Gagal Bayar Utang ke China, Satu-satunya Bandara Internasional Uganda Disita

Nov 29, 2021 13:54
Bandara Entebbe (Foto: Nile Post)
Bandara Entebbe (Foto: Nile Post)

JATIMTIMES -Uganda, Afrika Timur, kini harus menelan kepahitan karena kehilangan satu-satunya bandara internasional miliknya, yakni Bandara Entebbe. Hal itu disebabkan, Uganda gagal membayar pinjaman utang kepada China.

Melalui Bank Ekspor-Impor China (Bank Exim), pihak China telah menyita Bandara Internasional Entebbe Uganda dan aset lainnya. Semua berawal pada tahun 2015 lalu saat Uganda meminjam US$207 juta dari Bank Exim dengan bunga 2% saat pencairan. 

Pemerintah Uganda lantas menjadikan Bandara Internasional Entebbe sebagai jaminannya. Dana tersebut seharusnya digunakan untuk memperluas Bandara Entebbe, dengan jangka waktu peminjaman 20 tahun, dan masa tenggang 7 tahun.

Sayangnya, pembayaran utang mulai macet karena pihak bandara mengalami krisis keuangan. Melansir melalui India Today, pemerintah Uganda melepas klausul kekebalan internasional untuk mengamankan pinjaman. 

Sehingga, China bisa mengambil alih kepemilikan bandara tanpa melalui arbitrase internasional. Di sisi lain, Uganda telah berusaha untuk melakukan negosiasi ulang terkait kesepakatan tersebut. 

Namun dalam negosiasi terakhir, China menolak permohonan itu. Bandara Internasional Entebbe sendiri menangani lebih dari 1,9 juta penumpang per tahunnya. 

Sebagai informasi, Uganda bukanlah satu-satunya negara yang terjerat utang dengan China. Beberapa negara juga mengalami nasib serupa sehingga mereka harus menerima konsekuensinya.

Sri Lanka pernah merelakan pelabuhan dan bandara miliknya dikelola oleh China. Diketahui, saat itu China membiayai proyek pelabuhan Hambantota yang terletak di pantai Selatan Sri Lanka melalui bantuan utang sebesar US$ 1,5 miliar. 

Bantuan itu lantas diberikan pada tahun 2010. Namun, tahun 2017 Sri Lanka harus merelakan pelabuhan tersebut kepada China karena tidak mampu membayar utangnya. Keputusan itu dilakukan dengan menandatangani kontrak untuk melayani perusahaan milik negara China selama 99 tahun.

Negara selanjutnya yang terlibat utang dengah China adalah Zimbabwe. Peneliti di Institute dor Fevelopment of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman mengungkap, beberapa negara utang untuk membangun infrastruktur, salah satunya adalah Zimbabwe. 

Rizal mengatakan utang yang menjadi penopang pembangunan infrastruktur di negara itu nampaknya tidak semua memberikan hasil positif.

"Jadi ada bad story dan success story. Yang bad story itu Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan dan Sri Lanka," kata Rizal pada Maret 2018 lalu. 

Memang, utang itu tidak melulu digunakan untuk melakukan pembangunan infrastruktur. Seperti diketahui, sejak 1998, Zimbabwe mengirim pasukan dan membeli peralatan dari China untuk membantu Presiden Laurent Kabali melawan pemberontak Uganda dan Rwanda.

Untuk membiayai semua aktivitas tersebut, Zimbabwe lantas berutang kepada China dengan akumulasi nilai hingga mencapai US$ 4 juta atau Rp 54,8 triliun (kurs Rp 13.700).

Sayangnya, Zimbabwe tidak bisa membayar utang dan harus mengikuti keinginan negeri tirai bambu itu dengan mengganti mata uangnya menjadi yuan sebagai imbalan penghapusan utang. Selanjutnya yakni negara Nigeria. 

Kegagalan atau bangkrut juga dirasakan oleh Nigeria, di mana model pembiayaan melalui utang yang disertai perjanjian merugikan negara penerima pinjaman dalam jangka panjang. China mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal China untuk pembangunan infrastruktur di Negeria.

"Mereka membangun proyek infrastrukturnya lewat utang, akhirnya mereka tidak bisa bayar utang. Banyak beberapa negara, di antaranya Angola mengganti nilai mata uangnya," ujar Rizal.

Topik
uganda afrika timurutang ke chinabens leo meninggal duniaBerita Internasional

Berita Lainnya

Berita

Terbaru