Sekjen Kemenaker Dikukuhkan sebagai Profesor Ke-166 UB

Mar 18, 2022 20:11
Prof Anwar Sanusi PhD dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB. (Ist)
Prof Anwar Sanusi PhD dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB. (Ist)

JATIMTIMES - Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan guru besar  baru, Prof Anwar Sanusi PhD dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pengukuhan digelar pada Rapat Terbuka Senat Akademik UB, Sabtu (19/03/2022), di gedung Samantha Krida. 

Pria yang juga sekretaris jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker)  ini dikukuhkan sebagai profesor tidak tetap dalam bidang Ilmu Kebijakan Publik (Pengembangan Perdesaan). Ia merupakan profesor ke-2 dari FISIP, dan profesor aktif ke-166 di UB dan merupakan profesor ke-292 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Prof Drs Anwar Sanusi MPA PhD  menyampaikan orasi bertema Multi-level Collaborative Governance: Sebuah Pendekatan Baru dalam Mewujudkan Desa Mandiri di Era Digital. 

Dijelaskan Prof Drs Anwar Sanusi, perkembangan era digital menyebabkan ekonomi dunia sedang mengalami transformasi besar ke arah knowledge economy. Dinamika perkembangan desa juga tidak lepas dari arus besar ini.

Desa tidak hanya mengalami digitisation atau konversi teknologi informasi analog ke dalam bentuk digital), namun juga digitalisation atau proses sosio-teknis yang dikelilingi penggunaan teknologi digital, yang berpengaruh terhadap konteks sosial dan institutional dan nantinya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di pedesaan.

"Melihat kompleksitas perkembangan kondisi dan tantangan strategis perdesaan, maka diperlukan bentuk-bentuk kebijakan publik perdesaan yang lebih lincah, adaptif, transformatif, dan kokoh," jelasnya.

Namun demikian, hingga saat ini masih sangat sedikit studi kebijakan publik yang menyentuh tentang kebijakan perdesaan. Dari tahun 2014 hingga 2020, sangat minim kajian kebijakan publik yang membahas tentang kebijakan perdesaan, sedangkan di tahun yang sama, kajian tentang kebijakan perkotaan mendapatkan porsi yang cukup besar.

Permasalahan kedua, saat ini mengalami stagnasi pendekatan pembangunan perdesaan. Permasalahan pertama dan kedua tersebut bermuara pada permasalahan ketiga, yaitu minimnya fokus tata kelola pembangunan perdesaan pada tataran level meso-institusional.

"Dalam hal ini, kita memerlukan terobosan pendekatan kebijakan publik terkait tata kelola pemerintahan Perdesaan Indonesia yang tidak lagi semata-mata terfokus pada aspek-aspek makro-struktural dan makro-kultural," tuturnya.

Dari situ, Prof Anwar menawarkan pendekatan baru yang disebut dengan Multi-level Collaborative Governance (MLCG). Pendekatan MLCG ini merupakan pendekatan yang dinilai cukup relevan dalam upaya pengembangan desa. Dalam prosesnya,  melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan multi-level pemerintah dalam kerjasama yang sistematis dan terstruktur dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, hingga sektor swasta.

Selain itu, MLCG juga mendorong pengembangan desa berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dengan demikian, pendekatan MLCG mempercepat pencapaian desa mandiri melalui 3 (tiga) keluaran utamanya, yaitu manajemen pengetahuan, kepemimpinan transformatif, dan rekognisi kearifan lokal.

Keunggulan dari pendekatan MLCG adalah adanya keterlibatan berbagai multi-level sektor, pengembangan desa yang berbasis potensi lokal desa dan berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal, serta memanfaatkan teknologi dalam upaya pengembangan desa. 

 "Seluruh pemangku kepentingan merupakan objek sekaligus subjek pembangunan perdesaan," jelasnya.

Lanjut Prof Anwar, MLCG ini akan mendorong sense of belonging yang kuat akan tanggung jawab pembangunan perdesaan. Pembangunan perdesaan akan lebih bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan lingkungan strategis dan mampu meminimalisasi risiko yang muncul dari proses pembangunan tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Universitas BrawijayaBerita MalangPengukuhan guru besar UBGuru besar universitas brawijaya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru