Ciptakan Terobosan Baru bernama Hydroganik, Pria Asal Kabupaten Malang Raup Belasan Juta per Bulan

May 02, 2022 14:45
budidaya padi hydroganik (hydroponik dan organik) dan lele (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)
budidaya padi hydroganik (hydroponik dan organik) dan lele (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Warga Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang bernama Basiri (47) mampu menghasilkan hingga belasan juta rupiah per bulan dari budidaya padi hydroganik (hydroponik dan organik) dan lele.

Jika dilihat sekilas, padi Hidroganik yang dibudidayakan oleh Basiri itu sama dengan padi hidroponik pada umumnya. Yakni padi ditanam dalam pot yang terbuat dari botol plastik lalu diletakkan di atas instalasi paralon. Bedanya hanya pada konsep pengembangannya.

Basiri menjelaskan bahwa padi hidroponik yang dibudidayakannya itu tidak menggunakan pupuk kimia, tapi menggunakan pupuk organik yang berasal dari kotoran ayam.

“Nah, dari konsep inilah padi ini saya beri nama Hidroganik, perpaduan nama hidroponik dan organik,” ungkap Basiri di sela-sela membersihkan padinya dari tanaman liar.

Bahkan, Basiri juga membudidayakan benih ikan lele pada kolam yang dibuat tepat di bawah instalasi paralon padi hidroganik itu.

“Air yang kita alirkan ke dalam paralon untuk mengairi padi ini dipompa dari kolam lele, sehingga satu kolam bisa menghidupi padi dan lele sekaligus,” terang Basiri.

Di situ, terlihat ada 15 unit paralon dengan panjang rata-rata 10 meter dan panjang kolam lele 10 meter persegi. Sedangkan jumlah lele yang berada di masing-masing kolam tersebut mencapai kurang lebih 20 ribu ekor.

“Kalau padi ini panennya 3-4 bulan. Kalau lelenya sekitar 2 minggu sekali sudah panen,” tutur Basiri.

Setiap panen padi, Basiri mengaku bisa menghasilkan 400 kilogram beras dalam sekali panen. “Padi Hidroganik ini rata-rata saya jual hingga Rp 20 ribu per kilogram. Jadi kalau 400 kilogram, rata-rata omzet yang kami dapatkan mencapai Rp 8 juta,” beber Basiri.

Sementara untuk lele, sekali panen Basiri bisa menjual sebanyak 1 ton per bulan. “Kalau ditotal dengan harga lele sekarang senilai Rp 16 ribu, berarti omzet yang didapatkan senilai Rp 16 juta per bulan,” tutur Basiri.

Bahkan bisnis yang dilakoni Basiri terbilang minim risiko. Karena tanamam padi hanya bisa gagal karena cuaca. Sedangkan lele risiko terbesar hanya karena penyakit.

“Kalau risiko padi kami tidak bisa mengelak karena tergantung cuaca. Tapi itu jarang. Kalau lele bisa diatasi asal kita rajin memperhatikan ikan lele kita jika mengalami sakit. Maka segera diobati,” kata Basiri.

Untuk pengobatannya pun, Basiri mengaku cukup mudah. Yakni tinggal memberi obat antibiotik selama 2 hari. “Cara itu biasanya cukup efektif untuk menyembuhkan,” singkat Basiri.

Berdasarkan pengalaman budidaya yang ia geluti sejak 6 tahun itu, Basiri tidak segan membagikan ilmu bertani dengan konsep Hidroganik itu untuk masyarakat yang juga ingin mengembangkan. Ia membuka peluang kesempatan belajar pertanian ala Hidroganik itu di rumahnya difasilitasi oleh Kementerian Pertanian bernama Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Bengkel Mimpi.

“Selain membuka peluang belajar di rumah ini bagi warga, saya juga kadang di undang oleh instansi-instansi pemerintah baik di tingkat daerah, provinsi, sampai pusat untuk memberikan pelatihan membudidayakan padi Hidroganik ini,” pungkas Basiri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
budidaya padi hidroganikbudidaya padi pagelaranhendropriyono

Berita Lainnya

Berita

Terbaru