Siswa Dipegang "Burungnya" dan Digerayangi Oknum Perangkat Desa, Sekolah Turun Tangan

Dec 03, 2021 09:35
Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

JATIMTIMES - Buntut dugaan pelecehan siswa SLTA di Kabupaten Tulungagung oleh oknum perangkat di salah satu desa  wilayah Rejotangan, sekolah turun tangan. 

Menurut keterangan pembimbing praktik kerja lapangan (PKL) di sekolah tempat korban AA, Jumat (03/11/2021) hari ini sekolah akan datang ke desa.

"Kami (saya, bagian kesiswaan dan kajur) besok pagi (hari ini-red) akan menemui kepala desa untuk meminta keterangan di lapangan," kata RW, pembinbing praktik kerja lapangan, Kamis (02/12/2021) malam.

Pihak sekolah sudah melakukan langkah awal. Di antaranya agar AA kembali masuk dan kembali mengerjakan tugasnya untuk PKL, namun tidak lagi di desa melainkan di sekolah.

"Terkait dengan anak kami besok sudah mulai kembali PKL dan sudah kami beri motivasi untuk tetap melaksanakan PKL dengan baik di sekolah," jelas RW.

Seperti diketahui sebelumnya, siswa berinsiial AA (17), yang duduk di kelas 11 ini dan sudah tiga bulan menjalani PKL, di wilayah Kecamatan Rejotanga, tiba-tiba ngambek dan mengaku trauma.

Dengan suara lirih dan didampingi ibunya, AA mengaku mendapat perlakuan pelecehan dari salah satu perangkat desa tempatnya PKL. "Sudah berusaha menolak, tapi dia terus mendekat dan memegang bagian vital saya," ujarnya.

Saat itu, AA  sedang duduk di ruangan yang berfungsi dapur di kantor desa tempat AA mengikuti PKL. "Dia datang. Lama-lama pegang-pegang, mencium dan meraba," ungkapnya.

Tangan perangkat desa berinisial PJ itu memegang dan berusaha menahan tubuh AA. "Saya lawan sambil berteriak, saya takut," imbuh AA.

Ibu AA yang mendapat aduan dari anaknya itu tidak serta merta percaya. Namun, setelah menanyakan langsung kejadian itu, AA dengan gamblang menceritakan detik-detik upaya pelecehan yang dilakukan PJ.

"Saya ini biasanya merantau dengan suami. Karena anak saya malas sekolah, saya rela di rumah. Tapi begitu anak saya sudah mulai semangat mau ke sekolah, sekarang ada kejadian seperti itu," keluhnya.

Ibu AA yang enggan disebut nama dan inisialnya itu mengaku takut perlakuan PJ ke anaknya akan berdampak psikologis jangka panjang. "Buktinya sekarang saya suruh ke sekolah masih belum mau. Sudah tiga hari tidak mau ikut PKL lagi," terangnya.

Baik AA dan ibunya sudah melaporkan kejadian yang dialami ke pihak guru pembimbingnya. Karena minim saksi, AA hanya bisa memberikan bukti screenshort percakapan yang menjijikkan untuk disampaikan ke gurunya.

Dari percakapan WhatsApp itu, AA tampak menolak ajakan PJ. Namun, PJ terus membujuk dan merayu AA dengan alasan sayang dan semangat bekerja semenjak AA menjalankan PKL di kantornya.

Topik
Pelecehan seksualKasus pelecehan di TulungagungTokbanberita tulungagung

Berita Lainnya

Berita

Terbaru