Buat Konten Medsos Harus Hati-Hati, Masyarakat Juga Harus Jeli Cari Informasi

Oct 25, 2021 12:32
Gus Idris saat membuat salah satu konten (foto: screenshot YouTube Gus Idris Official)
Gus Idris saat membuat salah satu konten (foto: screenshot YouTube Gus Idris Official)

JATIMTIMES - Masyarakat Indonesia saat ini harus benar-benar bisa menyaring informasi yang beredar melalui media sosial, baik Instagram, YouTube, Facebook atau yang lainnya. Hal itu karena beberapa konten kreator telah meringkuk di balik jeruji besi akibat konten hoaks hingga SARA.

Jika dilihat dari kemudahan mengakses internet pada gawai era saat ini, yang menjadi kekhawatiran adalah anak-anak yang masih bersekolah. Sebab, mereka dapat terpengaruh dengan informasi yang didapat melalui konten YouTube atau yang lain. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membimbing anaknya untuk menggunakan smartphone di era saat ini.

Media ini pun juga tertarik untuk menjadi penyegar diantara media yang telah membuat konten hoaks. Setidaknya, ada referensi yang diperoleh masyarakat agar tidak keliru saat ingin mendapatkan informasi.

Baru-baru ini, beberapa konten kreator ditangkap oleh polisi karena produksi informasi yang diedarkan dianggap meracuni otak masyarakat. Bahkan, beberapa konten yang dibuat telah masuk dalam kategori SARA.

Konten yang saat ini masih menjadi sorotan publik Indonesia yakni salah satu direktur stasiun televisi swasta di Jawa Timur yang ditangkap karena telah membuat konten SARA melalui platform YouTube yang dimilikinya.

Kasus tersebut juga dapat menjadi pelajaran masyarakat bahwa untuk mendapatkan informasi harus benar-benar jeli. Sebab jika tidak, akan banyak sekali miss-informasi yang didapatkan.

Direktur televisi lokal di Jawa Timur itu ditangkap karena dianggap memproduksi konten yang berbau hoaks dan SARA. Sehingga hal itu juga dianggap berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Di sisi lain, ada satu kasus yang cukup menggemparkan publik. Ialah konten hoaks yang diproduksi oleh salah satu orang yang mengaku ulama di Kabupaten Malang. Dia bernama Muh Idrisul Al Marbawy atau yang akrab disapa Gus Idris. Saat ini, pria asal Desa Babadan, Kecamatan Ngajum telah meringkuk di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas 1 Lowokwaru Malang dengan status tahanan titipan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang sejak Kamis (21/10/2021).

Mulanya, kasus video penembakan hoaks itu terjadi pada awal Maret 2021. Waktu itu, korbannya adalah Gus Idris yang ditembak orang tak dikenal melalui mobil yang melewati gerombolan santri. Anehnya dari banyaknya orang yang berjalan itu, hanya Gus Idris yang menjadi korban penembakan. Padahal, di situ juga ada mobil Gus Idris yang terparkir di depannya. Bahkan dari penembakan itu, pimpinan ponpes di Kabupaten Malang itu langsung mengeluarkan darah.

Kasus tersebut pun cepat mencuat karena banyak masyarakat Kabupaten Malang yang merasa dirugikan dengan adanya konten tersebut. Mereka menganggap bahwa mengatasnamakan ulama adalah hal yang salah untuk membuat suatu konten, terlebih konten tersebut mengandung unsur hoaks.

Setelah kasus itu, Gus Idris kembali membuat konten dengan tema pasangan gancet. Video itupun juga menjadi konsentrasi masyarakat karena sebelumnya Gus Idris belum ditahan. Namun video tersebut ternyata telah diberi disclaimer oleh tim Gus Idris. Di situ disebutkan bahwa video itu adalah cerita yang dibuat-buat.

Topik
konten hoaks prabowogus idristingkeban massal

Berita Lainnya

Berita

Terbaru