Laporan dari Muktamar Ke-34 NU di Lampung

Sidang Pleno Tatib Muktamar Sempat Diwarnai Kericuhan

Dec 23, 2021 05:25
Potongan gambar kericuhan yang terjadi di sela sidang pleno tata tertib muktamar. (Ist)
Potongan gambar kericuhan yang terjadi di sela sidang pleno tata tertib muktamar. (Ist)

JATIMTIMES - Sidang pleno pembahasan tata tertib Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung berlangsung panas dan sempat diwarnai kericuhan. Bahkan, aksi kericuhan tersebut diabadikan dalam video oleh muktamirin yang hadir dalam pleno Rabu (22/12/2021) malam di gedung serbaguna UIN Raden Intan.

Video tersebut bahkan kini viral dengan tersebar di media sosial WhatsApp. Dalam video, tampak seorang pria saling tunjuk dan saling teriak dengan seorang pria berbaju putih.

 Namun, aksi tersebut tak sampai pada aksi yang berujung  adu fisik. Itu  lantaran panitia dan Banser segera sikap untuk mencegah kericuhan yang bisa berujung adu fisik tersebut. 

Dari informasi yang terima dari salah satu sumber yang enggan menyebutkan namanya, kericuhan itu bermula  dalam pembahasan draf tata tertib (tatib) terkait keabsahan pengurus wilayah, pengurus cabang, dan cabang istimewa NU yang memiliki hak suara.

Pasal yang dimaksud adalah pasal tiga ayat satu dan dua di bab III draf tatib.  Dalam pasal 3 poin (1) draf tatib muktamar, berbunyi “muktamar dianggap sah penyelenggaraannya jika dihadiri sedikitnya 2/3 dari jumlah pengurus wilayah, pengurus cabang, pengurus cabang Istimewa NU yang sah”.

Kemudian pada poin (2), disebutkan bahwa "pengurus wilayah, pengurus cabang dan pengurus cabang istimewa yang sah ditetapkan dalam surat keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Berdasarkan hal tersebut, kemudian salah satu muktamirin mempertanyakan dari mana saja pengurus cabang yang mempunyai keabsahan. 

Kericuhan terjadi saat pimpinan sidang Mohammad  Nuh memilih menunda untuk melakukan membahas pasal 3 tatib muktamar. Ia memilih untuk melanjutkan membahas pasal-pasal berikutnya yang sudah disepakati peserta sidang.

Namun beberapa muktamirin tak setuju dan menginginkan untuk dilakukan pembahasan hingga selesai. Setelah itu, terjadi perdebatan hingga sidang sempat diskors.

Sidang pleno tatib muktamar terus berlangsung dalam pembahasan yang banyak diwarnai interupsi dan perdebatan. Hal itu tak pelak juga membuat pimpinan sidang memberikan sikap penegasan. "Biar saya yang mutusi," pungkas Mohammad Nuh yang saat ini terus memimpin sidang.

Topik
penyelamatan dramatisMuktamar NUNahdlatul Ulama

Berita Lainnya

Berita

Terbaru