KH Nurkholis Almaulani: Muktamar Lampung Memilih Pemimpin NU, Bukan Memilih Ketua Partai

Dec 18, 2021 08:21
Pengasuh Pondok Pesantren Metal Moeslim Al Hidayat di Desa Rejoso Lor, Pasuruan, Jawa Timur, KH Nurkholis Almaulani (Ist)
Pengasuh Pondok Pesantren Metal Moeslim Al Hidayat di Desa Rejoso Lor, Pasuruan, Jawa Timur, KH Nurkholis Almaulani (Ist)

JATIMTIMES - Pengasuh Pondok Pesantren Metal Moeslim Al Hidayat di Desa Rejoso Lor, Pasuruan, Jawa Timur, KH Nurkholis Almaulani, memberikan pandangan terkait pemilihan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) maupun Rais Aam dalam muktamar di Lampung. 

Menurutnya pemilihan tersebut serasa partai politik. Sebab, terkesan seperti tidak terdapat kandidat lain yang itu mengindikasikan adanya Parlemen Threshold (Syarat minimal perolehan suara untuk diikutkan dalam penentuan ketua).

"Seakan-akan calon harus dilakukan rekrutmen daripada suara-suara dari beberapa daerah dengan mengesampingkan asas demokrasi, asas kebebasan, sebagaimana yang dijalankan para muaszis, pendahulu kita dalam memilih pemimpin," ujarnya.

Lebih lanjut dirinya menegaskan, agar kepada seluruh kader NU, khususnya untuk mereka yang mempunyai hak suara, untuk memilih pemimpin dengan mengunakan hati nurani. Memilih pemimpin mengunakan hati yang bersih dan bukan atas dasar kepentingan kelompok ataupun diri sendiri.

Karena itu, dalam Muktamar NU di Lampung, para kader NU harus mengambil posisi dan memilih pemimpin yang sesuai dengan harapan umat, pemimpin yang tidak ada campur tangan dari siapapun, serta pilihan murni dari hati nurani para Muktamirin.

"Bahwa pemilihan Ketua PBNU dan Rais Aam, bukanlah pemilihan partai politik atau pemilihan pemimpin yang diawali dengan politik kepentingan ataupun berbagai macam rekayasa dengan uang dan segala macamnya," tuturnya Gus Nurkholis.

Yang saat ini sedang sunter dua calon Ketum PBNU adalah KH Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Staquf. Satu dengan lainnya saling menjatuhkan dan saling mengkalim mendapatkan dukungan dengan melakukan gerilya sebelumnya. Selain itu, para calon membentuk tim, mempengaruhi melakukan provokasi guna memperoleh dukungan kuat.

"Saya mengajak kawan-kawan dan sahabat-sahabat untuk memilih pilihan yang benar. Ada KH Marzuki Mustamar, Ada Kyai As'ad Ali. Jadi saya melihat saat ini saya membutuhkan pemimpin yang bisa menyatukan semua golongan, yang mampu menyatukan kelompok yang saat ini terpisah. NU Garis Lurus, NU Khittah 26 juga diharapkan kembali pada kita," terangnya.

Harapan tersebut, pihaknya melihat ada pada diri KH Marzuki Mustamar. Kyai sederhana itu, memiliki pandangan konsisten pada NKRI dan juga punya jiwa kepemimpinan yang mengayomi. Sosoknya tidak silau pada posisi sebagai pimpinan, akan tetapi sangat toleran dan peduli pada bawahan, meskipun harus masuk kampung-kampung, kota ke kota bahkan hingga ke hutan.

"KH Marzuki Mustamar sangat layak jadi Ketum PBNU 2021-2026. Insyallah beliau bisa membawa NU masuk ke masa keemasan, dimana kita akan memasuki zaman keemasan 100 tahun. Dibutuhkan pemimpin yang soleh, alim, jujur dan punya jiwa kepemimpinan yang mengayomi dan tidak memperkaya diri sendiri," pungkasnya.
 

Topik
Muktamar NUJelang Muktamar NUlimbah cv trima avalKH Marzuki MustamarPartai Politik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru