Bawa-bawa Nama SBY dalam Wacana Presiden 3 Periode, Sekjen PSI Dea Tunggaesti Dapat Serangan Baru

Mar 12, 2022 09:46
Sekjen PSI Dea Tunggaesti (Foto: IST)
Sekjen PSI Dea Tunggaesti (Foto: IST)

JATIMTIMES - Sekjen PSI Dea Tunggaesti kembali mendapat serangan baru karena membawa nama Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dea diminta tidak membawa-bawa nama SBY saat bicara soal amandemen agar presiden bisa menjabat 3 periode.

Polemik yang terjadi antara Rocky Gerung dan Dea ini berawal dari sikap Dea soal wacana penundaan Pemilu 2024. Dea awalnya tegas menyatakan bahwa pemilu tidak boleh ditunda dengan alasan pandemi Covid-19. 

"PSI tidak bisa menerima usulan perpanjangan masa jabatan presiden. Idealnya, pemilihan presiden, pemilihan anggota legislatif (DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi, kabupaten, dan kota) tetap terlaksana pada 14 Februari 2024," kata Dea. 

Dea lalu bicara soal peluang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjabat 3 periode. Ia mengatakan, jika partai-partai di DPR melihat adanya aspirasi kuat dari rakyat agar Jokowi meneruskan kepemimpinannya, jalan satu-satunya adalah melalui amandemen UUD RI.

"Ini adalah pilihan paling adil, dan nantinya tidak hanya Pak Jokowi, tetapi Pak SBY bisa ikut berlaga kembali. Begitu juga Pak JK bisa ikut berkompetisi sebagai kandidat calon wakil presiden melalui mekanisme pemilu yang jujur, adil, dan transparan pada tahun 2024," kata Dea. 

"Namun tentunya hal tersebut harus didasari oleh amandemen konstitusi yang memperbolehkan Pak Jokowi berlaga kembali pada Pemilu 2024," sambung Dea. 

Pernyataan Dea itulah yang kemudian dikritisi oleh pengamat politik Rocky Gerung. Rocky mengaku heran terhadap sikap Dea yang tidak setuju pemilu ditunda tapi tak masalah jika Jokowi 3 periode.

"Berita gila adalah PSI menolak penundaan tetapi pro-3 periode. Jadi gue lihat ini PSI makin bego setelah Faldo (Staf Khusus Mensesneg) pindah ke Istana," jelas Rocky dalam acara Adu Perspektif yang dikutip dari tayangan Detik.

"Kan aneh, dungu," tegas Rocky.

Dea pun lantas menyerang balik Rocky Gerung yang menyebut 'dungu'. Ia menyebut komentar Rocky 'supercerdas'.

Dea menilai usulnya soal 3 periode lebih logis dibanding upaya memperpanjang masa jabatan dengan menunda pemilu. Dalam hal ini, Dea mengaku hanya ingin melindungi Jokowi secara konstitusional.

"Pernyataan saya adalah sebuah tanggapan atas realitas politik yang telah dinyatakan secara terbuka oleh partai-partai yang ada di parlemen, yang ingin memperpanjang masa jabatan Presiden tanpa melalui pemilihan umum. Inilah yang kami kritik, inilah yang kami tolak. Inilah cara kami memperjuangkan tegaknya konstitusi agar Pak Jokowi terlindungi secara konstitusional," kata Sekjen PSI Dea dalam keterangan tertulis. 

Ia kemudian mengatakan usulan PSI itu semata-mata mempertahankan pemilu 5 tahun sekali sesuai konstitusi. Dia menyebut Rocky Gerung lupa akan hal itu.

"Apabila kelak, pada akhirnya partai-partai di parlemen yang saat ini PSI tidak ada di sana, kemudian melakukan amandemen konstitusi, dan membuka ruang bagi Pak Jokowi untuk maju kembali di Pemilu 2024, di mana rakyat bisa secara bebas memilih Pak Jokowi ataupun kandidat lain, maka tanpa ragu kami pasti akan mendukung Pak Jokowi paling pertama dan terdepan karena jelas prestasi dan kerja kerasnya buat rakyat Indonesia. Sebagaimana hasil survei yang menyatakan bahwa lebih dari 70 persen rakyat Indonesia puas terhadap kinerja Pak Jokowi," ujar Dea.

Kembali ke anggapan dungu, Dea membiarkan pandangan Rocky Gerung tersebut. Menurutnya, penilaian itu adalah kebencian yang sifatnya subjektif dan personal terhadap Jokowi dan para pendukungnya.

Dea meminta Rocky untuk belajar kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menparekraf Sandiaga Uno yang besar hati mendukung pemerintah walaupun kalah dalam pemilu. Bahkan, Dea menyindir upaya yang Rocky lakukan untuk negara.

"Satu hal lagi, Pak, sedungu-dungunya saya, saya tidak akan pernah membangun rumah yang sertifikatnya bukanlah milik saya," ucap Dea.

Sementara, Pendiri Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) Rachland Nashidik membela Rocky Gerung yang menyerang Dea Tunggaesti dengan ucapan dungu. Menurut Rachland, yang diserang Rocky bukan personal Dea, melainkan pikiran.

"'Dungu' yang dimaksud RG bukanlah serangan terhadap orang, tapi terhadap pikiran, persisnya terhadap ketiadaan koherensi dalam pikiran," kata Rachland. 

Rachland sepakat dengan Rocky kalau Dea 'bersilat lidah'. Dea, mau menolak penundaan pemilu yang dipandang inkonstutusional dengan menyorongkan gagasan penambahan periode presiden yang juga inkonstitusional.

"Ini yang dimaksud Rocky sebagai pikiran 'dungu'. Ini juga contoh dari pernyataan RG bahwa 'ijazah adalah tanda orang pernah sekolah, bukan tanda orang pernah berpikir'," ujar Rachland. 

Ia lalu meminta Dea tidak menyeret-nyeret nama SBY, yang disebutnya tegas menolak penambahan periode jabatan presiden, bahkan saat masih berkuasa. Rachland mengatakan SBY juga aktif mengusulkan pembatasan periode jabatan presiden sejak masih aktif di Fraksi ABRI.

"Secara histioris, ini bertujuan mencegah Indonesia kembali menjadi negara otoritarian akibat memiliki pemimpin otokratik dan korup," ucap Rachland.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Rocky Gerungdea tunggaestisekjen psi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru