Wali Kota Sutiaji Apresiasi Warga Tlogomas yang Hasilkan Sayuran melalui Metode Urban Farming

Oct 22, 2021 19:37
Wali Kota Malang Sutiaji saat ditemui di ruangan kerjanya, Jumat (22/10/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji saat ditemui di ruangan kerjanya, Jumat (22/10/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES- Wali Kota Malang Sutiaji kembali memberikan apresiasi kepada warga di wilayah RW 09, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang yang terus berinovasi tanam sayuran menggunakan metode Urban Farming

Di tengah pandemi Covid-19, memang diperlukan terobosan-terobosan salah satunya metode urban farming pada sektor agrikultur atau pertanian. Di mana terobosan tersebut dapat dipraktekkan di tengah keterbatasan akibat Covid-19 dan dapat memotivasi masyarakat agar dapat menggunakan lahan yang sempit secara optimal. 

"Melalui urban farming ini, semoga dapat menjadi kekuatan untuk ketahanan pangan keluarga di Kota Malang," ungkap Sutiaji dalam keterangan resmi yang diterima JatimTIMES.com, Jumat (22/10/2021). 

Pihaknya juga berkomitmen untuk terus mendukung terkait keberadaan dan pengembangan metode urban farming sebagai langkah optimalisasi lahan sempit namun dapat menghasilkan produk sayuran yang berkualitas di wilayah Kota Malang. 

Terlebih lagi, orang nomor satu di Pemerintah Kota (Pemkot) Malang ini menyebut bahwa konsep dan metode urban farmung membuat Kota Malang meraih penghargaan dalam ajang Indonesia Awards 2019. 

Pasalnya, Pemkot Malang dinilai sebagai daerah yang mampu mengembangkan inovasi, serta langkah terobosan dalam strategi pengendalian inflasi, ketahanan pangan serta penanganan stunting melalui program urban farming. 

Praktek urban farming oleh Kurniatun Hairiah.

Konsep atau pun metode urban farming sendiri juga merupakan bagian dari strategi Pemkot Malang agar angka inflasi di Kota Malang dapat terkendali. Hal itu didasarkan pada kajian dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang. 

"Sebab berdasarkan kajian dari TPID kenaikan harga komiditi kenutuhan pokok dapat berpengaruh terhadap angka inflasi Kota Malang, sehingga perlu ada upaya pengendalian inflasi," terang Sutiaji. 

Sementara itu, pegiat urban farming di wilayah RW 09, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang yakni Kurniatun Hairiah mengatakan, dari memanfaatkan lahan yang sempit menggunakan metode urban farming, pihaknya dapat menghasilkan ragam sayuran yang berkualitas. 

Ada berbagai jenis tanaman sayur dan buah yang ditanam dengan memanfaatkan sumber daya lokal sebagai media tanamnya, diantaranya tomat, seledri, pakcoy, pohon turi, kangkung sawi, cabai dan lain-lain.

Media tanam yang digunakan untuk urban farming ini adalah campuran tanah, sekam dan kotoran kelelawar dengan perbandingan 2:4:4. Menurutnya, urban farming mempunyai banyak manfaat salah satunya dari nilai ekologi. 

Terlebih lagi, dengan langkah urban farming, lingkungan perkotaan akan menjadi lebih hijau, di mana hal tersebut menjadikan sebuah wilayah sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni. 

"Efisiensi penggunaan lahan sekitar rumah meningkat tanpa merusak lingkungan justru merestorasi lingkungan. Daur ulang sampah organik menjadi kompos meningkat dan produk yang diperoleh juga sehat," ungkap Kurniatun.

Praktek urban farming oleh Kurniatun Hairiah.

Untuk menghindari over production satu jenis sayur, kata Kurniatun maka pemilihan jenis dan jadwal penanamannya harus diatur untuk tidak serentak untuk semua warga. 

Menurutnya, keanekaragaman jenis sayur yang ditanam warga perlu banyak variasi agar semangat makan sayur tetap terjaga. Terlebih lagi, melalui urban farming lingkungan akan menjadi lebih sehat dan indah. 

"Keluarga pun sehat, dengan kegiatan ini menstimulir warga untuk lebih giat bergerak dengan sinar matahari cukup. Interaksi sosial masyarakat perkotaan juga semakin sehat karena dengan kegiatan ini bersama-sama berkarya dan berbagi dengan tetangga," pungkas Kurniatun.

Topik
SutiajiUrban Farming

Berita Lainnya

Berita

Terbaru