Hari Santri Nasional 2021, Berikut 3 Tokoh Santri Indonesia yang Mendunia karena Karya-karyanya

Oct 22, 2021 16:56
Logo Hari Santri 2021 (Foto: Tribun)
Logo Hari Santri 2021 (Foto: Tribun)

JATIMTIMES - Hari ini, Jumat (22/10/2021) Indonesia telah memperingati Hari Santri Nasional 2021. 

Dan, kalangan santri tak cuma melahirkan banyak pahlawan nasional seperti  pendiri NU KH Hasyim Asyari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Pesantren juga sukses melahirkan tokoh santri yang mendunia karena karya-karyanya. 

Beberapa tokoh santri Indonesia yang karyanya mendunia tersebut di antaranya: 

1. Syekh Ihsan bin Dahlan Jampesi

Dilansir melalui situs Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri, Syekh Ihsan adalah putra pertama dari Kiai Dahlan atau pengasuh Pesantren Jampes. Karya-karyanya hingga kini masih menjadi rujukan bagi kalangan ulama di dunia.

Pria yang memiliki nama kecil Bakri itu dikenal sebagai sosok yang suka berpetualang. Ia bahkan pernah menjadi santri di berbagai pesantren di tanah Jawa. 

Beberapa pesantren yang pernah ia sambangi di antaranya Pesantren Bendo-Pare milik Kiai Khozin atau pamannya sendiri, Pesantren Jamsaren Solo, dan Pesantren Kiai Ahmad Dahlan yang terkenal mumpuni dalam ilmu falak.

Selain itu, ada  Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Gondang Legi, dan Pesantren Demangan Bangkalan asuhan sang guru para ulama, yakni Syaikhona Kholil.

Semasa di pesantren, Syekh Ihsan terkenal sebagai santri jenius, bahkan mampu menguasai ilmu para gurunya. Tak heran jika sampai saat ini, karya-karyanya menjadi rujukan di kalangan ulama dunia, yakni Kitab Sirâj al-Tâlibîn. 

Kitab itu banyak dikaji di pesantren-pesantren, bahkan di Universitas Al Azhar, Mesir. "Hebatnya lagi kitab ini pernah menjadi menu wajib dalam proses pembelajaran di Universitas Al-Azhar. Melalui kitab ini, Syekh Ihsan-Jampes memberi penjelasan 'syarah' terhadap Kitab Minhaj al-Abidîn karya Imâm al-Ghazâlî." bunyi tulisan  IAIN Kediri. 

Tidak sampai di  situ. Pada tahun 1934, Raja Mesir Farouk pernah mengirim utusannya langsung khusus ke Dusun Jampes. Tujuan pengutusan itu yakni untuk meminta Syekh Ihsan mengajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, permintaan itu ditolak dengan halus oleh Syekh Ihsan.

2. KH Idham Chalid

KH Idham Chalid adalah salah satu tokoh ulama sekaligus pahlawan nasional berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 Tanggal 7 November 2011. KH Idham Chalid lahir di Setui, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1922.

Latar belakang pendidikannya dimulai sebagai seorang santri di Madrasah Islam di Pekapuran. Ia lalu melanjutkan pendidikan menengah dan lanjutannya di Pondok Modern Gontor. 

Sebab itu, KH Idham Chalid menjadi lulusan yang cakap berbahasa asing. Peran Idham Chalid di dunia Islam internasional terlihat pada tahun 1965. 

Kala itu, situasi politik internasional mengancam dunia Islam melalui neokolonialisme dan neoimperialisme. Umat Islam di kawasan Asia dan Afrika membentuk suatu solidaritas. 

Mereka mengadakan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA)  di Indonesia, tepatnya di Gedung Merdeka yang kala itu dipimpin KH Idham Chalid. Ia memimpin konferensi tersebut sejak awal hingga berakhir.

Berbekal pengalamannya itu, Idham Chalid  dipercaya sebagai presiden Organisasi Islam Asia Afrika. Ia dipercaya memiliki kepemimpinan dan cakap dalam menyelesaikan permasalahan dunia bagi umat Islam.

"Ketika Konferensi Islam Asia Afrika dimulai pada 7 Maret 1965, KH Idham Chalid terpilih sebagai ketua sidang yang memimpin lajunya sidang KIAA tersebut. Dari Konferensi Islam Asia Afrika ini membuat KH Idham Chalid terpilih menjadi Presiden Organisasi Islam Asia Afrika," tulis situs resmi LTNNU Jawa Barat.

3. KH Abdul Ghofur Maimoen

Tak lengkap rasanya Hari Santri Nasional 2021 tanpa menyebutkan sosok Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen yang kerap disapa Gus Ghofur. Gus Ghofur adalah putra almarhum kiai dari Rembang, Jawa Tengah KHMaimoen Zubair. 

Gus Ghofur merupakan nama yang cukup populer di kalangan pegiat tafsir Indonesia. Kiai kelahiran 16 Maret 1973 itu menuntaskan pendidikan dasar hingga menengahnya sebagai santri di Madrasah Ghazaliyah Syafi'iyyah (MGS). 

Semasa belajar, sosoknya dikenal sebagai anak yang cerdas, kritis, bahkan dipercaya dalam memegang jabatan-jabatan besar di sana.

"Tidak hanya urusan pelajaran, di bidang organisasi prestasinya cukup mengilap. Selama dua periode berturut-turut KH Abdul Ghofur dipercaya sebagai ketua DEMU (Dewan Murid) yaitu semacam OSIS di sekolah-sekolah formal," tulis situs resmi Pondok Pesantren Al-Anwar 3.

Kemudian, Gus Ghofur yang juga sempat menjadi ketua Sekolah Tinggi Al Anwar (STAI) Sarang Rembang itu lalu melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pada 1993. Hal ini adalah hal baru dalam tradisi pendidikan putra-putri KH Maimoen Zubair.

Di sana, Gus Ghofur mengharumkan nama baik Indonesia. Bahkan menambah deretan peraih gelar doktor di bidang ilmu tafsir selama berkuliah di Mesir. 

Disertasinya bahkan berhasil meraih hasil akhir excellent the first atau summa cumlaude. Tak cuma itu, Gus Ghofur beberapa kali dipercaya untuk mengisi acara internasional di Maroko, Australia, Malaysia, dan Belanda mewakili Indonesia. 

Tak heran, bila Gus Ghofur menjadi salah satu tokoh muda yang dapat dijadikan inspirasi bangsa.

Topik
Santri menduniahari santri nasionalPolitikus Golkar Misbakhun

Berita Lainnya

Berita

Terbaru