Di Sebelahnya Ada Sungai, Jalan di Kepanjen Masih Tetap Banjir

Dec 21, 2021 16:04
Kondisi banjir yang terjadi di simpang tiga Jalan Krapyak, Kepanjen.(Foto: Istimewa).
Kondisi banjir yang terjadi di simpang tiga Jalan Krapyak, Kepanjen.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Persoalan banjir di sejumlah titik di Kabupaten Malang  masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Pasalnya, saat hujan turun dengan intensitas yang cukup tinggi, biasanya muncul genangan air di beberapa titik. 

Seperti yang terjadi di wilayah Kepanjen. Pantauan di lapangan, saat hujan turun cukup lebat pada Senin (20/12/2021), ada beberapa titik di Kepanjen yang terjadi banjir. Antara lain di Jalan Krapyak Desa Panggungrejo dan di simpang empat Kepanjen. 

Bahkan, berdasarkan informasi yang dihimpun, banjir di Jalan  Krapyak sudah menjadi langganan saat turun hujan lebat. Padahal, di sisi timur jalan tersebut ada aliran sungai yang cukup besar. 

Informasi yang dihimpun, genangan air terjadi mulai di ruas jalan sekitar Pasar Cokoleo atau Pasar Sumedang, mengarah ke selatan hingga di sekitar simpang tiga Jalan  Krapyak, Panggungrejo. Ketinggian banjirnya pun  hampir mencapai lutut orang dewasa. 

Hal itu membuat masyarakat yang melintas harus menurunkan laju kendaraannya. Sebab, permukaan air dan sungai yang ada di sebelah timurnya menjadi hampir tidak dapat dibedakan. 

Bahkan, banyak kendaraan roda dua  yang sampai mogok karena kemasukan air. Tidak sedikit pula pengendara roda dua yang memilih untuk menepi dan menunggu hingga banjir sedikit surut. 

Camat Kepanjen  Eko Margianto menyebut, diperlukan adanya penataan ulang pada drainase dan pedestrian untuk menangani banjir yang kerap terjadi. Sedangkan untuk jangka pendek, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Kabupaten Malang.  Sebab, banjir yang terjadi disinyalir masih berhubungan dengan keberadaan bidang pengairan dan dua dam besar di Kabupaten Malang. Yakni Dam Blobo yang tersambung dengan Kali Molek dan Dam Sonosari Pakisaji yang terhubung dengan irigasi pertanian di Desa Jatirejoyoso.

“Nah kalau dam ini tidak ditutup saat hujan turun, maka akan terjadi peningkatan volume air yang berasal dari aliran dam sekaligus limpahan air hujan,” ujar Eko, Selasa (21/12/2021). 

Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, yang akan dilakukan adalah menutup saluran irigasi tersebut, terutama saat hujan turun dengan intensitas yang tinggi. Hal itu juga telah ia koordinasikan denan unit pelaksana teknis (UPT) terkait. 

Sedangkan untuk jangka panjang, masih harus menunggu penyesuaian rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang akan dilakukan seiring Kepanjen menjadi ibu kota Kabupaten Malang.  “Saat ini sedang masuk tahapan ketiga konsultasi publik. Kami sedang menunggu itu sambil juga melakukan koordinasi awal dengan dinas dan instansi terkait banjir,” imbuh Eko.

Sementara pada Selasa (21/12/2021), pihaknya melakukan pengerukan sedimen di Kali Molek. Kegiatan tersebut menyusul pengerukan drainase di Kalirejo yang sudah mereka laksanakan pada Jumat (17/12/2021) lalu. 

Topik
konservasi sahabat alam indonesiaBerita Malangyoni pribadi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru