PVMBG Tetapkan Status Gunung Semeru Naik Menjadi Siaga

Dec 17, 2021 16:25
Warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang saat menyelamatkan diri dari semburan awan panas Semeru (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)
Warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang saat menyelamatkan diri dari semburan awan panas Semeru (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengumumkan aktivitas Gunung Semeru saat ini naik status, dari level II atau menjadi level III yang berarti siaga.

Pemberitahuan peningkatan status tersebut tertuang dalam surat bernomor 484/GL.5/BGL/2021 yang diterbitkan pada 16 Desember 2021 dan ditandatangani oleh Kepala Badan Geologi, Eko Budi Lelono.

“Tingkat aktivitas Gunung Semeru dinaikkan dari waspada level 2 menjadi siaga level 3 terhitung mulai 16 Desember 2021 pukul 23.00 WIB,” ucap Eko dalam keterangan tertulisnya, Jum'at (17/12/2021).

Dalam hal ini Eko menjelaskan, terkait peningkatan status tersebut dikarenakan pada Kamis (16/12/2021) kemarin terdapat luncuran awan panas pada pukul 09.01 WIB sejauh 4,5 KM dari puncak Semeru. Hal itu terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 912 detik.

“Kenaikan status itu karena aktivitas Gunung Semeru masih tinggi dan telah terjadi peningkatan jarak luncur awan panas guguran serta aliran lava,” jelas Eko.

Untuk itu, Eko mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak gunung (Pusat Erupsi).

“Masyarakat juga tidak boleh memasuki dan tidak boleh beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” ungkap Eko.

Eko juga menegaskan jika terdapat erupsi kembali, ada kemungkinan terdapat perluasan aliran awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak gunung. 

“Jika berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan masih akan berlangsung selama tiga bulan ke depan. Secondary explosion juga berpotensi terjadi di sepanjang aliran sungai apabila luncuran awan panas masuk atau kontak dengan air sungai,” terang Eko.

Saat ini Eko menerangkan, aktivitas awan panas guguran masih berpotensi terjadi. Hal itu karena adanya endapan aliran lava dengan panjang aliran dua kilometer dari pusat erupsi.

Aliran lava itu menurutnya masih belum stabil dan berpotensi longsor, terutama di bagian ujung alirannya. Sehingga bisa mengakibatkan awan panas guguran. Untuk itu, masyarakat diimbau menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.

“Selain berpotensi terjadi awan panas, potensi terjadinya aliran lahar juga masih tinggi mengingat curah hujan yang cukup tinggi di Gunung Semeru,” pungkas Eko.

Dari data yang diterima JatimTIMES, jumlah warga yang mengungsi akibat erupsi Gunung Semeru tercatat ada 10.565 jiwa. Sedangkan untuk korban jiwa yang meninggal dan telah ditemukan ada 48 jenazah. Namun, dari jumlah tersebut, untuk sementara ada 36 orang lainnya masih belum ditemukan. Saat ini, tim SAR gabungan telah resmi menutup operasi pencarian korban erupsi Gunung Semeru usai 14 hari melakukan pencarian sejak 4-17 Desember 2021.

Topik
jokowi salat jumatPVMBGerupsi semeru

Berita Lainnya

Berita

Terbaru