Pertahankan Lahan Produktif, Pemilihan Lahan PenggantiAlun-Alun Kepanjen tidak Boleh Sembarangan

Mar 03, 2022 18:57
Salah satu lahan pertanian di Desa Jatirejoyoso Kecamatan Kepanjen.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Salah satu lahan pertanian di Desa Jatirejoyoso Kecamatan Kepanjen.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berupaya mempertahankan lahan produktifnya, atau lahan pertanian pangan dan berkelanjutan (LP2B). Hal tersebut menjadi salah satu hal utama yang diperhatikan, seiring dengan rencana Pemkab Malang untuk mempermudah iklim investasi atau seiring dengan berbagai program pembangunannya. 

Salah satunya adalah menyiapkan lahan pengganti bagi lahan yang rencananya bakal digunakan untuk membangun Alun-Alun Kepanjen. Meskipun lahan yang akan dijadikan alun-alun ini masih belum pasti, namun diperkirakan akan ada lahan produktif di Kepanjen yang bakal tergusur dalam rencana pembangunan alun-alun sebagai landmark Ibukota Kabupaten Malang. 

Konsekuensinya, Pemkab Malang juga harus menyiapkan lahan pengganti yang mungkin bakal tergusur. Saat ini, luas LP2B di Kecamatan Kepanjen yakni seluas 45.888 hektare. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, Tomie Herawanto mengatakan, penggantian lahan ini pun juga tidak boleh sembarangan. 

Artinya, kesesuaian dengan kondisi di lahan yang lama harus tetap diperhatikan. Sehingga harus benar-benar melalui kajian yang serius, di titik mana lahan pengganti itu ditempatkan. 

“Lahan produktif tidak serta merta bisa disebar di kecamatan lain. Ada norma yang perlu diikuti. Misalnya, kandungan dari tanah untuk lahan produktif itu. Area produktif tidak bisa tergantikan lahan yang bukan sawah. Luasannya mungkin iya, mudah diganti. Tetapi, kandungan tanah digunakan sebagai budidaya harus menjadi perhatian,” ujar Tomie.

Menurut Tomie, pada prinsipnya lahan pengganti yang disiapkan di daerah lain, diupayakan memiliki kualitas yang sama dengan lahan yang sebelumnya. Setidaknya, sebagai lahan produktif, maka lahan produktif juga diusahakan memiliki tingkat produktifitas yang serupa. 

"Misalnya, lahan yang tergusur bisa memproduksi satu ton padi di setiap panen, maka lahan pengganti harus bisa menghasilkan kuantitas produksi yang sama," terang Tomie. 

Tetapi, kondisi existing yang ada di lapangan, tidak menutup kemungkinan lahan pengganti yang bakal disiapkan memiliki kondisi yang berbeda. Atau tidak memenuhi unsur hara yang setara dengan lahan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, lahan pengganti harus ditambah. Hal itu untuk menyiasati agar kuota produksi lahan pengganti sama dengan lahan yang tergusur. 

"Misalnya 1 petak diganti 1 petak, produktivitasnya ternyata tidak memenuhi. Secara luasan, bisa ditingkatkan dua sampai tiga kali. Arahnya ke sana, tidak serta merta begitu saja. Karena beda kandungan (dalam tanah)-nya,” imbuh Tomie.

Selain kandungan dalam tanah yang harus sama, hal lain yanh juga turut diperhatikan adalah fasilitas pendukung seperti irigasi. Artinya, lahan pengganti juga harus memiliki saluran irigasi. Sebab, hal tersebut juga berpengaruh pada produktivitas. 

Hal tersebut ternyata juga masuk di dalam pembahasan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang saat ini tengah dalam penyesuaian. Plt Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma mengatakan, bahwa dalam penyesuaiannya, ada perubahan komposisi pada lahan pertanian di beberapa titik. Termasuk di wilayah Kepanjen, sebagai Ibukota Kabupaten Malang. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Alun alun KepanjenTomie HerawantoLahan Produktif

Berita Lainnya

Berita

Terbaru