Anak dan Ibu Berbagi Suami hingga Punya Keturunan, Sebuah Tradisi Unik yang Masih Dijalankan Hingga Sekarang

Nov 21, 2021 12:05
Ilustrasi pasangan yang menikah (Istimewa)
Ilustrasi pasangan yang menikah (Istimewa)

JATIMTIMES - Bukan hanya Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi unik. Di belahan dunia lainnya, juga banyak negara yang memiliki budaya dan tradisi unik, Bangladesh India misalnya.

Di sana, terdapat sebuah tradisi  yang nampaknya tak ada di negara lainnya, dan bahkan mungkin dianggap hal yang tak lazim dilakukan. Sebuah suku, bernama, Suku Mandi di Bangladesh, India, mempunyai tradisi unik.

Melansir dari Orissa Post, suku tersebut mempunyai tradisi berbagi suami antara ibu dan anak. Tradisi tersebut bukan karena para gadis atau para anak menyukai hal tersebut. Akan tetapi, hal ini merupakan tradisi suku mereka sejak lama hingga berabad-abad lalu. Selain itu, juga belum terdapat jalan keluar untuk mengakhiri tradisi ini.

Namun, ketika kabar tradisi tak lazim ini sampai ke dunia media sosial, tradisi ini kemudian mendapat sorotan. Kisah ini mulai mencuat setelah seorang gadis yang diketahui bernama Orola Dalbot (30) menjadi perbincangan.

Orola Dalbot disebut telah dipaksa menikah dengan ayahnya setelah dia berusia 15 tahun. Bahkan setelah menikah, Orola Dalbot memiliki tiga anak dari hasil pernikahan dengan sang ayah.

Diketahui juga, jika ternyata hal ini tak hanya terjadi pada Orola saja, melainkan juga pada para gadis lainnya di desa.  Menurut Orola, sang ayah telah lama meninggal. Setelah itu, ibunya kemudian kembali menikah dengan seorang laki-laki bernama Noten.

Orola juga begitu terkejut, mengetahui jika pernikahannya telah terjadi ketika dia berusia 3 tahun, dalam upacara bersama dengan ibunya yang bernama Mittamoni (51). Menurut tradisi dalam suku Mandi matrilineal, ibu dan anak perempuannya menikah dengan pria yang sama.

"Saya ingin melarikan diri ketika saya tahu," kata Orola.

Dikatakan sang ibu, janda di suku Mandi yang ingin menikah kembali, harus memilih seorang pria dari klan yang sama dengan suaminya yang sudah meninggal. Akan tetapi, dalam pernikahan itu, seorang janda akan menawarkan salah atau putrinya sebagai pengantin kedua, dimana untuk urusan seks dan tugas nya akan dialihkan kepada sang putri ketik telah dewasa.

"Ibuku baru berusia 25 tahun ketika ayahku meninggal. Dia belum siap untuk melajang," kata Orola

Suku tersebut menawarkan Noten, yang saat itu berusia 17 tahun, sebagai suami baru Mittamoni, dengan syarat dia juga menikahi Orola. Apa yang diketahui Orola memang dirasakannya cukup berat. Sebab, ia harus berbagi suami tak lain dengan sang ibu. Terlebih lagi, hasil hubungan dengan sang ibu, Noten telah memiliki dua orang anak.

"Ibuku sudah memiliki dua anak dengannya. Aku menginginkan suamiku sendiri," katanya.

Akan tetapi, belakang, pengamat melihat, tradisi ini telah mati. Misionaris Katolik telah mengubah 90 persen dari 25000 anggota suku Bangladesh, dan banyak praktik Mandi yang dulu diterima sekarang menjadi tabu.

Meskipun belum ada angka pasti adanya tradisi berbagi suami ibu dan anak, seorang kepala daerah setempat mengklaim banyak keluarga yang masih menganut dan menjalankan tradisi tersebut.

"Orang-orang tetap diam tentang hal itu karena memiliki lebih dari satu istri tidak disukai oleh gereja," kata Shulekha Mrong, 
Kepala Achik Michik yang merupakan sebuah kelompok perempuan berpengaruh yang dijalankan oleh para tetua perempuan Mandi.

Topik
tradisi uniktradisi duniasuku mandisuku di indiasuku di india

Berita Lainnya

Berita

Terbaru