Periode 2019-2021, Ini Persentase Penduduk Usia 0-17 yang Tak Miliki Akta Kelahiran di Kota Malang

Jan 02, 2022 18:42
Akta kelahiran (dispendukcapil.jemberkab)
Akta kelahiran (dispendukcapil.jemberkab)

JATIMTIMES - Akta kelahiran merupakan dokumen kependudukan yang sangat penting untuk kepastian hukum. Selembar kertas yang dikeluarkan negara ini berisi informasi mengenai identitas anak yang dilahirkan, mulai dari nama, tanggal lahir, dan nama orang tua.

Tetapi, tak dipungkiri masih ditemui anak yang belum memiliki akta kelahiran, termasuk di Kota Malang. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang periode 2019-2021 tentang survei persentase penduduk usia 0-17 yang memiliki akta kelahiran, masih ada yang belum memiliki akta kelahiran.

Hasil itu merupakan update data BPS Kota Malang pada 21 Desember 2021. Selain dari survei BPS, data tersebut juga bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Pada 2019, laki-laki yang menjawab ya (dalam arti memiliki akta kelahiran) dan dapat menunjukkan akta ada 71,39 persen. Mereka yang menjawab ya namun tidak dapat menunjukkan akta kelahiran sebesar 22,44 persen. Sedangkan yang tidak memiliki akta sebesar 6,17 persen dan yang menjawab tidak tahu nihil.

Sementara itu, pada periode 2020, yang menjawab ya (dalam arti memiliki akta kelahiran) dan dapat menunjukkan akta sebesar  62,22 persen. Mereka yang menjawab ya namun tidak dapat menunjukkan akta kelahiran sebesar 30,38 persen. Sedangkan yang tidak memiliki akta sebesar 7,40 persen dan yang menjawab tidak tahu nihil (sama seperti periode sebelumnya).

1

Periode 2021, yang menjawab ya (dalam arti memiliki akta kelahiran) dan dapat menunjukkan akta ada 79,61 persen. Mereka yang menjawab ya namun tidak dapat menunjukkan akta sebesar 17,57 persen. Sedangkan yang tidak memiliki akta (kini menurun angkanya,) menjadi 2,73 persen dan yang menjawab tidak tahu 0,09 persen.

Untuk anak yang berjenis kelamin perempuan usia 0-17, periode 2019, mereka yang menjawab ya (dalam arti memiliki akta kelahiran) dan dapat menunjukkan akta ada 64,58 persen. Mereka yang menjawab ya namun tidak dapat menunjukkan akta sebesar 31,54 persen.  Yang tidak memiliki akta sebesar 3,88 persen dan yang menjawab tidak tahu nihil.

Pada tahun 2020, mereka yang menjawab ya (dalam arti memiliki akta kelahiran) dan dapat menunjukkan akta ada 75,33 persen. Mereka yang menjawab ya namun tidak dapat menunjukkan akta sebesar 17,78 persen.  Yang tidak memiliki akta sebesar 6,89 persen dan yang menjawab tidak tahu nihil.

2

Sedangkan pada tahun 2021, mereka yang menjawab ya (dalam arti memiliki akta kelahiran) dan dapat menunjukkan akta ada 77,83 persen. Mereka yang menjawab ya namun tidak dapat menunjukkan akta sebesar 16,53 persen. Yang tidak memiliki akta sebesar 5,63 persen dan yang menjawab tidak tahu nihil.

Sementara itu, dilansir dari situs resmi Dukcapil, Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri Prof Zudan Arif Fakrulloh menyampaikan bahwa akta kelahiran merupakan hal yang sangat penting. Anak yang tidak punya akta kelahiran kurang terlindungi keberadaannya, yang itu berimbas pada masa depannya dan sulit mengakses pelayanan publik.

 Selian itu, seorang anak pun jadi rentan tindakan kriminal. Di antaranya perdagangan orang dan perkawinan di bawah umur. 

Karena itu, Ditjen Dukcapil mengajak  para orang tua agar peduli dan memahami pentingnya akta kelahiran. Hal ini juga sesuai dengan Pasal 5 dan 27 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Yakni setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan yang dituangkan dalam akta kelahiran.

"Ayo para orang tua, buatkan akta kelahiran anak kita segera setelah lahir. Syaratnya cukup membawa surat keterangan lahir dari rumah sakit atau bidan. Buat ibu yang melahirkan di rumah, membawa keterangan RT/RW setempat," ungkap Zudan Arif.

Topik
Akta Kelahirankompetisi aquascapeBPS

Berita Lainnya

Berita

Terbaru