Begini Pentingnya Peran Pemulung bagi DLH Kota Malang

Nov 30, 2021 11:03
Sejumlah pemulung yang sedang memungut sampah di TPA Supit Urang. (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)
Sejumlah pemulung yang sedang memungut sampah di TPA Supit Urang. (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menyebut bahwa peran pemulung sangat berarti untuk mengurangi sampah. Berkat oemulung,  jumlah sampah yang masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir)  Supit Urang berkurang.

Plt Kepala TPA Supit Urang Budi Heriyanto memastikan bahwa pemulung tetap bisa melakukan aktivitasnya di TPA Supit Urang meski nantinya terdapat sanitary landfill. Menurut dia, keberadaan pemulung sangat berarti untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA Supiturang. Namun, pemulung tidak diperbolehkan beroperasi di tempat sanitary landfill.

“Jadi, yang 450 ton sampah  dibuang ke bak kontroler. Silakan pemulung di sana. Kalau tanpa ada pemulung, tugas kami juga akan berat,” kata Budi.

Terkait hal itu, pengelola TPA Supit Urang juga sudah melakukan komunikasi dengan para pemulung. Menurut Budi, hubungan antara pemulung dengan DLH Kota Malang selalu berjalan harmonis. “(Pemulung itu) hampir semuanya warga dari RW 05 Kelurahan Mulyorejo,” katanya.

Perlu diketahui, saat ini jumlah pemulung yang beroperasi di TPA Supit Urang sekitar 158 orang. DLH Kota Malang juga berencana untuk membuatkan kartu anggota bagi pemulung supaya lebih tertata.

“Selain itu, kami sebenarnya sudah ada niat untuk merekrut 40 pemulung untuk memilah sampah di sana. Tapi kembali lagi terbentur  anggaran sehingga belum berani,” ujar Budi.

Soal sanitary landfill, Budi mengatakan saat ini pengembangannya memang masih belum optimal. Salah satunya karena terbentur anggaran yang terbatas. Lalu beberapa alat berat belum tersedia. Juga alat untuk memadatkan sampah sehingga terpilah dengan air. “Lalu juga ekskavator. Itu yang kami tunggu belum datang,” kata Budi.

Untuk beberapa alat lainnya seperti loader atau pengeruk, kemudian dump truck, mobil tangki dan buldoser sudah ada. “Sebenarnya secara prinsip, kami sudah jalan. SDM (sumber daya manusia) juga sudah ada,” tambahnya. 

Nantinya sanitary landfill berada di lahan seluas lima hektare. Di sana terdapat 7 sel tempat pembuangan sampah.

Perlu diketahui, dalam sehari di Kota Malang bisa menghasilkan 687 ton sampah. Dengan perhitungan jumlah penduduk sekitar 1,1 juta orang dikalikan setiap penduduk, rata-rata memghasilkan 0,60 kilogram sampah. Namun ketika masuk ke TPA Supit Urang, berkurang menjadi 490 ton sampah dengan persentase sebanyak 70 persen merupakan sampah organik.

“Karena sudah berkurang, ada yang untuk makanan ternak, lalu dipilah sama pemulung yang ada di TPS (tempat pembuangan sementara), lalu diolah menjadi komposting di TPA,” ungkap Budi.

Topik
DLH Kota MalangDinas Lingkungan Hidup Kota MalangTPA Supit Urangdispatch

Berita Lainnya

Berita

Terbaru