Memanfaatkan Cacing Lumbricus Rubellus, Dosen Unisma Sulap Limbah Jadi Kompos

Dec 26, 2021 19:24
Pengabdian masyarakat di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu (Ist)
Pengabdian masyarakat di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu (Ist)

JATIMTIMES - Limbah pertanian dan peternakan menjadi hal yang kerap diabaikan dan dianggap menjadi sampah. Namun, di tangan Prof Dr Ir Nurhidayati MP Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang (Unisma), limbah tersebut diubah menjadi kompos tanaman holtikultura.

Memanfaatkan tepung ikan dan cangkang telur, proses pembuatan kompos berbeda dari biasanya. Cacing Lumbricus Rubellus dimanfaatkan dalam proses pembuatan kompos yang kemudian disebut sebagai vermikompos itu.

“Cacing dipilih karena merupakan pemakan sersah. Cacing juga bisa dibudidayakan dan masih bisa hidup ketika dibawa ke atas tanah. Jadi tidak seperti cacing tanah lainnya,” jelas Dekan Fakultas Pertanian itu.

Lebih lanjut dijelaskannya, vermikompos sendiri memang sudah dikenal dan digunakan petani. Namun perbedaan vermikompos buatan Nurhidayati adalah tambahan bahan tepung ikan dan tepung dari cangkang telur.  

“Tepung ikan kaya fosfor. Sedangkan cangkang telur 64 mengandung kalsium tinggi. Jadi vermikompos ini memperkaya nutrisi tanaman dengan kalsium dan fosfor agar kualitas buah dan sayuran lebih baik,” tuturnya.

Vermikompos dengan bahan aditif alami ini, saat ini juga sudah dipatenkan. Produk tersebut sudah diaplikasikan pada tanaman holtikultura di Karangploso, Landungsari, serta di sekitar kampus Unisma dan telah diuji coba pada sistem budidaya hidroganik. 

Hasilnya, hasil pertanian seperti misalnya jagung akan memiliki rasa lebih manis. Berbeda dibandingkan menggunakan pupuk biasa. Kemudian, bila pada komoditi sayuran, kandungan vitamin C, mineral dan antioksidannya lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk organik.

“Bahkan bisa memberikan efek residu 3 kali tanam berikutnya tanpa menambahkan pupuk lagi,” lanjutnya.

Dalam proses produksinya memakan waktu 1,6 bulan untuk menghasilkan 1 ton vermikompos. Namun kendala yang dialami adalah tempat produksi yang masih di dalam laboratorium sehingga dalam produksinya masih minim. 

Bila petani ingin memproduksi skala besar, tentunya harus menyediakan lahan yang bisa dirancang dengan menggunakan tempat penimbunan bahan organik di dalam tanah. Untuk 1 hektare (ha) lahan, butuh sekitar 10-20 ton vermikompos tergantung tingkat kesuburan tanahnya.

“Kendalanya masih pada tenaga. Selama ini kami hanya melibatkan mahasiswa dan belum fokus produksi untuk komersil skala besar. Padahal Kemenristekdikti sudah memberi paten dan berharap segera diproduksi massal karena hasilnya bagus,” terang Nurhidayati.

Saat ini, penelitian vermikompos masih terus dilanjutkan untuk membuat multipurpose vermikompos dengan tambahan biopestisida. Dengan penelitian lanjutan ini, kompos memberikan manfaat lebih. Tanaman tidak hanya mendapat nutrisi dari pupuk organik vermikompos, tetapi juga lebih tahan terhadap serangan hama. 

Produk baru ini diberi nama MPV (Multipurpose Vermicompost). MPV juga telah diuji coba pada tanaman sayuran dan buah tomat, melon dan strawberry.  Hasilnya mampu meningkatkan kualitas sayuran dan buah tersebut.

Sementara itu, hal ini juga dimanfaatkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Nurhidayati dengan tim beranggotakan Sunawan dan Sama'Iradat Tito mengaplikasikan dalam Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu Berbasis Vermikultur dan Budidaya Sayuran Organik. 

Pengabdian masyarakat itu dilakukan di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu dan merupakan pendanaan program penelitian kebijakan MBKM dan pengabdian masyarakat berbasis hasil penelitian dan purwarupa PTS Diktiristek tahun anggaran 2021. 

Di sana, tim melakukan kegiatan penyuluhan pertanian organik, pembuatan vermikompos dan vermikultur serta pendampingan praktek pembuatan vermikompos dan vermikultur yang sekaligus uji coba produk vermikompos dalam budidaya sayuran organik. 

Kegiatan ini diawali dengan pengadaan sarana prasarana untuk kegiatan tersebut berupa alat chopper, grinder, apartemen caci dan vermicomposting untuk mendukung praktek pembuatan vermikompos dan vermikultur tersebut. Kegiatan ini sebagai bagian hilirisasi hasil riset PTUPT Nurhidayati sejak 2015-2021.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
dekan fakultas pertanian unismacacing lumbricus rubellusvermikomposUniversitas Islam Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru