Mayoritas Penderita HIV/AIDS Kota Malang Berusia Produktif

Dec 01, 2021 09:47
Ilistrasi. (Foto: hellosehat).
Ilistrasi. (Foto: hellosehat).

JATIMTIMES - Penyebaran HIV/AIDS patut diwaspadai. Di Kota Malang tercatat, pasien yang berobat di tahun 2021 ini sekitar 560 orang.

Namun, dari jumlah tersebut warga asli Kota Malang yang terjangkit HIV/AIDS sekitar 10 persennya atau 56 an orang. Hal itu, dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif.

560-penderita-hiv-aids-02c9288ed74585474c.png

Jumlah pasien yang menjalani Treatment HIV/AIDS dikatakannya menurun dibandingkan tahun 2020 lalu yang mencapai angka 600 an. Meski diakuinya tak begitu banyak penurunan, namun pembatasan aktivitas di masa pandemi Covid-19 tampaknya cukup berdampak dalam mengurangi penyebaran penyakit ini.

"Yang on treatment di Kota Malang 560 an, tapi yang asli berKTP Kota Malang 10 persennya. Artinya ini sudah turun dari tahun lalu. Mungkin karena kerumunan keramaian itu kan memepengaruhi untuk di hindari. Jadi klien-klien (sebutan bagi penderita HIV/AIDS) sudah paham. Sehingga kalau tidak melakukan kegiatan itu penularannya akan terhenti," ujar Husnul.

Di hari peringatan HIV/AIDS yang jatuh pada hari ini (Rabu, 1/12/2021) ini, Dinkes Kota Malang tetap mengimbau masyarakat untuk bermawas diri. Mayoritas, penderita merupakan seorang di usia-usia produktif kisaran 15 sampai 59 tahun. Husnul menyebut, penyebaran penyakit ini disebabkan berbagai hal.

"Penderita ini rata-rata usia produktif ya, 15-59 tahun. Kalau status sosialnya, pelajar ada, mahasiswa juga ada. Penyebabnya terutama perilaku mereka, penggunaan narkoba suntik, informasi yang semakin maju, IT itu kan ndak ada batas ya," jelas Husnul.

Saat ini, dikatakan mantan Direktur RSUD Kota Malang tersebut, Dinkes Kota Malang berupaya mewujudkan 3 zero HIV/AIDS. Di mana langkah ini untuk diusahakan agar tidak lagi ada penambahan kasus baru untuk ke depannya.

"Jadi 3 Zero, kosong penderita HIV/AIDS baru yang diusahakan. Kemudian, kosong untuk stigma dan diskriminasi, lalu kosong untuk meninggal karena HIV/AIDS," terang Husnul.

Evaluasi program kegiatan terkait penanganan HIV/AIDS juga dilakukan. Termasuk melibatkan 16 Puskesmas, dan 10 RS yang menangani pasien.

Para klien tetap diminta mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) dan melakukan kontrol sebulan sekali untuk melihat keluhan dan pemeriksaan secara klinis di layanan kesehatan.

"Kita juga libatkan LSM yang mengampu beberapa ponci atau kelompok kunci, misal waria, aidio, untuk memberikan edukasi HIV/AIDS itu," tandas Husnul.

Topik
HIV AIDSkasus hiv aidshabib zeinHusnul Muarif

Berita Lainnya

Berita

Terbaru