Pascasarjana UIN Malang Dorong Peneliti Indonesia Kembangkan Literasi agar Bebas dari Imperialisme Barat

Dec 14, 2021 19:32
Seminar Nasional Current Trends On Research Methodology In Language Teaching secara daring, Selasa (14/12/2021). (Foto: Istimewa)
Seminar Nasional Current Trends On Research Methodology In Language Teaching secara daring, Selasa (14/12/2021). (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang mendorong para peneliti di Indonesia, khususnya para mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di UIN Maliki Malang untuk mengembangkan literasi agar terbebas dan merdeka dari imperialisme barat. 

Pernyataan tegas tersebut dilontarkan oleh Wakil Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang Drs H Basri MA PhD saat membuka Seminar Nasional dengan tema "Current Trends On Research Methodology In Language Teaching" yang digelar secara dalam jaringan (daring), Selasa (14/12/2021). 

"Selama ini kita dijebak dan dikungkung, kita ini tidak bisa lepas dari collective memory of imperialism, kita harus tunduk kepada barat. Saya alumni barat tapi saya menggugat barat," tegas Basri yang merupakan lulusan University of Arkansas USA. 

Menurutnya, terdapat tiga hal yang harus menjadi perenungan bersama oleh para pemegang kebijakan dan mahasiswa Indonesia. 

Basri menyampaikan, penelitian tentang "Collective Memory of Imperialism" merupakan penelitian yang lahir pada abad ke 19-20. Di mana hal itu merupakan waktu yang cukup lampau sehingga tatanan dan paradigmanya pun tergolong kuno. 

Oleh sebab itu, para peneliti didorong agar keluar dari kungkungan itu dan hadir dengan membawa kebebasan baru melalui pengembangan berbagai literasi yang ada. Menurutnya, selama ini para peneliti terlalu menggunakan pakem pendekatan "Collective Memory of Imperialism". 

"Anehnya dan sayangnya, kita tunduk pada temuan mereka, padahal itu konstruksi mereka yang dianggap hal mutlak. Orang-orang tidak mau mengembangkan," terang Basri. 

Basri pun meminta para mahasiswa agar lebih disiplin dan konsisten dalam pengembangan literasi dari berbagai macam referensi atau sumber bacaan buku. Terlebih lagi, mahasiswa atau peneliti sekalipun seharusnya mempunyai keinginan untuk mencari sumber asli atau buku asli. 

"Menurut saya, orang dalam ilmu pengetahuan harus berangkat dari doubt (keraguan), yang lama harus dibongkar dan disoal, jangan dianggap suatu kebenaran," tutur Basri.

Selanjutnya, terkait abstrak dalam suatu penelitian, pihaknya menyarankan agar peneliti tidak kaku. Peneliti hanya cukup menyampaikan secara singkat, ringkas dan jelas terkait pendekatan yang digunakan dalam penelitian. 

"Saya tidak ingin kita dikungkung dan dijebak oleh mekanisme western concept of imperialism. Kita harus bebas," tegas Basri. 

Melalui kegiatan seminar nasional ini, Basri berharap agar mahasiswa dapat memperkaya dan mengembangkan pengetahuannya tentang metode penelitian yang terus berkembang. 

Selain itu, jajaran Pascasarjana UIN Maliki Malang juga berupaya untuk setiap tiga pekan sekali akan digelar diskusi ilmiah dengan berorientasi pada kualitas bahasan bukan kuantitas. 

"Ke depan, saya harap mahasiswa semakin kaya wawasannya, Prodi Bahasa Arab kita unggulan ya dan terbaik di Indonesia. Apa yang kita tulis, sebisa mungkin tidak terjajah oleh barat," tandas Basri. 

Sementara itu, dalam gelaran seminar nasional secara daring ini juga menghadirkan dua narasumber yakni Prof Dr Kisyani MHum dari Universitas Negeri Surabaya dan Kepala Program Studi S3 Pendidikan Bahasa Arab UIN Maliki Malang Dr Sutaman MA. Selain itu juga dihadiri oleh mahasiswa S3 Prodi Bahasa Arab dan masyarakat umum. 

Sutaman menyampaikan, penelitian tentang kebahasaan pada isu-isu Pendidikan Bahasa Arab (PBA) terus berkembang. Saat ini masih banyak mahasiswa yang belum terbiasa mengakses perkembangan penelitian kebahasaan, terutama untuk Bahasa Arab. 

"Kita akan mencoba membuka jendela-jendela baru dalam konstruksi penelitian Bahasa Arab, karena Bahasa Arab memiliki karakter yang lebih unik dari pada bahasa lain," ujar Sutaman.

Sutaman pun menuturkan, Bahasa Arab merupakan bahasa yang konsisten dan tidak dapat berubah meskipun oleh perkembangan zaman. Hal itu disebut sebagai Bahasa Fusha. 

Lebih lanjut, Bahasa Arab juga merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh kalangan di dunia internasional. Meskipun semua mengakui, dalam prakteknya penggunaan Bahasa Arab di dunia internasional masih kurang jika dibandingkan dengan penggunaan Bahasa Inggris. 

"Ini yang membuat objek kajian bahasa Arab semakin berkembang. Dalam konteks, Bahasa Arab sedikit lebih lambat dari Bahasa Inggris, karena Inggris punya kecepatan yang luar biasa," tutur Sutaman. 

Terakhir, Sutaman pun berharap terutama kepada para mahasiswa dan para peneliti yang ada di Pascasarjana UIN Maliki Malang agar dapat mengejar keterlambatan tersebut dan bisa mengembangkan penelitian terkini dalam konteks kebahasaan. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Pascasarjana UIN MalangUIN MalikiUIN Maliki MalangSeminar Nasional

Berita Lainnya

Berita

Terbaru