FEB Unisma Beber Pentingnya UMKM dan Upaya Pemulihan Ekonomi Nasional

Nov 01, 2021 18:55
webinar hybrid dengan tajuk "Daya saing UMKM Berorientasi Ekspor dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional" di Unisma (Ist)
webinar hybrid dengan tajuk "Daya saing UMKM Berorientasi Ekspor dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional" di Unisma (Ist)

JATIMTIMES - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (Unisma) mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional. Melalui kegiatan Interest 2021 dengan rangkaian webinar hybrid dengan tajuk "Daya Saing UMKM Berorientasi Ekspor dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional", dikupas tuntas mengenai daya dan upaya terkait pemulihan ekonomi. 

Mengupas itu, Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen sebagai penyelenggara, menggandeng Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Propinsi Jawa Timur serta Koordinator Export Center Surabaya Kemendag RI dan Tenaga Teknis Bidang Standarisasi Produk sebagai pemateri.

Nur Diana SE MSi, Dekan FEB Unisma menjelaskan, saat ini UMKM tidak hanya menghadapi era revolusi industri 4.0 saja. Akan tetapi, juga dihadapkan pada pandemi covid yang sampai kini belum usai. Hal itu tak pelak sangat  mempengaruhi perjalanan UMKM di Indonesia.

1

Hasil survei yang dilakukan oleh Asian Development Bank tahun 2020, terdapat 48,6 persen UMKM yang tutup sementara. Kian diperparah dengan permintaan domestik UMKM yang menurun 30,5 persen, dan 41% melakukan pembatalan kontrak. Belum cukup itu, hambatan lain UMKM  juga mencakup permasalahan suntikan modal.

Di sisi lain upaya, pemerintah membangkitkan UKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah menyerap anggaran untuk Dukungan UMKM sebesar Rp 112,44 triliun atau 96,7 persen dari pagu sebesar Rp 123,47 triliun. Dari segi regulasi, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM di Indonesia sebagai aturan pelaksanaan UU Cipta Kerja.

Faktanya kontribusi UMKM terhadap ekspor hanya sebesar 14,37 persen, lebih rendah dibandingkan negara lainnya di Asia, seperti Singapura 41 persen, Malaysia 18 persen, Thailand 29 persen, Jepang 25 persen, dan Tiongkok 60 persen.

“Produk daya saing kita apakah masih bisa menjadi ujung tombak mendukung perekonomian Indonesia. Tentunya di sini membutuhkan asupan-asupan dari entrepreneur yang mungkin bisa dihasilkan dari lulusan-lulusan perguruan tinggi,” tuturnya. 

Ketua Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto menyampaikan, Kadin Jawa Timur secara umum mempunyai program untuk meningkatkan sumber daya manusia. Sebab, semua sektor sangat tergantung dengan sumber daya manusia. Di antara program-programnya adalah pendampingan UMKM, mendirikan Rumah Kurasi serta bagaimana menciptakan wirausaha-wirausaha baru. 

“Sebagaimana kita tahu wiarausaha di Indonesia itu masih sedikit sekali, persentasenya hanya 3 persen," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, keberadaan UMKM sangatlah penting. Sebab, UMKM juga merupakan salah satu penggerak perekonomian masyarakat. UMKM menjadi konsentrasi Kadin dalam upaya peningkatan kapasitasnya. UMKM mampu menyerap tenaga kerja yang sangat luar biasa, yaitu 90 persen menciptakan tenaga kerja di Indonesia. 

Sementara itu, Moch Ardi (SEC) menyebutkan bahwa hal yang paling penting dalam ekspor adalah standarisasi mutu produk UKM yang berdaya saing.

“Bagaimana kita menciptakan standarisasi produk-produk yang dihasilkan itu memiliki daya saing, karena kalau kita tidak memiliki daya saing maka tidak bisa ekspor atau kalah dengan negara-negara lain,” katanya. 

“Persaingan kita tidak hanya di internal Indonesia saja, tapi juga negara-negara lain seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, mereka memiiki karakteristik yang sama dengan kita,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Ardi P memaparkan, bahwa kementerian perdagangan telah mempunyai website/aplikasi yang memberikan kemudahan bagi pelaku ekspor untuk mengetahui standar teknis negara tujuan ekspor yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha. 

Fasilitas ini tentunya kian membuka jalan para pelaku usaha untuk mengeluarkan perkonomian. Para pelaku usaha atau UMKM mampu berbenah diri untuk memenuhi kualitas atau standar untuk ekspor. Hal yang paling penting dalam ekspor adalah standarisasi mutu produk UKM yang berdaya saing.

“Bagaimana kita menciptakan standarisasi produk-produk yang dihasilkan itu memiliki daya saing, karena kalau kita tidak memiliki daya saing maka tidak bisa ekspor atau kalah dengan negara-negara lain,” katanya.

Selain itu, perwakilan dagang yang ditempatkan di 45 negara di dunia bisa market brief dan market intelligence yang memberikan masukan terhadap produk yang dihasilkan.

"Persaingan kita tidak hanya di internal Indonesia saja, tapi juga negara-negara lain seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, mereka memiiki karakteristik yang sama dengan kita,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
unisma malangwebinar umkmfeb unisma

Berita Lainnya

Berita

Terbaru