Refleksi Hari Santri, Ketua Bamusi Kabupaten Malang Sebut Ada Jasa Besar Presiden Jokowi

Oct 22, 2021 19:40
Presiden Joko Widodo, Abah Dur dan Gus Thoriq saat peresmian Hari Santri.(Foto: Istimewa).
Presiden Joko Widodo, Abah Dur dan Gus Thoriq saat peresmian Hari Santri.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, merupakan titik balik di mana kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari peran santri dan kiai. Sedangkan menurut Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Kabupaten Malang, H. Drs. Abdurrachman, Hari Santri Nasional (HSN) merupakan wujud nyata bahwa keberadaan santri dan ulama bagi Bangsa Indonesia sangat dibutuhkan. 

Pria yang juga akrab disapa Abah Dur ini juga mengatakan, ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional setelah adanya penandatanganan Keppres nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo di Masjid Istiqlal Jakarta pada 15 Oktober 2015 lalu. 

"Hari Santri adalah peran besar Presiden Jokowi. Artinya apa, ada jasa besar Pak Jokowi hingga Hari Santri Nasional bisa kita peringati setiap tahunnya. Ini patut kita syukuri dan banggakan," ujar Abah Dur, Jumat (22/10/2021). 

Abah Dur menjelaskan, inisiator Hari Santri Nasional adalah KH.Thoriq Bin Ziyad yang notabene, pernah menjabat sebagai Ketua Bamusi Kabupaten Malang. Sehingga, Bamusi sebagai sayap organisasi PDI Perjuangan, memaknai Hari Santri sebagai satu bentuk semangat untuk membawa negara Indonesia menjadi negara yang kuat berdaulat. 

"Ketika itu saya bertemu dengan Gus Thoriq. Bersama beliau kami kemudian membawa ide Hari Santri ini hingga ke level lebih tinggi. Termasuk bertemu dengan para petinggi partai politik. Dari sini kemudian di tahun 2014, Pak Jokowi beranggapan jika Hari Santri harus diwujudkan. Kemudian di dampingi Ahmad Basarah, Pak Jokowi bersedia memutuskan Hari Santri meski ketika itu banyak menuai pro kontra," terang Abah Dur. 

Selain itu, menurut Abah Dur, KH.Thoriq Bin Ziyad yang juga akrab disapa Gus Thoriq, juga merupakan penggagas Hari Santri. Dan hal tesebut digagas jauh sebelum Pemilihan Presiden (Pipres) 2014 lalu.

"Inisiator Hari Santri itu kan Gus Thoriq. Beliau adalah mantan Ketua Bamusi juga, harus kita hormati dan teladani. Terimakasih Gus Thoriq, terimakasih juga Pak Jokowi. Karena berkat beliau, santri yang dulunya diabaikan kini mulai di perhatikan. Pemerintah kami anggap sudah tepat, karena santri, pesantren dan kyai adalah bagian dari republik ini," tambab Abah Dur yang juga Ketua Yayasan sejumlah lembaga sekolah Islam di Kabupaten Malang.

Abah Dur menegaskan, penetapan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober itu, merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. 

Seruan tersebut yang kemudian berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan.

"Artinya peran santri dan ulama di dunia pesantren ini sangat besar bagi keberadaan negara Indonesia. Santri adalah aset bangsa yang harus kita jaga bersama," pungkas Abah Dur, yang juga menjadi pengasuh Pesantren Roudlotul Falah Malang ini.

Topik
hari santri nasionalAbdurrachmanJokowithoriq bin ziyad

Berita Lainnya

Berita

Terbaru