Kisah Nyata Tentang Harapan

Nov 24, 2021 15:09

Judul buku                  : Segala-galanya Ambyar
Penulis                         : Mark Manson
Penerbit                       : Harper Collins Publishers, Jakarta
Tahun terbit                : 2020
Jumlah halaman          : 346
Peresensi                     : Annisa Amelia /  Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

 

JATIMTIMES - Buku dengan judul “Segala-galanya Ambyar” adalah sebuah buku tentang harapan yang ditulis Mark Manson untuk menjadi bekal hidup yang lebih baik dan dunia yang lebih baik. 

Mark Manson merupakan penulis dan blogger dari Swadaya. Dalam buku Segala-galanya Ambyar, Mark Manson membentangkan segunung penelitian psikologis, juga sederet kebijakan dari beragam filsuf mulai dari Plato hingga Tom Waits, untuk berbicara perihal agama, politik, uang, hiburan, dan juga internet. 

Dengan ciri khas gayanya berupa campuran antara penelitian dan humor, Mark Manson menantang kita untuk lebih terbuka dengan diri sendiri, secara jujur menguak definisi tentang keyakinan, kebahagiaan, kemerdekaan dan bahkan tentang pengharapan itu sendiri. 

Mark Manson juga memberikan konsep tiga pilar sebuah harapan untuk mengembangkan dan tetap mempertahankannya. Pertama, kontrol diri yang membuat kita dapat mengendalikan hidup kita sendiri. Kedua, percaya pada suatu nilai yang dapat diperjuangkan. Ketiga, jadi bagian dari komunitas yang juga menghargai apa yang kita hargai. 

Segala-galanya Ambyar ditulis dengan analisis psikologi yang dalam, menjadikan buku ini sebagai rujukan mengenai masalah tentang harapan-harapan dan mengenai masalah psikologis dualisme otak yang kadang tidak sinkron. Di buku ini diulas secara detail dan dengan cerita yang menarik. 

Buku ini terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama diberi judul HARAPAN sedangkan bagian kedua berjudul SEGALA-GALANYA AMBYAR. 

Bagian pertama terdiri dari lima bab yang masing-masing babnya membahas tentang (1) Kebenaran yang Menggelisahkan, (2) Kendali-Diri adalah Sebuah Ilusi, (3) Hukum Newton tentang Emosi, (4) 5 Cara Mewujudkan Mimpi-Mimpi Anda, dan (5) Harapan itu Ambyar. 

Sementara bagian kedua memiliki empat bab yang membahas (1) Formula Kemanusiaan, (2) Rasa Sakit adalah Konstanta Universal, (3) Ekonomi Perasaan, dan (4) Agama Final. 

Empat bab di bagian pertama buku ini terlihat mengiakan bahwa mempunyai harapan itu penting, karena lawan dari kebahagiaan bukanlah amarah atau kesedihan tetapi tidak adanya harapan (nihilisme). Tanpa harapan manusia percaya akan terperosok ke dalam kehampaan. 

Harapan lahir dari perasaan mengejar "sesuatu yang lebih baik" (karena ada sesuatu yang menurut kita "rusak"). Harapan hadir karena ada masalah yang perlu dicari jalan keluarnya. Adanya konflik berarti menjaga adanya harapan. Jadi di bab terakhir dari bagian pertama, Mark Manson menuliskan bahwa harapan ini bersifat destruktif. Harapan tergantung pada penolakan terhadap apa yang terjadi saat ini. 

Sehingga menurut Mark Manson di bagian kedua bukunya ini: jangan mengharapkan kehidupan yang lebih baik, cukup hiduplah dengan baik. Hidup dengan baik tidak sama artinya dengan menolak penderitaan. Jika memang hidup ini pada hakikatnya memaksa manusia untuk menderita, maka sepatutnya manusia belajar untuk menderita secara tepat.

Menderita secara tepat adalah dengan cara bersentuhan dengan penderitaan itu dan menemukan nilai serta makna di dalamnya. Mengejar kebahagiaan merupakan nilai beracun yang telah lama ada di kebudayaan manusia.

Pada bagian akhir bukunya ini, Mark Manson menyarankan: daripada mencari-cari harapan, berusahalah untuk tidak berharap dan tidak pula takut; juga, jangan takabur seolah-olah yakin mengetahui semuanya yang ada di dunia ini. Jadilah manusia yang lebih baik, lebih murah hati, lebih tabah, lebih rendah hati, dan lebih disiplin. Dengan begitu, barangkali kita bisa menerima kebenaran yang menggelisahkan. 

Kebenaran yang menggelisahkan tentang kehidupan yang dimaksud oleh Mark Manson adalah bahwa ketika kita sudah meninggal hanya sedikit kata-kata atau tindakan kita yang masih berpengaruh terhadap sekelompok kecil orang, dan itu pun hanya dalam waktu yang cukup singkat. 

Dengan kata lain yang lebih sederhana: kita bukan siapa-siapa. Otak pemikir itu objektif dan faktual sedang otak perasa itu subjektif dan relatif. Harapan mampu tumbuh kalau kita menjaga keseimbangan dan tak terlalu terseret pada salah satunya. Mark buat penjelasan yang lebar soal ini. Baginya otak perasa itu tak bisa menyeret kita terlampau jauh sehingga kita kehilangan nalar tapi juga tak mungkin diabaikan.

Buku ini memang pengantar ringan. Dunia menyukainya karena anjuranya sederhana dengan dibalut oleh argumen para filosof. Buku ini secara ringkas bisa dikatakan upaya kita untuk mampu menahan nafsu yang bisa membuat kita mampu menanam benih harapan.

Keunggulan buku ini adalah bagian sampul buku sangat menarik dengan warna pilihan yang pas dan strukturnya hampir sama dengan buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodoamat, dan familiar untuk para pembaca melihat sampul seperti buku sebelumnya. Dan didalam isi buku ini, secara tersirat mengajak untuk melakukan mindfulness, living the present and embrace all emotions. 

Kekurangan di dalam buku ini sama seperti buku terjemahan lainnya, yaitu dalam segi bahasa yang terkadang kurang bisa memahamkan, kalimat yang harus benar-benar teliti dalam membacanya.

Buku ini sangat relevan untuk dibaca bagi masyarakat umum, karena berisi tentang permasalahan sehari hari, karena mampu memberikan motivasi hidup ketika dalam masa yang sulit. Dan ada beberapa point yang perlu diperhatikan ketika pembaca sudah ada di bagian inti dari buku ini. Pemikirannya realistis tentang bagaimana menyikapi kehidupan yang semakin pesat dan maju.

 

Nama                           : Annisa Amelia
Instansi                        : Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas                       : Ilmu Kesehatan
Prodi                           : S1 Farmasi
Dosen Pembimbing    : Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si

Topik
mark mansonnataru kota blitar

Berita Lainnya

Berita

Terbaru