas Perempuan Kelas IIA Malang telah membuat 160 paket kue kering hampers lebaran.

Selain itu, para WBP Lapas Perempuan Kelas IIA Malang juga memproduksi keripik yang tersedia dalam berbagai jenis dan rasa. Mulai dari keripik singkong, pisang, tempe, sayur, bawang bombai, dan lain-lainnya.

Dalam sehari, para WBP Lapas Perempuan Kelas IIA Malang bisa memproduksi 100 bungkus keripik. Untuk harga per satu bungkusnya pun sangat terjangkau, mulai di harga Rp 10 ribu saja untuk kemasan 150 gram.

Lalu pada momentum Bulan Suci Ramadan 1443 Hijriah ini, para WBP juga sempat menerima pesanan 50 pizza gulung untuk menu takjil berbuka puasa masyarakat diluar Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Setiap pizza gulung yang dibuat, dihargai Rp 18 ribu.

Semua produk kue kering, keripik hingga pizza gulung yang ada, dibuat di dapur khusus yang menyediakan berbagai bahan, peralatan penggorengan, hingga oven untuk pembuatan kue. Dapur ini berada di salah satu sudut Lapas Perempuan Kelas IIA Malang yang beroperasi mulai hari Senin sampai Jumat, pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Pihaknya menjelaskan, untuk produksi kue kering, keripik ataupun pizza gulung yang dibuat oleh WBP, semuanya sesuai pesanan yang ada. Tri Anna pun bersyukur karena di momentum Bulan Suci Ramadan 1443 Hijriah ini pesanan untuk kue lebaran terjadi peningkatan.

"Alhamdulillah ada peningkatan 20 persen untuk pesanan kue dan puasa ini tidak menghalangi warga binaan untuk bisa menghasilkan sesuatu," terang Tri Anna.

Berbagai macam produk kue tersebut juga dipromosikan melalui media sosial Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Salah satunya melalui instagram @lpp_malang. Selain itu petugas dari Lapas Perempuan Kelas IIA Malang juga turut membantu mempromosikan produk kue lebaran buatan WBP tersebut.

Sementara itu, salah satu WBP yang membuat kue yakni Christina (36) mengatakan bahwa dirinya telah membuat kue di dapur Lapas Perempuan Kelas IIA Malang tersebut sejak empat tahun yang lalu.

Dirinya menuturkan, tidak semua WBP bisa membantu membuat kue di dapur Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Melainkan sebelum terjun di dapur, harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Jika dirasa telah mampu, maka WBP tersebut dapat bekerja membuat kue.

"Senang bisa diajari membuat kue macam-macam. Karena kalau diam saja disini jenuh makanya kita harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin," ujar Christina.

Christina merupakan WBP terkait kasus penyalahgunaan narkoba. Bekerja membuat kue di dalam Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, dirinya bisa mendapatkan premi atau upah sebesar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan. Di mana uang tersebut dirupakan dalam bentuk uang digital.

"Uangnya dipakai untuk telepon atau video call ke keluarga itu kan juga ada biaya. Jadi bisa buat kebutuhan disini, preminya juga tidak menentu tergantung keuntungan yang diterima setiap bulannya," pungkas Christina.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
lapas perempuan malangwarga binaan lalas perempuan malangsejarah buruh

Berita Lainnya

Berita

Terbaru