Manfaatkan Limbah, Lapas Kelas I Malang Kembangkan Inovasi Budidaya Maggot

Apr 04, 2022 15:04
Salah satu Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas I Malang saat melakukan budidaya maggot. (Foto: Humas Lapas Kelas I Malang)
Salah satu Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas I Malang saat melakukan budidaya maggot. (Foto: Humas Lapas Kelas I Malang)

JATIMTIMES - Dalam rangka mencari solusi pemanfaatan limbah di dalam area lapas, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Malang Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM RI Jawa Timur mengembangkan sebuah inovasi terkini, yakni melakukan budidaya maggot atau belatung. 

Kepala Lapas Kelas I Malang RB Danang Yudiawan mengatakan, pihaknya memang secara masif melakukan inovasi dan pengembangan pada masing-masing Unit Kegiatan Kerja (UKK). Salah satu yang sedang menjadi fokus saat ini yakni bimbingan Kerja budidaya pengolahan maggot atau belatung. 

"Ini menjadi solusi pemanfaatan limbah dalam lingkungan Lapas Kelas I Malang dan mampu memproduksi maggot menjadi berbagai macam varian yakni maggot kering dan basah," ungkap Danang dalam keterangan yang diterima JatimTIMES.com, Senin (4/4/2022). 

Pihaknya menjelaskan, bahwa Lapas Kelas I Malang memang memiliki motto yakni Inovasi Tiada Henti. Di mana hal tersebut tidak hanya motto dalam ucapan lisan, namun juga terlihat dalam bentuk praktik serta sinergi antara Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan petugas Lapas Kelas I Malang. 

"Inovasi tiada henti sudah menjadi motto kita, khususnya dalam unit kegiatan kerja yang erat kaitannya dengan pembinaan kepada para warga binaan di Lapas Kelas I Malang, dengan WBP yang terampil maka Lapas Kelas I Malang mampu untuk mencetak WBP yang bermutu," kata Danang. 

Maggot.

Sementara itu, salah satu WBP yang mengikuti budidaya maggot di dalam Lapas Kelas I Malang yakni Sucipto mengatakan, maggot atau belatung hidup dapat langsung dijual dengan harga kurang lebih Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per kilogram. 

Untuk olahan maggot yang sudah menjadi kering bisa dibuat dalam bentuk pelet atau pakan ikan. Dalam proses pembuatannya pun cukup mudah, hanya melalui dua alternatif yakni dijemur atau dimasak menggunakan arang dan pasir. 

Jika menggunakan alternatif pembuatan dengan dijemur, membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari untuk menunggu maggot kering. Sedangkan pihak budi daya maggot Lapas Kelas I Malang menggunakan metode dimasak dengan arang dan pasir. Karena waktu produksi lebih cepat. 

"Pertama, maggot hidup direbus menggunakan air panas mendidih, sampai keseluruhan maggot mati. Setelah direbus, maggot dijemur sekitar 1 jam, sambil menunggu kadar air berkurang," jelas Sucipto. 

Setelah kadar air berkurang, kemudian disiapkan pembakaran arang, pasir secukupnya dan penggorengan. Pihaknya mengatakan bahwa pasir harus dicuci terlebih dahulu hingga bersih. Lalu setelah arang sudah siap, pasir yang sudah bersih tersebut dimasukkan ke dalam penggorengan beserta maggot yang telah dijemur.

"Memasaknya harus dengan cara dibolak-balik, agar maggot tidak gosong, kalau gosong tidak dapat dipakai, juga tidak dapat dijadikan pelet maupun pakan hewan," ujar Sucipto. 

Setelah maggot benar-benar kering dan kadar air di dalam maggot sudah habis, kemudian maggot sudah siap untuk di packing dan diedarkan di pasaran. Sucipto menuturkan, untuk harga satu kilogram maggot kering mencapai Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu.

"Harganya maggot kering lebih tinggi dari pada maggot basah, peminatnya masih banyak di pasaran luar biasanya dari kalangan peternak hewan, khususnya ikan dan unggas," pungkas Sucipto. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
pemalsuan kartu vaksinasiLapas Kelas I MalangBerita MalangBerita Jatim

Berita Lainnya

Berita

Terbaru