50 Tahun BMS dan Bedah Buku Puisi Sastra Pascakolonial Karya Eka Budianta 

Mar 19, 2022 15:15
Sampul Buku Sungai Sejati Surabaya Zaman Omikron karya Eka Budianta sumber : ngopibareng.com
Sampul Buku Sungai Sejati Surabaya Zaman Omikron karya Eka Budianta sumber : ngopibareng.com

JATIMTIMES - Acara pembacaan puisi menandai 50 Tahun Bengkel Muda Surabaya (BMS). Acara tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Jum'at, 18 Maret 2022 pukul 19.30 WIB. 

Dalam acara tersebut Yusri Fajar selaku Kritikus Sastra Asal Universitas Brawijaya akan membedah buku kumpulan puisi berjudul Sungai Sejati: Surabaya Zaman Omikron karya penulis bernama lengkap Christophorus  Apolinaris Eka Budianta Martoredjo tersebut. 

Acara yang digelar dalam rangkaian Jelang 50 Tahun Bengkel Muda Surabaya (BMS) juga dirayakan dengan pembacaan puisi-puisi Eka Budianta oleh para pegiat sastra. Diantaranya, Dindy, Helen, Heroe Budiarto, Yudith, Otoks, Alvaro, Reihan, Tara De Athar, Bintang, Theresia Citraningtyas (putri Eka Budianta), Hidayat Rahardja ( Sumenep),  Dewi Musdalifah (Gresik),  Adnan Guntur (Surabaya), Oka, Sela, Fajar, Azzahra (Teater Gapus Unair),  Heti Palestina Yunani-Hisyam Kumkelo (wartawan).

Seperti yang diketahui  Eka Budianta merupakan penyair senior yang lahir di Ngimbang, Jawa Timur pada tahun 1956. Dalam riwayatnya yang dikutip dari Ngopi bareng.id. Eka Budianta pernah menjadi wartawan majalah Tempo (1980-1983), Yomiuri Shimbun (1984-1986), Radio BBC di London (1988-1991) dan kolumnis majalah Trubus dari 2001 sampai sekarang. 

Buku puisinya “Cerita di Kebun Kopi” (Balai Pustaka, 1981) menjadi buku inpres dicetak 83.000 eksemplar, dan “Langit Pilihan” jadi buku puisi terbaik Kemendikbud, 2012. Sejumlah karyanya telah terbit dalam bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Belanda, Jerman, Korea, Perancis dan Finlandia. Beberapa kali ia diundang untuk berpuisi di dalam maupun di luar negeri, termasuk di Inggris, Amerika Serikat, Lebanon, Korea, China, Jerman, dan kawasan ASEAN.

Buku Sungai Sejati; Surabaya Zaman Omikron ini adalah buku puisi karya Eka Budianta yang kesebelas, sebagai wujud karya bertaburnya keindahan, sublimasi, dan ragam suara sejak dari kesunyian paling gelap hingga bebunyian yang paling nyaring bagi pembacanya.

"Salah satu pertanyaan saya tentu terkait bagaimana kecenderungan puisi-puisi Pak Eka dalam rentang waktu. Adakah perbedaan? Adakah persamaan? Diantara puisi-puisi yang lahir diantara waktu yang berbeda itu yaitu pada tahun 1988 sampai 2022? Saya pernah membaca pendapat dalam buku 80 Sajak Puncak Dalam Sejarah Indonesia dinyatakan bahwa puisi yang Anda ciptakan dapat menciptakan microkosmos atau jagad besar yang mencakup cakrawala buana yang luas,”Ungkap Yusri Fajar, Kritikus Sastra asal Universitas Brawijaya dalam Zoom Meeting .

Dalam pembahasanya tersebut, membaca sepintas buku Sungai Sejati, memperlihatkan usaha penyair melukiskan ‘perjumpaan’ dan ‘penemuan’ bahasa sebagai pengalaman puitiknya, menyingkap otensitas dari pengalaman kepenyairannya. 

Eka mengalirkan estetika absurditas, alam, kegelapan, lingkungan, cinta, kebahagiaan, perjalanan, sejarah, penderitaan, kematian, wabah, bencana, religiusitas, identitas diri, pengembaraan, eksistensi ada dan ketiadaaan, kenangan, kesunyian,kegilaan, cinta remaja, refleksi, cinta yang agung, sampai kematian.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
eka budiantabuku puisi sungai sejati surabaya zaman omikron50 tahun bengkel muda surabaya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru