Kabar Penjarahan di Rumah Korban Erupsi Semeru, Begini Fakta-faktanya

Dec 11, 2021 09:07
Hasil tangkapan layar video terduga pelaku saat diamankan petugas.(foto: Istimewa)
Hasil tangkapan layar video terduga pelaku saat diamankan petugas.(foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Seorang pria yang diduga menjadi pelaku penjarahan di rumah korban erupsi Gunung Semeru diamankan warga dan sejumlah aparat. Dalam video yang beredar di media sosial tersebut, terduga pelaku pencurian itu diamankan dan sempat menjadi bulan-bulanan warga. 

Fakta tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Kapolres Lumajang AKBP Eka Yekti Hananto Seno yang menyebut bahwa kabar penjarahan adalah berita bohong atau hoaks. Dan dirinya juga mengaku bahwa saat itu masih belum ada laporan tentang adanya penjarahan atau barang hilang karena dicuri seseorang. 

"Nggak ada penjarahan. Laporan ke polsek juga tidak ada. Banyak hoaks sekarang. Imbauan  jangan terlalu percaya hoaks," tegas AKBP Eka.

Namun pernyataan kapolres Lumajang tersebut kembali bertolak belakang dengan pengakuan salah seorang warga Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, yang mengaku kambing ternaknya hilang. Dan juga kulkas milik tetangganya  raib saat ditinggal ke tempat pengungsian. 

"Kambing saya yang jantan sama betina yang sedang hamil hilang. Lalu tetangga saya, kulkasnya juga hilang," ujar wanita asal Curah Kobokan dalam video yang tersebar di media sosial.

Sementara itu, sebelumnya, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sariyanto sempat mendapat keluhan dari sejumlah warga yang mengaku beberapa barang di rumahnya hilang. 

Dalam penanganan bencana erupsi Gunung Semeru ini, Sariyanto sendiri bertugas di Dusun Kamar A Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Ia bersama relawan lain bertugas membantu warga yang akan mengevakuasi harta bendanya yang masih bisa diselamatkan. 

"Kalau ternak itu seperti ayam. Kalau seperti sapi atau kambing, tidak ada. Terus kompor-kompor itu banyak yang diambili. Hingga saat ini, banyak warga yang mengeluh kalau rumahnya dijarah," ujar Sariyanto, Rabu (8/12/2021) lalu.

Hal tersebut diketahui saat pihaknya mendampingi warga saat mengevakuasi barang-barangnya yang ada di rumah. Tepatnya hari dua pasca-Gunung Semeru erupsi. Yakni pada Senin (6/12/2021) lalu.  "Kalau laporan enggak, hanya saja mereka (warga) ini mengeluh," imbuh Sariyanto. 

Mengantisipasi hal tersebut terjadi lebih parah, pihak BPBD Kabupaten Malang dan BPBD Kota Batu dengan sejumlah relawan bersiaga hingga pukul 18.00 petang.  "Kami juga menghalau warga atau masyarakat yang datang karena ingin melihat lokasi terdampak, atau warga yang ingin selfie di lokasi kejadian. Jadi, seperti memblokade," terang Sariyanto. 

Hingga saat ini setidaknya sudah ada enam warga yang mengeluh karena rumahnya dijarah. Sementara itu, dari catatan Sariyanto, di Dusun Kamar A, ada sekitar 50 rumah yang terdampak banjir lahar dingin dan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Semeru. 

Topik
Relawan bencana Semeruerupsi semerurahasia kematianBudidaya vanili

Berita Lainnya

Berita

Terbaru