Wasekjen PBNU Beber 5 War yang Harus Dimenangkan

Oct 13, 2021 20:04
Wakil Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Pituduh (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Wakil Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Pituduh (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Wakil Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU) KH Imam Pituduh menyampaikan lima tantangan besar yang akan dihadapi generasi Nahdlatul Ulama (NU) ke depan. Hal itu disampaikannya dalam pra Memorandum of Understanding (MoU) NU, Danone, Telkom dan BNI dengan Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (13/10/2021). 

Dijelaskannya, lima hal tersebut merupakan hal yang harus dikalahkan dan harus dimenangkan untuk membuat bangsa ini kian maju dan tidak tergerus dengan bangsa lainnya. Lima hal tersebut yakni, pop culture war, digital war, currency war, biological warfare, dan food water and energy war.

"Pop culture war, dari kecil semua sudah menikmati itu. Dari bangun sampai tidur, hal itu menyerang. Kita lihat K-Pop dan yang lainnya, bisa dari dimensi musik, film. Pop culture war bisa berbahaya mempengaruhi arah pemikiran bangsa," tuturnya.

Digital War, dijelaskan Imam yang juga merupakan alumni Unisma ini, jika saat ini dalam perkembangan, Indonesia masih sedikit tertinggal. Disaat bangsa lainnya mulai memasuki bahkan telah mengenal dan kental dengan era 5.0, saat ini bangsa ini masih membahas era 4.0.

"Karena itulah harus dikejar. Teman-teman masih bicara 4.0, padahal sudah 5.0. Kemudian, siapa pemilik konten terbanyak, dia yang akan memenangkan digital. Ini gak main-main. Bangun tidur yang dicari Hp, semua tergantung siapa yang mengisis kontennya," terangnya.

Lebih lanjut Imam menjelaskan, poin selanjutnya adalah Currency War. Genderang perang ini saat ini sudah ditabuh. Dunia tak akan lagi memakai uang konvensional, bukan lagi bitcoin ataupun crypto, akan tetapi mata uang global. Karena itu, jika Indonesia tak siap maka, currency bangsa ini akan tercabik-cabik.

Selanjutnya  adalah Biological War, saat ini hal tersebut kian nampak dengan vaksin, virus maupun antivirus. Melihat hal itu, saat ini Industri kesehatan menjadi panglima. Kemudian, yang terakhir adalah Food Water and Energy War. Pada 2025 diprediksi terdapat sebuah krisis. Karenanya, dalam upaya melawan era saat ini tak bisa sendiri. Perlu sinergitas dan kolaborasi bersama seluruh pihak. 

"Kita ingin bangun ekosistem digital masyarakat yang ramah lingkungan. Kenapa mulainya dari perguruan tinggi, karena perguruan tinggi merupakan agent of change. Dan saya yakin, di Unisma bisa memenangkan itu," tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, kenapa di Unisma, sebab pendidikan di Unisma mengarah pendidikan yang kreatif. Pendidikan di Unisma sangat komprehensif. Sehingga, dari situ optimisme ada.

"Dengan optimisme negara kita bangkit. Jika tidak ada itu, tentu sebaliknya," pungkasnya.

Topik
lima perang indonesiasdm berkualitas kota kediriunisma malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru