Nobar Film Arek Malang di Aneka Ria Sinema, Bertabur Kritik Membangun

Apr 22, 2022 18:22
Kegiatan diskusi usai nobar film dalam Aneka Ria Sinema. (Foto: Guyub Film Malang Raya)
Kegiatan diskusi usai nobar film dalam Aneka Ria Sinema. (Foto: Guyub Film Malang Raya)

JATIMTIMES - Pandemi ternyata tidak menyurutkan tekad arek-arek Malang untuk menghasilkan karya film. Setidaknya, sudah 10 film di antaranya dihimpun oleh Guyub Film Malang Raya dan diputar dalam program "Aneka Ria Sinema" di Twin Vault Space (Jalan Simpang Candi Panggung 123a Kota Malang) pada Rabu-Kamis (20-22/4/2022) kemarin.

Film-film yang diputar merupakan film karya arek Malang yang diproduksi tahun 2020, 2021, dan 2022. Terdapat 6 film yang diputar pada hari Rabu (20/4/2022), yakni Sebelum Cerah yang disutradarai Alief Wahyu Abdillah dan diproduksi Kine Klub UMM 2021. Selanjutnya Masa / When The Blue Moon Comes Up yang disutradarai Alfarizi Dwi Saputra dan diproduksi Semicolon 2021.

Kemudian Memoar yang disutradarai Faris Ghozi Ghaisani dan diproduksi Loan House Production 2021. Berikutnya Tilam Sari yang diutradarai Rudy Triono dan diroduksi M5V.Film & Padepokan Film 2021. Selanjutnya Imajinasi yang disutradara Lukman Hakim dan diroduksi Raya Media Creative & Kemendikbud 2020, dan Sinyal Nol Biji Nol yang disutradarai Dzauqy F. Ilham dan diroduksi Gardav 2020.

Film-film yang diputar itu tak jarang merepresentasikan kondisi saat diproduksi. Film berjudul Sinyal Nol Biji Nol karya Sutradara Dzauqy F. Ilham misalnya. Film tersebut bercerita mengenai perjuangan kompleks siswa yang sekolah online di masa pandemi yang dikemas secara komedi.

"Film ini pada awalnya memang niatnya dibuat untuk menghibur di kala pandemi. Tapi Alhamdulillah dapat menang juga dalam kompetisi Indiskop Online Film Festival 2020," ujar Ilham, Sutradara film Sinyal Nol Biji Nol.

Menariknya lagi, terdapat film Imajinasi karya Sutradara Lukman Hakim yang mengangkat isu soal Merdeka Belajar. Penulis sekaligus Produser film Imajinasi, Novin Setyo Wibowo mengatakan bahwa film ini merupakan project bersama Kemendikbud.

"Isunya tentang Kemerdekaan Belajar. Bahwa tidak ada orang yang lebih unggul dan lebih pintar dari orang lain. Si rangking 1 itu nggak selamanya hebat, setiap anak hebat di bidangnya masing-masing," terang Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Sementara itu, terdapat 4 film yang diputar di hari Kamis (21/4/2022), di antaranya sebagai berikut Sengkarut / Grasping at Straws yang disutradarai Ahmad N Fahminudin dan diproduksi Akarphi 2021. Kemudian Persenan yang disutradarai Lukman Hakim dan diproduksi Raya Media Creative2021.

Selanjutnya A Thread disutradarai Akbar Ardianugraha dan diproduksi Kine Klub UMM 2022. Kemudian Ora Srawung, Mati Suwung / A Closed Mouth Catches No Files yang disutradarai Destian Rendra Pratama dan diroduksi Hisstory Films 2020.

Film-film yang diputar di hari kedua ini memiliki tema yang beragam. Sengkarut misalnya. Film karya Sutradara Ahmad F Aminuddin ini mengangkat cerita tentang suami istri yang tak kunjung diberi keturunan. Sementara itu, film A Thread karya Akbar Ardianugraha mengangkat tema sexual harassment, bahwa laki-laki juga dapat terkena pelecehan seksual.

Berbeda dengan yang lain, film Persenan hadir secara jenaka dengan mengangkat tema yang cukup berat, yakni mengenai korupsi. Film tersebut secara tidak langsung menampilkan praktik korupsi yang sudah mengakar di kalangan birokrat. Film ini merupakan film yang memenangkan pitching dalam Anti Corruption Film Festival (ACFFest) yang digagas oleh KPK.

"Sebenarnya ini autokritik untuk kita pekerja seni yang nanti akan bekerja dengan birokrat. Juga kritik untuk para birokrat, di semua sektor pengadaan biasanya seperti itu (terdapat praktik korupsi)," imbuh Novin Setyo Wibowo, Penulis sekaligus Produser film Persenan.

Sebagai informasi, Film Persenan saat ini terpilih menjadi official selection Lift Off Film Festival di UK. Film ini juga mendapat kontrak khusus dengan platform Cinemaworld Singapura.

Berbicara mengenai prestasi, film Ora Srawung Mati Suwung karya Sutradara Destian Rendra Pratama juga terpilih sebagai official selection SeaShorts Film Festival 2020 dan Balinale Film Festival 2021. Film yang bercerita soal bahaya laten rasan-rasan ini baru-baru ini mendapatkan penghargaan Gary L Hayes Award for Emerging Indonesian Filmaker di Balinale Film Festival tersebut.

10 film yang diputar dalam program Aneka Ria Cinema tersebut dihimpun oleh Guyub Film Malang Raya. Guyub Film Malang Raya sendiri merupakan titik kumpul bagi para pelaku film Malang Raya untuk bersilaturahmi, belajar, berdiskusi, dan bergembira.

"Di Malang punya lingkaran-lingkaran kecil yang punya potensinya masing-masing. Guyub Film Malang Raya dibuat sebagai salah satu usaha kami untuk mencoba menembus batas tersebut karena potensi-potensi itu bisa kuat kalau kita bersama," tandas Ketua Guyub Film Malang Raya, Arfan Ardhi Perdana.
 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
film karya arek malangfilm malangfilm malangFestival Film Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru