Coretan Kecil di Jendela Kaca, Doa yang Masih Tersisa saat Terjadi Letusan Semeru

Dec 10, 2021 21:04
Suasana terkini jalanan pasca Erupsi Gunung Semeru (Foto: Asmadi/JatimTIMES )
Suasana terkini jalanan pasca Erupsi Gunung Semeru (Foto: Asmadi/JatimTIMES )

JATIMTIMES - Sebaris kalimat yang tertulis dalam coretan jendela kaca salah satu rumah di Dusun Sumbersari Umbulan, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, cukup membuat hati miris.

Siapapun yang membaca tulisan di kaca tersebut, pastilah terenyuh akan doa dan harapan yang digoreskan agar selamat dari bencana Semeru yang terjadi pada hari Sabtu (4/12/2021) lalu.

“Lindungilah hamba ya Allah,” itulah tulisan disebuah jendela kaca rumah salah seorang warga yang hampir bisa dipastikan ditulis saat abu vulkanik mulai mengurung warga.

Tulisan tersebut diperkirakan dibuat saat abu vulkanik mulai menyebar. Karena coretan tangan itu terlihat jelas lantaran debu tebal yang menempel di jendela kaca, dan itu merupakan debu dari abu panas Gunung Semeru.

Namun sayangnya, tulisan itu tak bisa lagi dapat dijumpai saat tim JatimTIMES menuju rumah yang banyak diperbincangkan masyarakat tersebut. Karena kondisi rumah sudah rata dengan tanah, lantaran telah dirobohkan pada hari ini, Jumat (10/12/2021).

Dari cerita yang dikisahkan warga yang selamat, sebelum kejadian, warga masih tenang walau terdengar dentuman dari Gunung Semeru. Karena dentuman itu adalah hal biasa bagi mereka. 

Namun ketenangan warga mendadak berubah menjadi kepanikan. Dari bibir Gunung Semeru abu vulkanik keluar seolah jala maut yang benar-benar mengancam warga, hingga coretan di kaca tersebut menjadi saksi kepanikan penulisnya.

Tidak ada waktu untuk berfikir, awan panas sangat besar dan cepat menerjang  ladang dan permukiman warga. Sontak warga langsung berhamburan masuk ke rumah ketika abu vulkanik yang berasal dari muntahan Gunung Semeru membumbung tinggi.

"Orang-orang langsung lari masuk ke rumah. Seketika itu kondisinya  mencekam, gelap akibat datang abu," ungkap Warsito warga setempat.

Di dalam rumah, Warsito mengaku sesak karena abu vulkanik juga masuk ke rumahnya. Listrik tiba-tiba padam sehingga kondisi semakin gelap. Warsito keluar rumah ketika ada sedikit cahaya dan langsung menuju masjid setempat.

Di Masjid ternyata warga sudah berkerumun, mereka semua mencari perlindungan di tempat aman.

Awan panas telah membuat Dusun Sumbersari hancur. Ladang warga yang ada di pinggir aliran sungai ludes. Rumah-rumah hancur dan tertimpa abu vulkanik Semeru.

Ternak warga banyak yang mati bergelimpangan di kandangnya tanpa sempat diselamatkan.

Saat kondisi mereda, warga memberanikan diri untuk menengok rumahnya, sembari menyelamatkan barang berharganya yang masih tersisa.

Dari kondisi saat ini, mereka mengaku tidak ingin menempati kampung itu lagi. Mereka berharap direlokasi ke tempat yang aman.

"Semoga kami segera direlokasi ke tempat yang aman," kata Lukman, warga lainnya.

Begitu juga dengan Purwanto, ia sudah tidak ingin berada di kampung itu. Jika masih berada di kampung tersebut, menurutnya warga tetap dibayangi ancaman awan panas Semeru

"Kami tidak berharap rumah bagus, yang penting bagi kami ada tempat berteduh dan aman. Meski sederhana asal bisa tidur dengan nyenyak," ungkap Lukman.

Saat ini, warga di kampung tersebut masih mengungsi. Mereka kembali ke rumahnya hanya untuk mengamankan barang-barang yang masih tersisa.

Topik
erupsi gunung semeruerupsi semeruGunung Semerurelokasi rumah warga

Berita Lainnya

Berita

Terbaru