Dikukuhkan Jadi Guru Besar, 2 Profesor UB Singgung Ancaman UMKM dan Kualitas Air

Feb 25, 2022 19:00
Prof Dr Astrid Puspaningrum (kiri) dan Prof Dr Dra Catur Retnaningdyah. (Ist)
Prof Dr Astrid Puspaningrum (kiri) dan Prof Dr Dra Catur Retnaningdyah. (Ist)

JATIMTIMES - Universitas Brawijaya (UB) kembali melakukan pengukuhan guru besar. Dua profesor baru tersebut yakni Prof Dr Astrid Puspaningrum dan Prof Dr Dra Catur Retnaningdyah. Pengkukuhan tersebut bakal dilaksanakan Sabtu (26/2/2022).

Prof Astrid merupakan profesor aktif ke-20 dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), profesor aktif ke-162 di Universitas Brawijaya (UB), serta menjadi profesor ke-287 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Sementara, Prof Catur merupakan profesor aktif ke-26 dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), profesor aktif ke-163 di Universitas Brawijaya, serta menjadi profesor ke-288 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Dalam orasi ilmiah yang akan dibawakan, Prof Astri akan membahas perihal Entrepreneurial Creativity untuk Membangun Keunggulan Bersaing dan Meningkatkan Kinjera Pemasaran. 

Dirinya melihat, permasalahan yang terjadi semenjak ASEAN  China Free Trade Area (ACFTA) resmi rilis pada tanggal 1 Januari 2010 lalu, sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia akan menghadapi ancaman serius yaitu proses deindustrialisasi.

Ketidakmampuan produk-produk Indonesia untuk bersaing di era ACFTA akan menyebabkan penutupan unit-unit usaha. Para pelaku UMKM tidak lagi menjadi produsen, melainkan hanya sebagai sales dari barang-barang produksi negara importir lain. 

Melihat ketidakmampuan produk-produk Indonesia untuk bersaing di era ACFTA, maka UMKM di Indonesia perlu membangun daya saing. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan perusahaan untuk menghadapi berbagai tantangan dan peluang adalah, pendekatan yang didasarkan pada resources-based view (RBV). Melalui RBV, organisasi dapat membangun keunggulan bersaiang yang berkelanjutan melalui pengunaan sumber-sumber daya yang berupa finansial, manusia, sarana fisik, dan intangible asset (knowledge).

Entrepreneurial creativity yang disampaikan Astrid adalah model yang dikembangkan dari entrepreneurial creativity dan entrepreneurial networking sehingga ini akan menciptakan keunggulan untuk bersaing. UMKM kemudian mampu menghasilkan kinerja pemasaran yang baik sebagai alat untuk mengukur tingkat keberhasilan keseluruhan kinerja yang dilakukan.

"Keunggulan entrepreneurial creativity  jika dipraktikkan, maka daya saing dapat diraih dan kinerja pemasaran akan meningkat," jelasnya.

Sementara itu, Prof Catur akan menjelaskan tentang bagaimana peran vegetasi sebagai tanaman riparian  digunakan untuk meningkatkan kualitas air yang tercemar oleh polutan.

Dijelaskan, peningkatan kualitas air irigasi tercemar bahan organik, pestisida dan pupuk sintetik dapat dilakukan dengan cara aplikasi model teknologi fitoremediasi sistem kontinyu berupa “Riparian Vegetation in Irrigation Ditch (RVID)”.

"RVID ini merupakan komunitas hidromakrofita (tanaman air) lokal yang ditanam sebagai vegetasi riparian di tepi saluran irigasi sepanjang minimum 200 m dengan penutupan maksimum 80 persen," jelas Catur.

Hidromakrofita yang ditanam berupa gabungan dari beberapa tipe tanaman air lokal. Misalnya rumput, dlingo, endog-endogan, mendong atau purun tikus, keladi/senthe, pandan, teratai, akar wangi, genjer, paku ekor kuda, hydrilla, semanggi dan kangkung air.

Model RVID memiliki keunggulan efektif mampu meningkatkan kualitas air irigasi tercermin dari kadar oksigen terlarut yang tinggi dan penurunan kadar COD, TSS, Cl2 bebas, ortofosfat, turbiditas, suhu, nilai KMnO4, alkalinitas, BOD, TP, nitrat, konduktivitas, dan TKN. 

Peningkatan kualitas air juga terlihat dari peningkatan diversitas spesies makroinvertebrata bentos dan perifiton mengindikasikan penurunan tingkat bahan toksik di perairan, peningkatan kelimpahan spesies yang bersifat sensitif, serta penurunan nilai beberapa indeks biotik seperti FBI, TDI dan PTV sebagai indikator penurunan tingkat pencemaran bahan organik dan nutrisi di perairan. 

Dengan demikian, air irigasi hasil proses fitoremediasi ini dapat menjamin tersedianya air irigasi dengan kualitas yang baik untuk mendukung aktivitas pertanian yang sehat.

"Tapi ada kelemahan teknologi fitoremediasi model RVID ini, yakni kesulitan penanaman hidromakrofita sebagai vegetasi riparian di saluran irigasi yang sudah dibangun atau dibeton dan diperlukan tenaga ekstra untuk pemeliharaan supaya penutupan tanaman maksimum 80 persen," pungkasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Guru Besar UBUniversitas BrawijayaTambah profesorBerita Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru